TADABBUR SURAT AL-WĀQI’AH Ayat 46

“Dosa yang Dipelihara : Ketika Kesalahan Menjadi Kebiasaan”

Oleh Masykur Sarmian, Alumni Ponpes YTP, Kertosono

Dewandakwahjatim.com, Kaltin —

وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنثِ الْعَظِيمِ

“Dan mereka terus-menerus melakukan dosa yang besar.”

—QS. Al-Wāqi’ah : 46

Penjelasan Tematik

Ayat sebelumnya mengungkap bahwa Ashḥābusy-Syimāl dahulu hidup dalam kemewahan yang melalaikan. Kini Al-Qur’an membuka lapisan yang lebih dalam : masalah mereka bukan sekadar menikmati dunia, tetapi terus-menerus mempertahankan dosa besar. Allah berfirman, وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنثِ الْعَظِيمِ, “dan mereka terus-menerus melakukan dosa yang besar.” Kata يُصِرُّونَ berasal dari akar kata yang bermakna menetap, bertahan, atau terus melakukan sesuatu tanpa mau berhenti. Jadi, yang menjadi persoalan bukan sekadar pernah berbuat salah, tetapi adanya persistensi dalam dosa : dosa dilakukan, diulang, dibenarkan, lalu akhirnya menjadi bagian dari kehidupan.

Di sinilah perbedaan antara orang yang jatuh dalam dosa dan orang yang memilih tinggal di dalam dosa menjadi sangat penting. Manusia adalah makhluk yang dapat salah. Islam tidak menggambarkan manusia sebagai makhluk tanpa dosa. Bahkan Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan bahwa manusia memiliki kelemahan dan pintu taubat selalu terbuka. Yang berbahaya adalah ketika seseorang tidak lagi merasa perlu kembali kepada Allah. Dosa yang semula membuat hati gelisah perlahan menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Teguran tidak lagi didengar, rasa malu semakin hilang, dan hati mulai membangun pembenaran untuk mempertahankan perilaku yang salah.

Dalam psikologi modern terdapat konsep habit formation, yaitu proses ketika perilaku yang diulang dalam konteks tertentu menjadi semakin otomatis. Pada awalnya seseorang mungkin merasa berat melakukan sesuatu yang salah. Namun ketika perilaku itu terus diulang, resistensi batin dapat menurun. Otak semakin mengenali pola tersebut sebagai sesuatu yang familiar. Karena itu, dosa yang terus dipelihara dapat membentuk behavioral pattern, pola perilaku yang akhirnya sulit dihentikan bukan karena manusia benar-benar tidak mampu berubah, tetapi karena ia telah terlalu lama membiarkan kebiasaan tersebut menguat.

Lebih berbahaya lagi, manusia memiliki kemampuan melakukan self-justification, yaitu membangun alasan untuk membenarkan perilakunya sendiri. Ia berkata, “Semua orang juga begitu.” “Saya terpaksa.” “Saya hanya membalas.” “Ini bukan dosa besar.” “Yang penting niat saya baik.” Pembenaran semacam itu membuat seseorang tidak lagi melihat masalah pada dirinya. Dosa bukan hanya dilakukan, tetapi mulai dibela oleh pikiran sendiri.

Allah menggambarkan proses pengerasan hati dengan firman-Nya :

كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muṭaffifīn : 14)

Ayat ini memberikan gambaran yang sangat dalam. Perbuatan manusia tidak berhenti sebagai peristiwa di luar diri. Ia dapat meninggalkan bekas di dalam hati. Kebaikan membersihkan, sementara dosa yang terus dipelihara dapat menutupi hati. Karena itu, persoalan terbesar dari dosa bukan hanya hukuman yang mungkin datang, tetapi perubahan yang terjadi pada sensitivitas moral manusia.

Dalam psikologi dikenal istilah moral desensitization, yaitu berkurangnya kepekaan terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap salah karena terlalu sering terpapar atau melakukannya. Sesuatu yang awalnya terasa tidak nyaman lama-lama menjadi biasa. Kebohongan pertama mungkin terasa berat, tetapi kebohongan kesepuluh terasa ringan. Mengambil hak orang lain pertama kali mungkin menimbulkan rasa takut, tetapi jika terus dilakukan, rasa takut itu dapat menghilang. Inilah mengapa Islam sangat serius terhadap pembiasaan dosa.

Namun rahmat Allah selalu lebih luas daripada kesalahan manusia. Selama seseorang masih hidup, perubahan tetap mungkin terjadi. Allah berfirman :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'”
(QS. Az-Zumar : 53)

Ayat ini memberikan keseimbangan: Al-Qur’an sangat keras terhadap dosa, tetapi tidak pernah menutup pintu taubat bagi orang yang mau kembali. Yang harus kita takuti bukan pernah jatuh, tetapi menolak untuk bangkit.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat salah pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat salah pada malam hari bertaubat.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kesempatan kembali kepada Allah terus terbuka selama pintu taubat belum tertutup.

Munāsabah dan Penguatan Dalil

Allah berfirman :

وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Barang siapa mengerjakan kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisā’ : 110)

Ayat ini memperlihatkan bahwa kesalahan tidak harus menjadi identitas permanen. Ada jalan keluar : pengakuan, istighfar, dan kembali kepada Allah.

Allah juga berfirman :

 *إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ*

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.”
(QS. Hūd : 114)

Ini menunjukkan bahwa perubahan tidak cukup dengan meninggalkan keburukan, manusia perlu membangun kebiasaan baik sebagai penggantinya.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

  *أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا*

“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya.”
(HR. At-Tirmidzi)

Prinsip ini sangat relevan secara psikologis : kebiasaan buruk lebih efektif ditinggalkan ketika diganti dengan pola perilaku baru yang sehat dan bermakna.

Pelajaran Kehidupan

Jangan biarkan dosa menjadi rutinitas. Jika ada kebiasaan yang kita tahu salah, jangan menunggu sampai hati benar-benar kehilangan rasa bersalah. Hentikan sedini mungkin. Jika jatuh lagi, bangun lagi. Jika gagal lagi, kembali lagi. Allah tidak meminta manusia tidak pernah jatuh; Allah menghendaki manusia tidak berhenti kembali kepada-Nya.

Dan jangan pernah menggunakan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti berubah. Masa lalu adalah sejarah, bukan vonis. Seseorang mungkin pernah jauh dari Allah selama bertahun-tahun, tetapi satu keputusan yang tulus dapat menjadi awal dari perjalanan baru.

Renungan Peradaban

Apa yang terjadi pada jiwa manusia juga dapat terjadi pada masyarakat. Ketika sebuah masyarakat terus mengulangi korupsi, kebohongan, ketidakadilan, kekerasan, dan penyalahgunaan kekuasaan, lama-kelamaan keburukan tersebut dapat menjadi normalitas sosial. Yang dahulu dianggap memalukan berubah menjadi sesuatu yang “biasa”. Pada titik itu, kerusakan bukan lagi hanya dilakukan oleh individu, tetapi mulai dibenarkan oleh lingkungan.

Karena itu, membangun peradaban Qur’ani berarti membangun budaya yang membuat kebaikan menjadi kebiasaan dan keburukan menjadi sesuatu yang ditolak bersama. Kejujuran harus diberi penghargaan, amanah harus dijaga, kezaliman harus dihentikan, dan taubat harus diberi ruang.

Sebuah peradaban tidak hancur hanya ketika manusia melakukan dosa. Ia mulai hancur ketika dosa tidak lagi dianggap dosa.

Dan sebuah peradaban mulai bangkit ketika manusia kembali memiliki keberanian untuk berkata : “Ini salah, dan kita harus berubah.”

Wallāhu A’lam

Bersambung…

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *