Tiga Santri eLKISI Diterima Bupati Lamongan, Siap Mengabdi dan Berdakwah di Daerah Bencana NTT

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, LAMONGAN — Tiga santri Pondok Pesantren eLKISI mendapat kesempatan beraudiensi dengan Bupati Lamongan, Dr. H. Yuhronur Efendi, M.B.A., M.Ek., dalam rangka menyampaikan program dakwah dan pengabdian masyarakat yang akan dilaksanakan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di wilayah terdampak bencana.

Ketiga santri tersebut adalah Bahy Althof Mujahidin, Muhammad Nuh, dan Ghazi Agha Attaqi. Mereka menjadi perwakilan dalam rangkaian sosialisasi dan persiapan Program Pengabdian Masyarakat eLKISI yang tahun ini akan mengirimkan puluhan santri untuk menjalankan tugas dakwah dan pengabdian di tengah masyarakat.

Audiensi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun dukungan bersama terhadap program pengabdian yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dakwah bagi para kader muda. Tahun ini, eLKISI merencanakan pemberangkatan 63 santri untuk menjalankan tugas pengabdian masyarakat di NTT, khususnya di daerah-daerah yang membutuhkan perhatian pascabencana.

Program pengabdian tersebut akan dilaksanakan dalam dua gelombang. Gelombang pertama dijadwalkan berlangsung pada periode Oktober hingga Desember, sedangkan gelombang kedua akan dilaksanakan pada periode Januari hingga Maret. Masing-masing peserta akan menjalani masa pengabdian selama kurang lebih tiga bulan.

Bagi para santri, program tersebut bukan sekadar perjalanan keluar dari lingkungan pesantren. Mereka akan memasuki ruang dakwah yang sesungguhnya, yaitu kehidupan masyarakat. Di tengah masyarakat, seorang dai tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pesan melalui lisan, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat melalui sikap, pelayanan, dan kepedulian.

Dalam audiensi yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Bupati Lamongan memberikan sejumlah pesan kepada ketiga santri sebagai bekal dalam menjalankan tugas pengabdian. Ia berpesan agar para santri menjalankan amanah tersebut dengan penuh keikhlasan.

“Kerjakan tugas-tugas dengan ikhlas,” pesannya.

Ia juga meminta para santri agar memanfaatkan masa pengabdian sebagai kesempatan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya.

“Cari pengalaman sebanyak-banyaknya di sana,” ujarnya.

Bupati Lamongan turut mengingatkan pentingnya menjaga nama baik lembaga yang telah memberikan kepercayaan kepada para santri.

“Jaga nama Ponpes yang memberangkatkan,” katanya.

Selain itu, para santri diminta untuk mampu memanfaatkan setiap kesempatan yang ditemui selama menjalankan tugas.

“Manfaatkan peluang apa pun dengan sebaik-baiknya,” lanjutnya.

Di atas seluruh ikhtiar tersebut, Bupati juga mengingatkan agar para santri senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

“Selalu minta tolong kepada Allah SWT,” pesannya.

Ia juga mendorong para santri agar selama menjalankan tugas pengabdian mampu membangun jaringan dan hubungan baik dengan masyarakat.

“Usahakan bisa membuat komunitas warga Lamongan di tempat pengabdian,” ujarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat dakwah yang tidak berhenti pada kegiatan sesaat. Dakwah membutuhkan kesinambungan, hubungan yang kuat dengan masyarakat, serta kemampuan untuk menumbuhkan jaringan kebaikan.

Ketiga santri yang beraudiensi dengan Bupati Lamongan tersebut menjadi bagian dari langkah awal persiapan program pengabdian yang lebih besar. Bahy Althof Mujahidin, Muhammad Nuh, dan Ghazi Agha Attaqi membawa semangat generasi muda yang tidak hanya belajar di lingkungan pesantren, tetapi juga dipersiapkan untuk mengenal langsung persoalan umat.

Melalui Program Pengabdian Masyarakat, 63 santri eLKISI akan mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung di tengah masyarakat. Tahun ini, kesempatan tersebut membawa mereka menuju NTT, khususnya ke daerah terdampak bencana.

Di tempat itulah mereka akan belajar bahwa dakwah bukan hanya tentang kemampuan berbicara. Dakwah juga tentang hadir ketika umat membutuhkan, mendengarkan persoalan masyarakat, membantu sesuai kemampuan, serta menanamkan nilai-nilai Islam melalui keteladanan dan pengabdian.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses kaderisasi generasi dai muda. Para santri tidak hanya dipersiapkan untuk memiliki kemampuan keilmuan dan pemahaman agama, tetapi juga kepekaan terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.

Dari Lamongan, langkah itu kini mulai dipersiapkan.

Tiga santri telah menyampaikan program pengabdian tersebut melalui audiensi dengan Bupati Lamongan. Selanjutnya, 63 santri eLKISI bersiap menjalankan perjalanan dakwah dan pengabdian selama tiga bulan di NTT.

Sebuah perjalanan yang mungkin akan membawa mereka jauh dari pesantren, tetapi justru mendekatkan mereka kepada hakikat dakwah itu sendiri:

hadir di tengah umat, memahami persoalan mereka, dan berusaha memberi manfaat.

Admin: Biro Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *