Abah Setu Kena Batunya: Maunya Hina Nabi Muhammad Berujung Dilaporkan ke Aparat

Oleh Sudono Syueb, Biro Kominfo Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pernyataan Abah Setu, Asep Setiawan, pimpinan Majelis Dzikir Nurul Hikam Bekasi, yang menyebut Nabi Muhammad SAW tidak bisa menolong dirinya sendiri saat dilempari batu atau diracun telah memicu kegaduhan luas dan dinilai menyinggung syariat Islam.
Meskipun Abah Setu telah resmi meminta maaf dan mengakui kekeliruannya di Polres Metro Bekasi, pernyataan semacam itu secara teologis perlu diluruskan agar tidak menyesatkan pemahaman umat.

Berikut adalah poin-poin respon objektif dan ilmiah untuk menyanggah narasi tersebut:

  1. Sifat Kemanusiaan Nabi (Basyariyyah) Bukanlah Kelemahan

Secara akidah, Nabi Muhammad SAW memang memiliki sifat basyariyyah (kemanusiaan), seperti bisa terluka, sakit, lapar, dan wafat.
Mengalami luka saat dilempari batu di Thaif atau efek racun dari makanan di Khaibar adalah bukti nyata bahwa Nabi adalah manusia seutuhnya, bukan penjelmaan Tuhan.

Sifat ini justru menjadi teladan (keberanian dan kesabaran) bagi umat manusia bahwa perjuangan menegakkan kebenaran membutuhkan pengorbanan fisik.

  1. Pertolongan Allah yang Nyata (Mukjizat)

Menyatakan Nabi tidak bisa menolong diri sendiri adalah bentuk pengabaian terhadap jaminan perlindungan (‘Ishmah) dan mukjizat yang diberikan Allah SWT kepadanya. Banyak momentum sejarah membuktikan sebaliknya:

Peristiwa Hijrah: Saat rumah Nabi dikepung pemuda Quraisy yang siap membunuhnya, Allah menidurkan mereka dan Nabi bisa keluar dengan selamat.
Kisah di Gua Tsur: Ketika Abu Bakar ketakutan karena kaum Quraisy berada tepat di depan gua, Nabi dengan tenang menenangkan, “Jangan berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).

Kasus Racun Khaibar: Melalui mukjizat, daging kambing yang beracun tersebut “berbicara” atas izin Allah untuk memberi tahu Nabi bahwa ia mengandung racun. Meski Nabi sempat mengunyah sedikit yang menjadi sebab kesehatannya menurun di akhir hayat, beliau tidak langsung wafat seketika dan berhasil menggagalkan konspirasi pembunuhan tersebut.

  1. Salah Paham Mengenai Konsep Syafaat

Dalam potongan video tersebut, argumen “tidak bisa menolong diri sendiri” digunakan untuk meragukan syafaat Nabi. Ini adalah kekeliruan fatal.

Syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat (Syafaatul Uzhma) adalah hak khusus yang diberikan oleh Allah SWT kepada beliau untuk menolong umatnya.
Kemampuan memberikan syafaat tidak diukur dari apakah fisik Nabi di dunia kebal terhadap batu atau racun, melainkan dari kedudukan mulia (Maqam Mahmud) yang Allah berikan di akhirat kelak.

Kesimpulan


Pernyataan yang merendahkan fisik atau otoritas kenabian merupakan4 bentuk kekeliruan pemahaman agama yang serius. Kendati proses klarifikasi dan permohonan maaf dari Abah Setu sudah dilakukan secara terbuka, Polres Metro Bekasi menegaskan bahwa proses hukum terhadap laporan dugaan penistaan agama ini akan tetap berjalan demi menjaga kondusivitas masyarakat.

Foto: Abah Setu duduk tengah topi lorek

Admin: Biro Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *