Menembus Gunung, Menyapa Umat, Menyalakan Cahaya
Oleh Syayid Ghozali, Bidang Kominfo DDII Jatim dan Da’i Pedalaman 2018-2019
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Lima puluh lima tahun bukan sekadar perjalanan waktu. Ia adalah jejak panjang para da’i yang memilih berjalan menuju tempat-tempat jauh, mengetuk pintu-pintu yang sunyi, dan menghadirkan cahaya Islam di tengah keterbatasan.
Kami merasakan nikmat itu ketika Allah memberi kesempatan untuk berdakwah di Dusun Padafuyu, Desa Takibangke, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.
Sebuah dusun di atas gunung, di tengah hutan, jauh dari hiruk-pikuk kota. Tanpa listrik, apalagi sinyal. Masyarakat Muslim hidup sebagai minoritas dan sangat membutuhkan pembinaan. Ketika tidak ada ustadz yang membersamai, shalat Jum’at pun tidak terlaksana.
Namun di tempat yang jauh itulah kami belajar: dakwah bukan tentang seberapa dekat tempatnya, tetapi seberapa besar kebutuhan umat kepadanya.
Dakwah harus hadir. Bukan sekadar datang lalu pergi, tetapi tinggal, menyapa, membina, memberdayakan, dan menanamkan kemandirian.
Alhamdulillah, perlahan benih itu tumbuh.
Melalui pembinaan da’i Dewan Da’wah, masyarakat mulai mampu menjalankan syariat Islam dengan lebih baik. Apa yang dahulu harus kami bimbing, perlahan dapat mereka lakukan sendiri.
Pada momentum Idul Adha, masyarakat setempat mulai mampu mengambil peran menjadi khatib. Shalat Jum’at pun dapat dilaksanakan secara mandiri. Kami mengumpulkan masyarakat yang mampu membaca, menulis dan memiliki hafalan surat-surat pendek. Dengan sedikit pendampingan, mereka akhirnya mampu menjadi khatib dan imam secara mandiri.
Bagi sebagian orang mungkin sederhana. Namun bagi seorang da’i pedalaman, itulah buah dari perjuangan kaderisasi.
Anak-anak pun mulai dilibatkan. Mereka bergantian mengumandangkan azan lima waktu melalui pengeras suara masjid yang ditenagai panel surya.
Di tengah hutan yang sunyi, suara azan pun menggema.
Bukan lagi suara seorang da’i saja.
Tetapi suara generasi yang sedang tumbuh.
Kenangan yang Kami Tinggalkan
Setiap pengabdian memiliki masa. Dan ketika masa itu hampir selesai, kami mulai berpikir: apa yang bisa kami tinggalkan untuk mereka? Apa yang kelak akan menjadi kenangan bahwa pernah ada kami yang membersamai mereka?
Masjid telah kami selesaikan. Kami membantu memplester, mengecat, dan memasang keramik. Tempat wudhu pun kami bangun agar masyarakat memiliki tempat yang lebih layak untuk bersuci dan beribadah.
Namun kami kembali bertanya dalam hati:
“Apa lagi yang bisa kami tinggalkan?”
Kami ingin meninggalkan sesuatu yang bukan sekadar benda. Sesuatu yang kelak ketika mereka mengingatnya, mereka juga akan mengingat masa-masa kebersamaan bersama kami.
Kemudian kami mengetahui bahwa ternyata anak-anak di sana belum banyak yang dikhitan.
Maka sebelum meninggalkan Padafuyu, kami mengadakan sunatan massal.
Bukan semata-mata sebuah kegiatan sosial. Bagi kami, itu adalah cara sederhana untuk meninggalkan kenangan yang baik.
Kami ingin suatu hari nanti, ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, mereka dapat berkata:
“Dulu, ketika ustadz-ustadz datang dan bertugas di kampung kami, kami dikhitan.”
Dan kelak, setiap kali mereka mengenang masa kecilnya, ada nama para da’i yang pernah hadir dalam perjalanan hidup mereka.
Ada masjid yang pernah diperbaiki.
Ada tempat wudhu yang pernah dibangun.
Ada azan yang pernah mereka kumandangkan.
Dan ada hari ketika mereka menjalani salah satu bagian penting dalam hidupnya bersama para da’i yang dahulu membersamai mereka.
Itulah kenangan yang ingin kami tinggalkan: bukan agar nama kami dikenang, tetapi agar kebaikan yang pernah kami tanam terus hidup.
Dakwah kemudian mulai menyentuh kehidupan. Pemberdayaan ekonomi digerakkan melalui pelatihan pembuatan tempe dan dirintis warung sembako pertama di tengah masyarakat Muslim.
Sebab dakwah bukan hanya mengajarkan umat bagaimana beribadah, tetapi juga bagaimana memiliki daya untuk menjalani kehidupan.
Ketika Tiba Saatnya Berpisah
Namun setiap pengabdian memiliki masa.
Setelah satu tahun menjalankan tugas, tibalah saat kami harus meninggalkan Padafuyu.
Hari itu menjadi salah satu hari yang tidak mudah dilupakan.
Masyarakat menangis. Kami pun tak mampu menahan air mata.
Kami mencoba menguatkan mereka:
“Jangan bersedih. Insyaallah nanti akan ada yang melanjutkan.”
Namun ketika kaki kami benar-benar melangkah meninggalkan kampung itu, air mata tak lagi mampu dibendung.
Padafuyu bukan sekadar tempat kami menjalankan tugas selama satu tahun.
Kampung itu telah membina kami.
Kami datang untuk mengajarkan banyak hal, tetapi ternyata kami pulang membawa pelajaran yang jauh lebih banyak: tentang kesederhanaan, ketulusan, kesabaran, arti membersamai umat, dan bagaimana sebuah tempat yang jauh dapat begitu dekat di hati.
Alhamdulillah, janji itu benar-benar terwujud.
Adik kelas kami kemudian melanjutkan estafet dakwah di sana. Bahkan, pada estafet da’i yang ke 3 ia menikah dengan seorang gadis setempat yang dahulu pernah menjadi murid kami.
Waktu berjalan. Anak-anak tumbuh dewasa. Dakwah berbuah.
Estafet perjuangan terus berjalan.
Di situlah kami semakin memahami:
Seorang da’i boleh meninggalkan medan dakwah, tetapi dakwah tidak boleh ikut pergi.
Dakwah harus tetap hidup dalam azan anak-anak, dalam khutbah masyarakat, dalam ibadah yang mereka tegakkan, dalam ekonomi yang mereka bangun, dan dalam generasi yang meneruskan perjuangan.
Inilah makna 55 Tahun Dakwah Pedalaman Dewan Da’wah:
Menembus gunung.
Menyusuri hutan.
Melewati keterbatasan.
Menyapa umat yang jauh.
Membina dengan ilmu.
Memberdayakan dengan karya.
Melahirkan kemandirian.
Dan menyiapkan generasi penerus dakwah.
Listrik boleh belum hadir, tetapi cahaya iman harus tetap menyala.
Sinyal boleh tak menjangkau, tetapi pesan dakwah harus sampai ke hati.
Jalan boleh terjal, tetapi langkah para da’i tidak boleh berhenti.
Karena sejauh apa pun sebuah dusun berada, mereka tetap bagian dari umat yang harus disapa.
Dakwah yang hadir, menyapa, membina, memberdayakan, memberi solusi, serta meluaskan kebermanfaatan bagi umat.
Dari pelosok negeri, cahaya itu tumbuh.
Dari tengah hutan, suara azan menggema.
Dari tangan para da’i, lahir generasi penerus.
Dan dari benih dakwah, tumbuh kebermanfaatan yang terus meluas.
Pada akhirnya, perjalanan ini mengajarkan satu hal:
Kami mungkin datang ke sebuah tempat untuk mengajarkan kebaikan. Namun tanpa kami sadari, tempat itulah yang justru mengajarkan kami banyak hal.
Dan ketika langkah kami harus pergi, Alhamdulillah dakwah tetap tinggal, tumbuh, berakar, dan terus meluaskan kebermanfaatan untuk umat.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
