Jika ia bekerja untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka ia di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk kedua orang tuanya yang sudah tua renta, maka ia di jalan Allah.(Rasulullah Saw)
Oleh Murtadlo, Alumni Ponpes YTP, Kertosono
Dewandakwahjatim.com, Surbaya – –
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ، فَرَأَى أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ مِنْ جِلْدِهِ وَنَشَاطِهِ، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَوْ كَانَ هَذَا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ! فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيْرَيْنِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ. رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ
Artinya:
Seorang laki-laki lewat di hadapan Nabi SAW, lalu para sahabat melihat keuletan dan semangatnya dalam bekerja. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, andai saja semangatnya itu di jalan Allah (jihad).’ Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Jika ia bekerja untuk anak-anaknya yang masih kecil, maka ia di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk kedua orang tuanya yang sudah tua renta, maka ia di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri untuk menjaga kehormatannya (agar tidak meminta-minta), maka ia di jalan Allah. Namun jika ia bekerja untuk pamer dan berbangga-bangga, maka ia di jalan syaitan.’ (HR. Thabrani)”
Penjelasan
Bekerja untuk Keluarga Adalah Jihad fi Sabilillah
Seringkali kita mengira bahwa jihad fi sabilillah itu hanya berperang mengangkat senjata di medan perang. Padahal Islam memiliki makna jihad yang sangat luas. Salah satunya adalah hadits ini.
Hadits ini memiliki latar belakang yang menarik. Suatu ketika ada seorang pemuda yang sangat kuat dan rajin bekerja lewat di depan Rasulullah dan para sahabat. Sahabat mengira, sayang sekali kekuatannya hanya untuk bekerja, coba kalau untuk perang. Lalu Rasulullah meluruskan pandangan mereka.
Dari hadits ini ada 3 pelajaran penting:
a. Niat Menentukan Nilai Pekerjaan:
Allah tidak melihat jenis pekerjaannya apakah dia kuli bangunan, petani, pedagang, atau pegawai kantor. Yang dilihat adalah niatnya. Jika niatnya untuk memberi nafkah kepada anak-anaknya yang kecil agar tidak kelaparan, maka lelahnya bekerja itu dihitung sebagai jihad dan pahalanya sama dengan orang yang berperang.
b. Bentuk Jihad Ada 3:
- Bekerja untuk anak dan istri. Ini adalah kewajiban seorang ayah. Memberi makan dari hasil keringat sendiri adalah ibadah paling mulia.
- Bekerja untuk orang tua yang sudah tua. Berbakti dengan cara membiayai hidup mereka adalah jihad yang besar pahalanya.
- Bekerja untuk menjaga diri sendiri agar tidak menjadi pengemis dan peminta-minta. Islam sangat membenci umatnya yang malas dan suka meminta, Islam memuliakan orang yang mandiri.
c. Kapan Bekerja Menjadi di Jalan Syaitan?
Rasulullah menutup hadits dengan peringatan keras. Jika seseorang bekerja hanya untuk pamer, sombong, ingin dibilang paling kaya, paling sukses, merendahkan orang lain, maka meskipun pekerjaannya sama, nilainya berubah menjadi di jalan syaitan. Ia tidak mendapat pahala, justru mendapat dosa.
Kesimpulan:
Hadits ini sangat memotivasi kita. Bagi seorang ayah yang setiap pagi berangkat kerja mencari nafkah, jangan merasa rendah. Setiap tetes keringatnya adalah pahala jihad. Bagi kita sebagai anak, kita harus menghormati kerja keras orang tua, karena apa yang mereka lakukan adalah ibadah fi sabilillah.
Admin: Kominfo DDII Jatin
Editor: Sudono Syueb
