MPLS: Orang Tua Juga Harus Siap Belajar Melepas

Oleh: Kemas Adil Mastjik, Pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim, Surabaya – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026 menghadirkan sejumlah perubahan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut durasi kegiatan, tetapi juga tahapan penyelenggaraan, materi yang diberikan kepada peserta didik baru, hingga keterlibatan orang tua sebelum kegiatan dimulai. Perubahan paling mendasar terdapat pada durasi pelaksanaan. Jika sebelumnya MPLS berlangsung selama tiga hari, kini kegiatan tersebut dilaksanakan selama lima hari pada minggu pertama awal tahun ajaran semester ganjil.(suara merdeka.com. 12 Juli 2026)

Membangun Rasa Aman.

Awal tahun ajaran baru selalu menghadirkan pemandangan yang menyentuh hati. Di depan gerbang sekolah, para orang tua mengantar putra-putrinya mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Ada yang tersenyum bangga, ada yang sibuk mengabadikan momen, ada pula yang berkaca-kaca saat harus berpisah dengan anak. Bahkan, tidak sedikit anak yang akhirnya menangis bukan karena takut sekolah, melainkan karena melihat orang tuanya tampak cemas dan berat hati meninggalkannya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa MPLS bukan hanya masa adaptasi bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Pertanyaannya, sudahkah orang tua siap “belajar melepas”?

Dalam psikologi modern dikenal istilah emotional contagion, yaitu penularan emosi. Anak adalah peniru yang sangat peka. Ia mungkin belum memahami alasan orang tuanya cemas, tetapi ia dapat merasakan perubahan ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh. Ketika orang tua terlihat gelisah, anak akan menangkap pesan bahwa sekolah adalah tempat yang perlu ditakuti.

Sebaliknya, apabila orang tua hadir dengan wajah ceria, ucapan yang menenangkan, dan keyakinan bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk belajar, anak akan lebih mudah membangun rasa percaya diri. Inilah yang dijelaskan John Bowlby melalui teori attachment: rasa aman yang dimiliki anak berasal dari hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan dengan orang tuanya.

Karena itu, hari pertama sekolah bukanlah waktu yang tepat untuk mempertontonkan kecemasan. Justru inilah saatnya orang tua menjadi sumber ketenangan bagi anak.

Belajar Tentang Anak

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, muncul kecenderungan baru. Tidak sedikit orang tua lebih sibuk membuat konten hari pertama sekolah daripada mempersiapkan kondisi emosional anak.

Dokumentasi memang penting sebagai kenangan, tetapi jangan sampai perhatian kepada kamera mengalahkan perhatian kepada perasaan anak. Anak membutuhkan tatapan yang menenangkan, bukan sekadar foto yang menarik.

Demikian pula, ada kecenderungan sebagian orang tua bersikap terlalu protektif. Terus mengintip dari luar kelas, berulang kali menghubungi guru, atau langsung menyelesaikan setiap persoalan kecil yang dihadapi anak. Padahal, pendidikan karakter justru dimulai ketika anak diberi kesempatan untuk mencoba, beradaptasi, dan menyelesaikan tantangan sesuai usianya.

MPLS merupakan latihan pertama untuk membangun kemandirian. Di sanalah anak belajar mengenal lingkungan baru, menghormati guru, berteman dengan siapa saja, menaati aturan, dan menyelesaikan masalah sederhana tanpa selalu bergantung kepada orang tua. Jika setiap kesulitan langsung diambil alih, anak akan kehilangan kesempatan belajar menjadi pribadi yang tangguh.
Islam telah lama mengajarkan keseimbangan antara kasih sayang dan pembentukan karakter. Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini menunjukkan bahwa mendidik anak merupakan amanah besar yang tidak berhenti pada memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga membentuk mental, akhlak, dan kepribadiannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menjadi pemimpin bagi anak berarti menyiapkan mereka menghadapi kehidupan, bukan melindungi mereka dari setiap tantangan. Orang tua yang baik bukanlah yang selalu berada di samping anak, melainkan yang mampu menanamkan keberanian sehingga anak mampu berdiri dengan percaya diri ketika orang tua tidak lagi mendampinginya.

Di sisi lain, sekolah juga memikul tanggung jawab besar. MPLS hendaknya benar-benar menjadi ajang pengenalan yang ramah, menyenangkan, bebas dari segala bentuk perundungan, kekerasan, maupun praktik yang merendahkan martabat peserta didik. Guru perlu membangun komunikasi yang hangat dengan orang tua agar tercipta rasa saling percaya. Pendidikan yang berhasil lahir dari kolaborasi, bukan saling menyalahkan.

Momentum MPLS hendaknya menjadi titik awal membangun generasi Indonesia yang berilmu, berakhlak, tangguh, dan mandiri. Semua itu dimulai dari langkah sederhana: orang tua yang berani melepas dengan doa, guru yang menyambut dengan kasih sayang, dan anak yang melangkah dengan penuh semangat.


Pintu Kemandirian Anak,

Ketika gerbang sekolah terbuka, sesungguhnya bukan hanya anak yang sedang memulai perjalanan baru. Orang tua pun sedang memasuki babak baru dalam mendidik: mengubah rasa memiliki menjadi rasa percaya, mengubah kecemasan menjadi doa, dan mengubah ketergantungan menjadi kemandirian.
Marilah kita jadikan MPLS bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum membangun sinergi keluarga dan sekolah.

Sebab, masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasannya, melainkan juga oleh keberanian, ketangguhan, dan karakter yang kita tanamkan sejak langkah pertamanya memasuki gerbang sekolah.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *