Mengenang si “Tangan Dingin” Cak Zahid Rauf (1)

Jago Silaturohim, Telaten Mencetak Kader

Oleh Shodiq Syarif (Pengurus DDII Kab Lumajang).

Dewandakwahjatim.com, Lumajang – Di waktu sore, Tahun 1976, markas besar Pojok Utara Jl Minak Koncar, ramai didatangi para remaja. Sebagian besar berstatus mahasiswa. Dua diantaranya berkepala plontos, pertanda sebagai mahasiswa yang baru menjalani ploncoan alias Ospek.

Mereka berdebat seru mendiskusikan agenda kerja organisasi yang akan dilaksanakan dalam beberapa hari berikutnya.
M Maklum, saat itu pas bulan Ramadhan menjelang idul Fitri. Materi yang didiskusikan sekitar pembagian zakat fitrah, pelaksanaan sholat idul Fitri dll.

Salah seorang remaja yang terlihat aktif berbicara adalah Mas Zahid. Selain ada Mas Inung, Cak Munir, Mas Rozi Lainnya tergolong lebih senior, seperti Mas Fatah, Mas Yusef, Cak Mukti, Mas Taufiq, Mas Wahid, Cak Gatot, Cak Fatchurohman, Mb Salami, Mb Ainun Suruji, dan beberapa lainnya.

Belakangan, di sela-sela kesibukannya mengurus kuliahnya, Mas Zahid tampak kerap muncul di berbagai kegiatan PII. Yang paling terkesan bagi saya (dan juga dirasakan oleh teman lain) kehadiran Mas Zahid secara individu ke rumah kami. Baik menggunakan sepeda onthel maupun sepeda motor.

Sebagai orang baru di PII, kehadiran mas Zahid di tengah-tengah kami, terasa sangat mengagumkan, sekaligus membuat surprise.

Bayangkan, saya anak baru di PII, dari kalangan bawah, sekolah swasta, cah ndeso, lho kok tiba-tiba didatangi senior, kelas atas (untuk ukuran saya saat itu). Saya diajak ngobrol ringan, diajak keliling ke rumah para senior. Tentu saja, sering ditraktir di warung kopi. Suatu hal yang langka saat itu. Apalagi yang ngajak seorang mahasiswa.

Suatu kesan yang tak saya lupakan. Saya dikasih pakaian seragam sekolah miliknya yang sudah tidak dipakai. Saat itu mungkin dia melihat seragamku sudah lusuh, dan perlu cadangan. Tidak seperti sekarang, seragam sekolah bukan hal mewah, bisa beli sewaktu-waktu. Jika membutuhkan.

Perjalanan saya (dikawal Mas Zahid) relatif cukup lama, dengan segala variasinya. Ketika saya tamat SMA, dan tidak bisa melanjutkan kuliah, Mas Zahid masih “setia” menemaniku. Sering diajak ke Malang, nginap di tempat kosnya, sambil bawa dagangan kecil2an. Malah terkadang diajak ikut kuliah. Tentu saja penuh keringat dingin, degdegan, takut ketahuan dosen dst….

Malah suatu ketika saya diajak masuk kampus IKIP Malang dan bertemu dengan Cak Muhajir Efendi, mantan menteri,( saat itu masih berstatus mhsw) dan ngobrol sebentar. Sambil dikenalkan saya sebagai anak PII Lumajang.

Semua itu dilakukan oleh Cak Zahid (mungkin) bertujuan untuk nguji mental agar menjadi anak dan kader tangguh dan militan.

Tahu saya tidak bisa kuliah, bukan malah ditinggal, tetapi diajari berkreasi. Termasuk diajari berwiraswasta. Antara lain, diajak membuka agen koran mingguan Memorandum, Majalah Smesta, hingga membuka sablon. Jadinya, setiap hari saya mencari langganan Memorandum dan majalah Semesta. Tak heran saya seminggu sekali ke Surabaya ngurus administrasi koran majalah. Dari kesibukan itu, lumayan dapat uang jajan. Malah sahabatku alm Hadis, bisa melanjutkan sekolahnya di SMEA (PGRI). Itu saya jalani hingga saya ngajar di SMI dan jadi wartawan.

Tentu saja, pengalaman tersebut bukan hanya saya alami. Banyak kawan-kawan lain ( tentu saja dari keluarga dhuafa) mendapat perlakuan dan perhatian dari Mas Zahid.

Ketika PII kehilangan tempat berkumpul, setelah Mbah Iskandar wafat (1981-an) bak ayam kehilangan induk. Tiba-tiba Mas Zahid ambil langkah cepat. Yakni, memboyong inventaris PII ke kamar pribadinya. Yakni di toko kecil yang bercampur dengan gelondongan kayu bangunan milik ayahnya. Di situ ada satu kamar tidur, kamar mandi/WC, kompor masak. Di situlah kegiatan PII dikerjakan. Padahal tempat itu masih berstatus toko milik abahnya. Dua sahabat yang sempat menikmati “sekretariat darurat” untuk kelangsungan studinya adalah Ustad Suharyo AP dan Prof Latipun.

Dari tempat sederhana itulah muncul kader-kader tangguh dan militan PII Lumajang. Baik yang kemudian menjadi “orang besar” atau tetap menjadi orang kebanyakan. (bersambung)

Foto: Alm Zahid (batik hijau)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *