Ketika Alam Berbisik: Belajar Membaca Ayat-Ayat Allah

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pernahkah kita berhenti sejenak untuk mendengarkan alam?

Langit yang terbentang luas, matahari yang terbit setiap pagi, pergantian malam dan siang, hujan yang turun membasahi bumi, serta kehidupan yang tumbuh di sekeliling kita—semuanya seakan berbicara kepada manusia.

Alam berbisik.

Namun, barangkali persoalannya bukan karena alam terlalu sunyi. Bisa jadi, justru manusia modern terlalu sibuk sehingga kehilangan kemampuan untuk mendengarkannya.

Dalam kehidupan yang penuh dengan suara, notifikasi, berita, media sosial, dan berbagai kesibukan, manusia melihat banyak hal, tetapi tidak selalu benar-benar memperhatikan.

Padahal Allah telah membentangkan begitu banyak tanda di hadapan kita.

Langit adalah tanda.

Bumi adalah tanda.

Pergantian malam dan siang adalah tanda.

Kehidupan adalah tanda.

Bahkan manusia sendiri adalah tanda kebesaran Allah.

Karena itulah, alam bukan sekadar tempat manusia tinggal. Alam adalah ayat-ayat Allah yang terbentang.

الْكَوْنُ يَهْمِسُ

Alam semesta berbisik.

Ia tidak berbicara dengan bahasa manusia. Ia berbicara melalui keteraturan, keindahan, kehidupan, dan berbagai rahasia yang terus menunggu untuk dipahami.

Namun, untuk memahami semua itu, manusia harus belajar membaca.

Bukan hanya membaca buku.

Tetapi membaca kehidupan.

Membaca sejarah.

Membaca alam.

Dan bahkan membaca dirinya sendiri.

Sebab manusia bukan hanya pembaca teks.

الْإِنْسَانُ لَيْسَ فَقَطْ قَارِئًا لِلنُّصُوصِ، بَلْ هُوَ نَصٌّ يَحْتَاجُ إِلَى قِرَاءَةٍ

Manusia bukan hanya pembaca teks, tetapi ia sendiri adalah sebuah teks yang membutuhkan pembacaan.

Betapa banyak orang mengenal dunia, tetapi belum mengenal dirinya sendiri.

Betapa banyak orang mengetahui kesalahan orang lain, tetapi tidak pernah membaca kelemahan dirinya.

Betapa banyak orang sibuk mencari jawaban di luar dirinya, sementara ia belum pernah duduk diam untuk bertanya:

Siapa aku?

Dari mana aku berasal?

Untuk apa aku hidup?

Dan ke mana aku akan kembali?

Di sinilah perintah pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ menjadi sangat luar biasa:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Islam dimulai dengan perintah membaca.

Tetapi bukan sembarang membaca.

Bacalah dengan nama Tuhanmu.

Inilah yang membedakan pembacaan seorang Mukmin.

Ia membaca alam, lalu melihat kebesaran Allah.

Ia mempelajari dirinya, lalu menyadari kelemahannya sebagai makhluk.

Ia melihat kehidupan, lalu memahami bahwa dunia bukan tujuan akhir.

Ia membaca sejarah, lalu mengambil pelajaran.

Ia membaca Al-Qur’an, lalu mencari petunjuk.

Alam memberikan tanda.

Hati belajar mendengarkan.

Akal berpikir.

Dan wahyu memberikan petunjuk.

Maka perjalanan itu dapat kita gambarkan dengan sederhana:

الْكَوْنُ يَهْمِسُ

Alam berbisik.

⬇️

وَالْقَلْبُ يُصْغِي

Hati mendengarkan.

⬇️

وَالْعَقْلُ يَتَفَكَّرُ

Akal bertafakur dan berpikir.

⬇️

وَالْوَحْيُ يَهْدِي

Wahyu memberi petunjuk.

⬇️

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

Bacalah dengan nama Tuhanmu.

Di tengah dunia yang semakin cepat, mungkin kita memang perlu belajar berhenti sejenak.

Memandang langit.

Memperhatikan kehidupan.

Merenungi diri sendiri.

Kemudian bertanya: apa sebenarnya yang sedang Allah tunjukkan kepada kita?

Sebab seorang Mukmin tidak hanya melihat dengan mata.

Ia belajar melihat dengan hati.

Tidak hanya berpikir dengan akal.

Tetapi membiarkan wahyu membimbing pikirannya.

Karena pada akhirnya, seluruh ciptaan yang terbentang di alam semesta ini mengarahkan manusia kepada satu kenyataan:

أَنَّ الْخَلْقَ كُلَّهُ يَدُلُّ عَلَى الْخَالِقِ

Sesungguhnya seluruh ciptaan menunjukkan kepada Sang Pencipta.

Maka ketika alam berbisik, janganlah kita terlalu sibuk hingga tidak mendengarnya.

Karena mungkin, melalui langit yang luas, hujan yang turun, kehidupan yang tumbuh, dan perjalanan hidup yang kita jalani, Allah sedang mengajak kita untuk kembali membaca.

Bukan hanya membaca dunia.

Tetapi membaca ayat-ayat-Nya.

Dan semuanya bermula dari satu perintah yang agung:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

Bacalah dengan nama Tuhanmu.

Cak Muhid (Muhammad Hidayatulloh)

Founder OMAH NgOPI
OMAH — Olah Makna, Akal dan Hati
NgOPI — Ngaji Olah Pikir Intelektual

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *