Epistemologi Qurani dan Jalan Dakwah di Tengah Perubahan Zaman
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya —
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.”
Kalimat ini sering dikutip sebagai ungkapan tentang kemuliaan ilmu. Namun jika direnungkan lebih dalam, ia sebenarnya mengandung sebuah amanah peradaban. Sebab warisan para nabi bukanlah harta, kekuasaan, kedudukan, atau kemewahan dunia. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Karena itu, menjadi pewaris nabi bukan pertama-tama persoalan memperoleh gelar “ulama”, melainkan persoalan menerima, memahami, menghidupkan, dan meneruskan risalah ilmu yang dibawa para nabi kepada manusia.
Di sinilah posisi seorang dai menjadi sangat berat. Ia tidak sekadar berdiri di hadapan jamaah untuk menyampaikan ceramah. Ia berdiri di antara wahyu dan realitas, antara kebenaran yang tetap dan zaman yang terus berubah, antara tradisi ilmu dan persoalan manusia yang baru. Ia dituntut menjaga agar wahyu tidak kehilangan relevansinya ketika berhadapan dengan perubahan zaman, tetapi juga menjaga agar dakwah tidak kehilangan prinsip hanya demi mengikuti selera zaman.
Maka seorang dai membutuhkan lebih daripada hafalan dalil. Ia membutuhkan cara membaca realitas. Dan di sinilah Epistemologi Qurani menjadi sangat penting.
Epistemologi Qurani bukan sekadar pertanyaan tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Ia bertanya lebih jauh: pengetahuan macam apa yang dapat membimbing manusia kepada kebenaran, bagaimana kebenaran itu dibaca dalam realitas, dan manusia seperti apa yang harus lahir dari pengetahuan tersebut?
Sebab ilmu yang diwariskan para nabi bukan ilmu yang hanya memenuhi perpustakaan. Ia adalah ilmu yang menghidupkan manusia. Ia membangunkan kesadaran. Ia meluruskan arah. Ia membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Ia mengubah cara manusia melihat dirinya, dunia, dan Tuhannya.
Karena itu, wahyu pertama tidak dimulai dengan perintah untuk menguasai dunia, melainkan:
«اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ»
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Seolah-olah seorang pewaris nabi diberi pesan pertama: bacalah! Tetapi jangan membaca dunia secara liar tanpa pusat. Bacalah بِاسْمِ رَبِّكَ—dengan nama Rabb yang menciptakan. Bacalah wahyu. Bacalah alam. Bacalah sejarah. Bacalah manusia. Bacalah perubahan sosial. Bacalah kegelisahan generasi. Bacalah kemajuan teknologi. Bacalah kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, kerusakan moral, krisis keluarga, dan krisis makna. Tetapi jangan pernah kehilangan kesadaran bahwa semua yang dibaca itu berada dalam ciptaan Allah.
Di sinilah seorang dai berbeda dari sekadar komentator zaman. Komentator melihat apa yang sedang terjadi. Dai harus membaca ke mana manusia sedang dibawa oleh apa yang sedang terjadi.
Ia tidak cukup mengetahui bahwa masyarakat berubah. Ia harus memahami mengapa masyarakat berubah, ke mana perubahan itu mengarah, apa yang benar dan salah di dalamnya, dan bagaimana wahyu memberikan orientasi terhadap perubahan tersebut.
Karena itu, seorang dai membutuhkan ilmu yang bukan hanya informatif, tetapi transformatif.
Ilmu yang hanya menambah informasi dapat membuat seseorang pandai berbicara. Tetapi ilmu yang diwarisi dari para nabi harus membuat manusia mampu menunjukkan jalan.
Di sinilah ungkapan:
«العِلْمُ مَا قَامَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ»
“Ilmu adalah apa yang berdiri di atas dalil.”
menjadi sangat penting. Seorang dai tidak boleh membangun dakwah di atas prasangka, emosi massa, popularitas, atau sekadar apa yang sedang viral. Ia harus berdiri di atas ilmu, dalil, pemahaman, dan hikmah.
Tetapi ilmu saja belum cukup.
Seorang dai juga harus memiliki kemampuan membaca fitnah sebelum fitnah menjadi bencana. Sebab orang yang hanya melihat permukaan sering baru menyadari bahaya setelah semuanya terjadi. Sementara orang yang memiliki kedalaman ilmu mampu melihat benih persoalan ketika masih kecil, membaca arah perubahan ketika belum menjadi arus, dan mengenali penyakit sebelum seluruh tubuh masyarakat terinfeksi.
Di sinilah Burhān menemukan tempatnya dalam Epistemologi Qurani: kemampuan membaca realitas dengan argumentasi, melihat sebab dan akibat, membedakan hakikat dari penampakan, dan tidak menyerahkan penilaian kepada sekadar popularitas.
Tetapi seorang dai juga tidak boleh berhenti pada burhān.
Ia bisa memiliki argumentasi yang kuat, tetapi hatinya belum tentu kuat.
Ia bisa memenangkan perdebatan, tetapi belum tentu memenangkan dirinya sendiri.
Ia bisa menjelaskan tauhid dengan sangat indah, tetapi belum tentu hatinya benar-benar bertauhid dalam menghadapi kehilangan.
Maka ilmu harus turun dari kepala menuju hati.
Akal memahami. Hati menghayati. Amal membuktikan.
Inilah mengapa pewaris para nabi bukan hanya orang yang mengetahui apa yang benar, tetapi orang yang berusaha hidup berdasarkan apa yang diketahuinya.
Di sinilah ujian menjadi sangat penting.
Seorang dai mungkin mampu menjelaskan tentang sabar ketika hidupnya sedang baik. Tetapi dakwah akan menguji apakah ia mampu bersabar ketika perjuangannya ditolak. Ia mungkin mampu menjelaskan tawakal ketika semua berjalan sesuai rencana. Tetapi medan dakwah akan menguji tawakalnya ketika program gagal, kader pergi, lembaga mengalami kesulitan, masyarakat tidak merespons, atau perjuangan yang telah dibangun bertahun-tahun belum menghasilkan perubahan sebagaimana yang diharapkan.
Pada titik inilah qadar menjadi bagian dari pendidikan epistemologis seorang dai.
Sebab manusia sering mengira bahwa apa yang sesuai dengan rencananya pasti baik, sedangkan apa yang menghalangi rencananya pasti buruk. Padahal Al-Qur’an memberikan koreksi:
«وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ini adalah tamparan epistemologis terhadap ego manusia.
Dai harus tahu bahwa ia tidak mengetahui seluruh hikmah dari perjalanan dakwahnya.
Ia wajib mengevaluasi kegagalan, tetapi tidak boleh menyimpulkan bahwa kegagalan berarti Allah meninggalkan perjuangannya.
Ia wajib memperbaiki strategi, tetapi tidak boleh menganggap bahwa hasil sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Ia wajib membaca perubahan zaman, tetapi tidak boleh tunduk kepada zaman.
Ia wajib mengukur efektivitas dakwah, tetapi tidak boleh menjadikan angka sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Sebab dai adalah pewaris amanah, bukan pemilik hasil.
Ia bertanggung jawab atas ikhtiar.
Allah menentukan hasil.
Maka jangan gunakan qadar untuk menutupi kemalasan. Tetapi jangan pula gunakan kegagalan sebagai alasan untuk menuduh takdir.
Evaluasi adalah bagian dari ikhtiar. Ridha adalah bagian dari iman.
Seorang dai harus mampu mengatakan:
“Apa yang salah dalam ikhtiarku?”
tanpa kehilangan kemampuan untuk mengatakan:
“Apa pun hasil akhirnya, Allah tetap Mahabijaksana.”
Inilah keseimbangan yang sangat penting.
Sebab jika seorang dai menjadikan keberhasilan sebagai sumber harga dirinya, ia akan mudah hancur ketika gagal. Tetapi jika Allah menjadi pusat perjuangannya, ia dapat tetap berdiri meskipun tepuk tangan manusia berhenti.
Ia berdakwah ketika dipuji.
Ia berdakwah ketika dicela.
Ia bekerja ketika ramai.
Ia bekerja ketika sepi.
Ia membina ketika hasil belum terlihat.
Ia tetap menanam meskipun belum sempat melihat buahnya.
Karena seorang pewaris nabi memahami bahwa tugasnya adalah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah; bukan memaksa sejarah berjalan sesuai keinginannya.
Di sinilah ikhlas menjadi energi perjuangan.
Ikhlas bukan berarti tidak peduli pada keberhasilan. Seorang dai justru harus serius, profesional, terukur, dan terus memperbaiki metode. Tetapi ia tidak boleh menjadikan keberhasilan dakwah sebagai berhala bagi egonya.
Ia mengejar keberhasilan karena itu bagian dari amanah.
Tetapi ia tidak menyembah keberhasilan.
Ia membangun lembaga, tetapi tidak menyembah lembaga.
Ia membina kader, tetapi tidak menjadikan kader sebagai pengikut pribadi.
Ia menyampaikan ilmu, tetapi tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk meninggikan dirinya.
Ia berdakwah kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri.
Dan di sinilah makna وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ menjadi sangat berat.
Pewaris nabi bukan orang yang mewarisi kemuliaan tanpa beban.
Ia mewarisi amanah tanpa hak untuk menyombongkan diri.
Ia mewarisi ilmu agar ilmu itu diteruskan.
Ia mewarisi hikmah agar manusia dibimbing.
Ia mewarisi keberanian agar kebenaran tidak disembunyikan.
Ia mewarisi kesabaran agar perjuangan tidak berhenti ketika jalan menjadi panjang.
Ia mewarisi kasih sayang agar dakwah tidak berubah menjadi kesombongan moral.
Dan ia mewarisi tauhid agar seluruh perjuangan tidak berakhir pada kultus manusia.
Karena itu, Dai Tauhidik bukan sekadar dai yang banyak berbicara tentang tauhid.
Ia adalah dai yang menjadikan tauhid sebagai pusat seluruh cara berpikir dan cara hidupnya.
Akalnya membaca zaman, tetapi wahyu menentukan arah.
Ilmunya luas, tetapi egonya kecil.
Strateginya modern, tetapi prinsipnya kokoh.
Kritiknya tajam, tetapi hatinya penuh rahmah.
Ikhtiarnya maksimal, tetapi tawakalnya dalam.
Ketika berhasil, ia bersyukur.
Ketika gagal, ia mengevaluasi.
Ketika diuji, ia bersabar.
Ketika kehilangan, ia tidak kehilangan Allah.
Dan ketika seluruh pintu dunia terasa tertutup, ia masih memiliki satu pintu yang tidak pernah tertutup:
pintu Allah.
Maka di sinilah Epistemologi Qurani berubah menjadi manhaj dakwah.
Iqra’ mengajarkan dai membaca.
Ilmu mengajarkan dai membedakan yang benar dan yang salah.
Tauhid menentukan pusat orientasinya.
Burhān mempertajam cara berpikirnya.
Irfān menghidupkan kebenaran dalam hatinya.
Yaqin mengokohkan langkahnya.
Sabar menjaga kontinuitas perjuangannya.
Ridha menjaga hatinya ketika hasil tidak sesuai harapan.
Ikhlas memurnikan seluruh perjuangannya.
Dan akhirnya, semua itu bermuara pada satu kesadaran:
«Dai bukan pemilik umat. Dai adalah pelayan risalah.
Bukan penguasa manusia, tetapi penunjuk jalan kepada Allah.
Bukan pencipta kebenaran, tetapi pembawa amanah kebenaran.»
Karena itu, ketika kita berbicara tentang العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah proyek besar: bagaimana ilmu kenabian diterjemahkan menjadi kesadaran manusia, bagaimana kesadaran menjadi amal, bagaimana amal menjadi gerakan, dan bagaimana gerakan menjadi peradaban.
Di sinilah Rekonstruksi Epistemologi tidak boleh berhenti sebagai proyek intelektual.
Ia harus melahirkan Transformasi Individu.
Transformasi individu harus melahirkan Dai Tauhidik.
Dai Tauhidik harus melahirkan gerakan dakwah yang berilmu, berakhlak, dan berorientasi peradaban.
Dan gerakan itu pada akhirnya diarahkan kepada cita-cita yang lebih besar:
Peradaban Tauhidik.
Maka perjalanan kita bukan sekadar:
Iqra’ → Ilmu → Ikhlas.
Tetapi:
«Iqra’ → Ma’rifah → Tauhid → Ilmu → Kesadaran → Transformasi → Dakwah → Peradaban.»
Dan di tengah seluruh perjalanan itu, seorang dai harus selalu mengingat:
ia bukan pusatnya.
Allah-lah pusatnya.
Sebab ketika dai menjadi pusat, dakwah berubah menjadi gerakan manusia.
Tetapi ketika Allah menjadi pusat, dakwah kembali menjadi amanah kenabian.
Itulah makna terdalam العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ:
Bukan sekadar mewarisi ilmu para nabi, tetapi mewarisi tanggung jawab untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kebingungan menuju petunjuk, dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah, dan dari manusia yang sekadar mengetahui menuju manusia yang hidup dalam kebenaran.
Inilah dai yang dibutuhkan zaman:
Tajam akalnya,
dalam ilmunya,
bersih hatinya,
luas pandangannya,
kuat perjuangannya,
lembut dakwahnya,
kokoh tauhidnya,
dan ikhlas pengabdiannya.
Bukan sekadar pewaris kitab para nabi, tetapi pewaris amanah risalah mereka.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
