NU Abad Kedua: Diperlukan Kompetensi Da’wah Digital dan Kemandirian Ekonomi Umat

Oleh Sudono Syueb, Biro Kominfo Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Buku NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan (Sebuah Otokritik) merupakan karya monumental dari KH. Imam Jazuli, Lc., MA (Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon). Ditulis dengan gaya yang lugas, tajam, dan penuh keterbukaan (das-des), buku ini hadir sebagai refleksi strategis sekaligus “jeweran sayang” bagi Nahdlatul Ulama yang kini tengah melangkah di abad keduanya.

Identitas Buku (Informasi Utama)

Judul: NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan (Sebuah Otokritik)
Penulis: KH. Imam Jazuli, Lc., MA

Inti Pembahasan: Peta jalan (blueprint) transformasi struktural, kultural, dakwah digital, dan kemandirian ekonomi NU di abad kedua.

Gagasan Utama & Pembahasan Komprehensif

Buku ini dibagi ke dalam beberapa pilar gagasan penting yang menantang kemapanan berpikir warga Nahdliyin:

  1. Otokritik Konstruktif bagi Jam’iyah

Kiai Imam Jazuli secara berani memotret realitas internal NU. Ia mengingatkan agar NU tidak terjebak dalam romantisme sejarah atau sekadar menjadi penonton di tengah cepatnya perubahan zaman. Buku ini menggugat pola kepemimpinan dan manajemen organisasi agar lebih profesional, transparan, dan berdampak langsung ke struktur paling bawah (tingkat Ranting).

  1. Revitalisasi Format Dakwah: Melahirkan “Ulama Digital”

Salah satu poin paling krusial dalam buku ini adalah sorotan terhadap kesenjangan digital. Kiai Imam Jazuli menekankan bahwa di abad modern, panggung dakwah telah bergeser ke layar gawai.

Tantangan: Konten keislaman moderat yang ramah sering kali kalah cepat dan kalah populer dengan narasi ekstrem di ruang siber.
Solusi: NU wajib melakukan transformasi dakwah secara masif dengan mencetak ulama-ulama digital yang fasih menggunakan teknologi literasi siber tanpa kehilangan substansi keilmuan pesantren tradisional.

  1. Kemandirian Ekonomi Umat

Kiai Imam Jazuli mendorong agar NU kembali pada Khittah kemandirian ekonomi. NU tidak boleh terus-menerus bergantung pada patronase atau belas kasihan kekuasaan politik. Buku ini menawarkan gagasan konkret mengenai pengelolaan aset umat dan optimalisasi potensi ekonomi warga Nahdliyin agar NU menjadi organisasi yang berdaulat secara finansial.

  1. Pembenahan Relasi NU dan Politik (PKB)

Penulis juga menyoroti dinamika hubungan antara NU dan partai politik, khususnya PKB. Ia menegaskan pentingnya menempatkan porsi hubungan ini secara proporsional agar NU tetap berada pada jalurnya sebagai pelayan umat (khadimul ummah), bukan sekadar alat politik praktis.

Analisis Kelebihan & Kekurangan

Aspek: Gaya Bahasa

Kelebihannya: Ditulis dengan gaya otokritik das-des yang jujur, berani, tanpa tedeng aling-aling, namun tetap didasari rasa cinta pada NU.

Catatatan: Kritikannya yang sangat tajam berpotensi memicu resistensi atau perdebatan hangat di kalangan internal struktural yang konservatif.

Aspek Aplikatif

Kelebihannya: Tidak sekadar berisi keluhan, buku ini menawarkan jalan keluar dan cetak biru (blueprint) aksi nyata.

Catatan: Implementasi ide besarnya membutuhkan kemauan politik (political will) yang kuat dari para pemegang kebijakan di PBNU.

Aspek Relevansi

Kelebihannya: Sangat kontekstual dengan tantangan global, disrupsi digital, dan menyambut Indonesia Emas 2045.

Catatan: Istilah sosiologis-organisatoris yang digunakan cukup padat, sehingga membutuhkan konsentrasi lebih bagi pembaca awam.

Kesimpulan

Buku NU Abad Kedua karya KH. Imam Jazuli adalah bacaan wajib bagi para pengurus NU, akademisi, santri, dan siapa saja yang peduli pada masa depan Islam moderat di Indonesia. Lewat buku ini, penulis berhasil menegaskan pesan utama: Tradisi harus tetap dijaga, tetapi visi, strategi, dan cara kerja organisasi wajib diperbarui total agar NU tidak tergilas oleh roda zaman.

Foto: rejogja.republika.co.id

Admin: Biro Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *