KH. Dr. Fathur Rohman: Dari Haflah Ied Ngabar, Dakwah Harus Naik Kelas Jadi Gerakan Strategis

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Pengurus DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Ponorogo — Di tengah hangatnya suasana Haflah Ied 1447 H di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, satu pesan mengemuka dengan tegas: dakwah tidak boleh berjalan biasa-biasa saja. Pesan itu disampaikan oleh Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I, Ketua Dewan Da’wah Provinsi Jawa Timur.

Dengan nada tenang namun sarat tekanan makna, beliau membuka sambutannya dengan permohonan maaf atas tertundanya pelaksanaan Haflah Ied, lantaran agenda dakwah di Mesir selama kurang lebih dua pekan. Namun lebih dari itu, yang beliau hadirkan bukan sekadar sambutan formal, melainkan arah gerakan.

Dakwah Tidak Bisa Sendiri

KH. Fathur Rohman menegaskan sebuah realitas yang sering diabaikan: bahwa dakwah hari ini tidak mungkin dijalankan secara parsial.

“Dewan Da’wah tidak mungkin dapat menjalankan tugas ini sendirian.”

Pernyataan ini bukan bentuk kelemahan, tetapi justru kesadaran strategis. Di tengah kompleksitas tantangan umat—dari krisis akidah hingga penetrasi budaya digital—dibutuhkan sinergi lintas elemen: ormas, pesantren, hingga komunitas umat.

Pesan ini sejalan dengan kebutuhan mendesak untuk membangun dakwah berbasis kolaborasi, bukan kompetisi .

Pesantren Harus Kirim Dai, Bukan Sekadar Luluskan Santri

Salah satu penekanan paling kuat dalam sambutan beliau adalah soal kaderisasi dai.

KH. Fathur Rohman menyoroti bahwa banyak daerah masih kekurangan dai yang siap turun langsung ke lapangan. Karena itu, pesantren—terutama yang berada dalam jaringan Dewan Da’wah—harus mengambil peran lebih konkret:

mengirimkan dai ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Ini bukan sekadar program, tetapi tanggung jawab bersama umat.

Dalam konteks ini, dakwah tidak lagi cukup dengan ceramah sesaat, tetapi membutuhkan sosok dai yang:

siap membina,

hadir di tengah masyarakat,

dan mampu menjadi solusi nyata bagi umat .

Jangan Hanya Bangga Sejarah, Warisi Ruh Perjuangan

KH. Fathur Rohman juga mengingatkan bahaya laten dalam tubuh gerakan: nostalgia tanpa aksi.

Menyebut nama-nama besar seperti Mohammad Natsir dan para tokoh dakwah lainnya tidak boleh berhenti pada kebanggaan sejarah semata. Yang harus diwarisi adalah:

ruh perjuangan,

militansi dakwah,

dan kesungguhan dalam beramal.

“Bukan hanya bernostalgia, tetapi mewarisi semangat juang mereka untuk kemaslahatan NKRI.”

Pesan ini menjadi kritik halus sekaligus dorongan keras:
bahwa dakwah harus bergerak ke depan, bukan terjebak pada romantisme masa lalu.

Menghidupkan Kembali Jaringan Dakwah

Dalam dimensi kelembagaan, beliau juga menyinggung kembali konsep Ittihadul Ma’ahid, sebagai jaringan komunikasi pesantren dalam keluarga besar Dewan Da’wah.

Ini menunjukkan bahwa: dakwah tidak hanya soal individu dai, tetapi juga arsitektur jaringan yang menghubungkan pesantren, umat, dan wilayah dakwah.

Jika jaringan ini dihidupkan kembali, maka dakwah akan memiliki:

daya jangkau luas,

koordinasi kuat,

dan dampak yang lebih sistemik.

Selamatkan Indonesia dengan Dakwah”

Mengutip pesan almarhum Ust. Syuhada’ Bahri, KH. Fathur Rohman menutup dengan seruan yang sederhana namun mendalam:

“Mari selamatkan Indonesia dengan dakwah.”

Kalimat ini bukan slogan, tetapi tesis besar gerakan: bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh politik dan ekonomi, tetapi oleh kekuatan dakwah dalam membina umat.

Dari Ngabar untuk Indonesia

Haflah Ied di Ngabar bukan sekadar agenda tahunan. Dari forum ini, KH. Fathur Rohman menegaskan bahwa Jawa Timur harus tampil sebagai lokomotif dakwah nasional—kuat dalam kader, luas dalam jaringan, dan matang dalam strategi .

Pesannya jelas: dakwah harus naik kelas— dari kegiatan menjadi gerakan, dari rutinitas menjadi strategi, dari seremonial menjadi peradaban.

Dan dari Ngabar, arah itu kembali ditegaskan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *