Refleksi Epistemologi Qurani tentang Asal-Usul Keruwetan Hidup Manusia
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Manusia adalah makhluk yang unik. Ia dapat berdiri di bawah matahari yang terang benderang, tetapi perhatiannya justru tertuju pada bayang-bayang yang berada di bawah kakinya. Ia dapat hidup di tengah lautan nikmat, tetapi pikirannya dipenuhi oleh kekurangan yang belum dimilikinya. Ia dapat dikelilingi oleh karunia yang tak terhitung jumlahnya, tetapi tetap merasa bahwa hidup tidak cukup adil baginya. Inilah salah satu paradoks terbesar dalam kehidupan manusia: semakin banyak nikmat yang diterima, tidak selalu semakin besar rasa syukurnya. Bahkan tidak jarang, semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang dikeluhkan.
Dalam perspektif Epistemologi Qurani, persoalan ini tidak dapat dijelaskan hanya sebagai masalah moral atau spiritual. Ia berakar pada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu cara manusia memahami realitas. Banyak penderitaan yang sesungguhnya bukan lahir dari kenyataan objektif, melainkan dari konstruksi mental yang dibangun manusia terhadap kenyataan tersebut. Dengan kata lain, manusia sering kali tidak hidup di dalam realitas yang sebenarnya, tetapi hidup di dalam interpretasinya terhadap realitas.
Al-Qur’an berkali-kali mengarahkan perhatian manusia kepada langit, bumi, lautan, tumbuh-tumbuhan, hewan, pergantian siang dan malam, serta penciptaan dirinya sendiri. Semua itu diperlihatkan sebagai tanda-tanda dan nikmat. Artinya, realitas yang Allah hamparkan pada dasarnya adalah realitas yang penuh karunia. Namun mengapa manusia justru lebih sering merasakan kekurangan daripada kelimpahan?
Jawabannya mungkin terletak pada kecenderungan manusia untuk menghitung bayangan dan melupakan matahari. Bayangan adalah segala sesuatu yang tidak dimiliki, tidak tercapai, atau tidak sesuai dengan harapan. Matahari adalah seluruh nikmat yang telah Allah anugerahkan. Ketika perhatian manusia lebih tertuju pada bayangan daripada matahari, maka kehidupan akan tampak gelap meskipun sumber cahaya berada tepat di atas kepalanya.
Fenomena inilah yang tampaknya menjadi salah satu pesan utama Surat Ar-Rahman. Di dalam surat tersebut Allah mengulang pertanyaan yang sama sebanyak tiga puluh satu kali:
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Pengulangan ini mengandung makna epistemologis yang sangat dalam. Allah tidak sedang menambah informasi baru. Allah sedang mengoreksi cara manusia melihat. Sebab masalah terbesar manusia bukanlah kurangnya bukti tentang nikmat Allah, melainkan kegagalannya memperhatikan bukti tersebut. Oleh karena itu, setelah menyebut satu demi satu karunia-Nya, Allah kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Bukan sekali, tetapi tiga puluh satu kali.
Seolah-olah Allah sedang menunjukkan bahwa akar banyak persoalan manusia bukan terletak pada dunia yang terlalu keras, melainkan pada kesadaran yang terlalu sempit. Manusia begitu mudah mengingat satu masalah dan begitu mudah melupakan seribu nikmat. Ia begitu tekun menghitung apa yang hilang, tetapi malas menghitung apa yang masih dimiliki. Akibatnya, peta realitas yang terbentuk di dalam pikirannya menjadi tidak proporsional.
Dari sinilah banyak keruwetan hidup bermula. Ketika perhatian lebih banyak diberikan kepada kekurangan daripada nikmat, lahirlah ketidakpuasan. Ketika ketidakpuasan terus dipelihara, lahirlah keserakahan. Ketika keserakahan tumbuh, lahirlah persaingan yang tidak sehat. Ketika persaingan membesar, lahirlah konflik dan kerusakan. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebagian besar keruwetan hidup manusia berawal dari kesalahan sederhana tetapi mendasar: ia terlalu sibuk menghitung bayangan hingga lupa melihat matahari.
Barangkali karena itulah Allah mengulang pertanyaan yang sama sebanyak tiga puluh satu kali. Sebab manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melupakan nikmat dan kemampuan yang sama luar biasanya untuk membesar-besarkan kekurangan. Dan selama kecenderungan itu tidak diperbaiki, manusia akan terus merasa miskin di tengah kekayaan, merasa sempit di tengah keluasan, dan merasa sengsara di tengah limpahan rahmat.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang diajukan Surat Ar-Rahman bukanlah berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan. Pertanyaan yang sesungguhnya jauh lebih mendasar adalah: mengapa manusia begitu sulit melihatnya? Sebab ketika mata hati kembali menemukan mataharinya, banyak bayangan yang selama ini tampak menakutkan ternyata hanyalah bayangan. Dan ketika itu terjadi, manusia akan menyadari bahwa sebagian besar keruwetan hidupnya bukan berasal dari kurangnya nikmat Allah, melainkan dari cara pandangnya sendiri terhadap nikmat tersebut.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
