FERDINAND HUTAHAEAN DAN KESALAHAN UCAPAN “ALLAHMU”

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Mataram – “Penggunaan kata “allah” dengan huruf kecil, sebagai kata benda umum, secara gramatikal, tidak bisa dibenarkan. Sebab, kata “al” yang mendahului kata ‘Allah’ adalah “lam ta’rif”, yang sudah menunjuk kepada satu-satunya Ilah yang sebenarnya. Demikian juga, lanjutnya, menempatkan kata milik ku, mu, mereka, di belakang kata ‘Allah’ juga salah. Seperti kata the wife bila digabung dengan my, maka ‘the’ harus hilang sehingga menjadi my wife. Oleh karena itu, yang benar adalah Ilahku, Ilah kita, Ilah mereka; bukan Allahku, Allah kita, dan Allah mereka. (Bambang Noorsena, tokoh Kristen Ortodoks Syria).


Ungkapan 'Allahmu ternyata lemah'  dari Ferdinand Hutahaean di twitternya akhirnya menjadi masalah besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia harus berurusan dengan hukum.  Ia dilaporkan ke polisi, karena diduga telah melakukan penistaan agama. 

 Ungkapan lebih lengkapnya begini: "Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah, harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, Dialah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela." 
 Gara-gara itu, Ferdinand Hutahaean dilaporkan ke polisi. Cuitan ini sempat viral di media sosial. Dalam cuitannya, Ferdinand Hutahaean menyebut 'Allahmu ternyata lemah'. Cuitan itu diunggah pada Selasa (4/1/2022). Namun, saat ini, cuitan itu sudah dihapus. (www.detik.com).
Artikel ini hanya akan menyoroti soal kekeliruan ucapan “Allahmu” dan “Allahku” yang dilakukan oleh Ferdinand dan juga biasa dilakukan oleh kaum Kristen di Indonesia. Kritik penggunaan ungkapan itu telah disampaikan oleh kalangan internal kaum Kristen sendiri. Itu termasuk dalam cakupan kerumitan penyebutan untuk Tuhan dalam agama Kristen di Indonesia. 

Dalam agama Kristen, tidak ada penyebutan nama Tuhan yang pasti. Ini mengikuti tradisi Yahudi yang menyebut Tuhan sebagai “Adonai” (Tuhanku). Sebab kaum Yahudi tidak mau berspekulasi dalam menyebut nama Tuhan “YHWH”, sebagaimana diperintahkan dalam perintah ketiga dalam Sepuluh Perintah Moses. 

Karena itu, bagi kaum Kristen, “Allah” bukan nama Tuhan, tetapi salah satu sebutan untuk Tuhan. Hal ini berbeda dengan ajaran Islam, bahwa Allah adalah nama Tuhan yang resmi disebutkan dalam al-Quran. Karena itu, orang muslim menyebut Allah saja; bukan Allahku, Allahmu, seperti yang diucapkan Ferdinand. 
Dalam terjemahan Bibel versi Lembaga Alkitab Indonesia, ada beberapa kata yang digunakan untuk menyebut “Tuhan”, seperti kata  ‘Allah’, allah, ilah, Tuhan, dan tuhan. 

Kita simak dua naskah teks Bibel (LAI, tahun 2007) berikut ini (perhatikan penggunaan huruf kecil dan kapital): “Sebab TUHAN, Allahmulah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun menerima suap.” (Ulangan 10:17).
“Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain daripada Allah yang esa. Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga maupun di bumi – dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Korintus 8:4-6).


Di Indonesia, sejumlah kelompok Kristen sudah menolak penggunaan kata “Allah”. Ada Bibel terjemahan dalam bahasa Indonesia yang sudah tidak lagi menggunakan kata “Allah”. Namanya: “KITAB SUCI: Indonesian Literal Translation”. Misalnya, Ulangan 10:17 ditulis sebagai berikut: “Sebab YAHWEH, Elohimmu, Dialah Elohim atas segala ilah dan Tuhan atas segala tuan. Elohim yang besar, yang perkasa dan yang ditakuti, yang tidak memandang muka, juga tidak menerima suap.”
Dalam 1 Korintus 8:4-6, LAI menggunakan ungkapan: “dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja.”
Sedangkan versi KITAB SUCI: Indonesian Literal Translation menulis ayat itu sebagai berikut: “sebagaimana memang ada banyak ilah dan banyak tuhan, tetapi bagi kita, ada satu Elohim…”.


Tokoh Kristen Ortodoks Syria, Bambang Noorsena, dalam bukunya “The History of Allah” (Yogyakarta: PBMR Andi, 2005), menolak pelarangan penggunaan kata Allah bagi kaum Kristen.  Akan tetapi, Bambang juga mengkritik penggunaan kata “Allah” yang keliru di beberapa bagian dalam terjemahan Bibel versi LAI. Misalnya, penulisan teks berikut ini: “Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20: 1-3, teks LAI, 2007). 

Tentang hal ini, Bambang Noorsena menulis: “Agaknya, kalangan umat Kristen di Indonesia kurang menyadari fakta bahwa sebutan Allah bukanlah kata benda umum. Pada umumnya, mereka menyamakan sebutan Allah dengan kata god dalam bahasa Inggris yang bisa dimaknai tunggal (apabila ditulis dengan “G” besar, God) atau makna ilah-ilah lain (bila ditulis dengan “g” kecil, god) atau dijamakkan (gods). Kecenderungan ini telah membuat pemaknaan kata Allah dalam bahasa Indonesia umat Kristen terasa janggal dan asing di telinga sebagian besar pemakai bahasa Indonesia yang mayoritas berlatarbelakang Muslim. Bahkan ada penulis Muslim yang mengeluh penggunaan sebutan Allah di lingkungan Kristen sebagai kata benda umum tersebut dangat menghina dan menyakiti hati mereka.” (hal. 40). 

Menurut Bambang Noorsena, penggunaan kata “allah” dengan huruf kecil, sebagai kata benda umum, secara gramatikal, tidak bisa dibenarkan. Sebab, kata “al” yang mendahului kata ‘Allah’ adalah “lam ta’rif”, yang sudah menunjuk kepada satu-satunya Ilah yang sebenarnya. Demikian juga, lanjutnya, menempatkan kata milik ku, mu, mereka, di belakang kata ‘Allah’ juga salah. Seperti kata the wife bila digabung dengan my, maka ‘the’ harus hilang sehingga menjadi my wife. Oleh karena itu, yang benar adalah Ilahku, Ilah kita, Ilah mereka; bukan Allahku, Allah kita, dan Allah mereka. Demikian kritik Bambang Noorsena. (hal. 40-41).


Dalam pandangan Islam, Allah adalah Tuhan yang SATU, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. (QS 112). Jadi, Allah adalah nama Tuhan yang resmi disebutkan dalam Kitab Suci Al-Quran, yang merupakan wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi terakhir. 
Karena Islam memiliki tradisi sanad dalam bacaan al-Quran, maka kaum muslim di seluruh dunia, tidak berselisih paham atau berspekulasi dalam menyebut nama Tuhan. Sebab, cara membaca kata “Allah”, sudah dilestarikan dalam bentuk sanad yang bersambung sampai Nabi Muhammad saw. Karena itu, dimana saja, dan kapan saja, umat Islam menyebut nama Tuhannya: Allah. Cara bacanya pun sama. Wallahu ‘lam bish-shawab. (Mataram, 7 Januari 2022).(SS/Humas DDII Jatim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *