Mengapa Islam Memulai Sejarah dari Hijrah?

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaysla – Ada sesuatu yang sangat menarik dalam cara Islam memandang sejarah. Jika ukuran terpenting sebuah peradaban adalah lahirnya ide besar, maka seharusnya kalender Islam dimulai dari turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Jika ukuran terpenting adalah lahirnya seorang tokoh agung, maka seharusnya dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Jika ukuran terpenting adalah kemenangan, maka Perang Badar jauh lebih layak dijadikan titik awal sejarah Islam.

Namun tidak satu pun dari itu yang dipilih.

Islam justru memulai sejarahnya dari Hijrah.

Pilihan ini bukan sekadar keputusan administratif pada masa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ia menyimpan pesan yang sangat dalam tentang bagaimana Al-Qur’an memandang manusia dan kehidupan. Sebab dalam perspektif wahyu, persoalan terbesar manusia bukanlah ketiadaan kebenaran, melainkan kegagalan merespons kebenaran yang telah hadir.

Inilah tema yang sesungguhnya berulang dalam seluruh narasi Al-Qur’an.

Iblis bukan makhluk yang tidak mengetahui Allah. Ia mengetahui, berbicara langsung, bahkan bersumpah atas nama-Nya. Fir’aun bukan tidak mengenal kebenaran Musa. Al-Qur’an menjelaskan bahwa mereka meyakininya dalam hati mereka. Bani Israil bukan tidak mengenali para nabi. Mereka mengenalnya sebagaimana mengenali anak-anak mereka sendiri. Kaum Quraisy pun bukan tidak mengetahui kejujuran Muhammad ﷺ. Mereka menyebut beliau Al-Amin jauh sebelum kenabian.

Masalah mereka bukan pada pengetahuan.

Masalah mereka berada pada titik yang lebih dalam.

Mereka mengetahui kebenaran, tetapi tidak bersedia bergerak mengikuti konsekuensi kebenaran tersebut.

Karena itu, jika seluruh Seri Epistemologi Qur’ani diringkas dalam satu kalimat, mungkin kalimat itu adalah: manusia sering gagal bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau tunduk.

Di sinilah makna Hijrah menjadi sangat penting.

Selama tiga belas tahun di Makkah, wahyu turun membangun cara berpikir manusia. Tauhid ditanamkan. Akidah diluruskan. Cara membaca realitas diperbaiki. Standar kebenaran ditegakkan. Dengan bahasa Seri Epistemologi Qur’ani, fase Makkah adalah fase pembentukan epistemologi wahyu. Manusia diajarkan bagaimana membaca, memahami, dan menilai kehidupan dengan petunjuk Allah.

Namun setelah semua itu selesai, muncul pertanyaan yang lebih menentukan:

Apa yang terjadi ketika kebenaran telah jelas?

Jawaban atas pertanyaan inilah yang bernama Hijrah.

Hijrah adalah momen ketika kebenaran tidak lagi berhenti sebagai pengetahuan. Ia berubah menjadi keputusan hidup. Ia menuntut pengorbanan. Ia menuntut keberanian meninggalkan zona nyaman. Ia menuntut kesediaan melepaskan rumah, harta, kedudukan, bahkan seluruh identitas lama demi mempertahankan apa yang telah diyakini benar.

Karena itu Hijrah sesungguhnya bukan peristiwa geografis.

Hijrah adalah peristiwa epistemologis.

Ia adalah titik ketika pengetahuan berubah menjadi arah hidup.

Titik ketika iman berubah menjadi komitmen.

Titik ketika kebenaran mulai menuntut harga yang harus dibayar.

Mungkin karena itulah Islam tidak memulai sejarahnya dari turunnya wahyu.

Sebab wahyu adalah awal dikenalnya kebenaran.

Sedangkan Hijrah adalah awal dijalaninya kebenaran.

Dan dalam perspektif Al-Qur’an, nilai manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia ketahui, tetapi oleh apa yang ia lakukan terhadap apa yang telah ia ketahui.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahwa hakikat hijrah adalah hijrah hati menuju Allah dan Rasul-Nya sebelum hijrah badan menuju suatu tempat. Sebab perpindahan fisik hanyalah manifestasi dari perpindahan orientasi yang lebih dalam. Ketika hati telah berhijrah kepada Allah, seluruh kehidupan akan mengikuti arah yang sama.

Di sinilah Muharram menjadi sangat relevan bagi setiap Muslim.

Tahun baru Hijriyah bukan sekadar momentum menghitung umur yang bertambah atau target yang belum tercapai. Muharram mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan lebih jujur:

Apakah kebenaran yang selama ini kita pelajari benar-benar telah mengubah arah hidup kita?

Sebab seseorang bisa membaca banyak buku, mengikuti banyak kajian, menghafal banyak dalil, dan memahami banyak teori. Namun jika seluruh pengetahuan itu tidak mengubah cara ia hidup, maka ia masih berada di Makkah pengetahuan dan belum memasuki Madinah perubahan.

Ia telah mengetahui, tetapi belum berhijrah.

Maka mungkin inilah pelajaran terbesar dari 1 Muharram.

Bahwa kebenaran tidak diturunkan untuk memenuhi ruang-ruang diskusi.

Kebenaran diturunkan untuk mengubah arah perjalanan manusia.

Dan karena itulah Islam memulai sejarahnya dari Hijrah.

Sebab dalam pandangan wahyu, yang paling menentukan bukan seberapa banyak kebenaran yang kita ketahui, melainkan seberapa jauh kita bersedia berjalan bersama kebenaran itu.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *