Membaca Masa Depan Indonesia dalam Perspektif Epistemologi Qurani
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq…” (QS. Al-‘Alaq: 1).
Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah “beribadahlah”, bukan pula “berpolitiklah” atau “berdaganglah”. Perintah pertama adalah iqra’—bacalah. Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada kata iqra’. Ia memberikan fondasi epistemologis yang sangat penting: “bismi rabbik”. Artinya, membaca harus dilakukan dalam kesadaran akan Rabb yang menciptakan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Epistemologi Qurani dan epistemologi modern.
Epistemologi modern bertanya, “Apa yang bisa diketahui?”
Epistemologi Qurani bertanya, “Dengan paradigma apa pengetahuan itu dibangun?”
Karena itu, ketika para ekonom berbicara tentang middle-income trap, Al-Qur’an mengajak kita membaca persoalan tersebut lebih dalam. Middle-income trap bukan sekadar jebakan pendapatan. Ia bisa menjadi gejala bahwa sebuah bangsa memiliki ilmu, teknologi, dan sumber daya, tetapi kehilangan kompas yang mengarahkan semuanya.
Indonesia sesungguhnya tidak miskin. Allah menganugerahkan negeri ini gunung-gunung yang menyimpan emas, nikel, tembaga, bauksit, dan berbagai mineral strategis. Lautannya termasuk yang terkaya di dunia. Hutannya menjadi paru-paru bumi. Tanahnya subur. Penduduknya besar. Perguruan tinggi menghasilkan ribuan sarjana, insinyur, ekonom, dokter, ilmuwan, dan teknokrat setiap tahun.
Lalu mengapa Indonesia masih berbicara tentang middle-income trap?
Dalam perspektif Epistemologi Qurani, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah, “Mengapa kita belum menjadi negara maju?” Tetapi, “Apakah cara kita membaca ilmu, pembangunan, dan kemajuan sudah benar?”
Al-Qur’an telah menggambarkan sebuah cita-cita peradaban melalui firman-Nya:
«”Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu adalah) negeri yang baik (baldatun thayyibatun) dan Tuhanmu Maha Pengampun (wa Rabbun Ghafūr).” (QS. Saba’: 15).»
Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya mengatakan baldatun thayyibatun. Ia menyandingkannya dengan wa Rabbun Ghafūr.
Ini menunjukkan bahwa negeri yang baik tidak hanya dibangun oleh sumber daya alam, teknologi, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Ia dibangun oleh hubungan yang benar antara manusia dengan Rabb-nya. Ketika hubungan vertikal itu benar, maka hubungan manusia dengan ilmu, alam, ekonomi, kekuasaan, dan sesama manusia akan menemukan orientasinya.
Inilah yang disebut dalam Seri Epistemologi Qurani sebagai krisis epistemologis.
Banyak bangsa gagal bukan karena kekurangan sumber daya.
Banyak bangsa gagal karena salah membaca sumber daya.
Banyak bangsa gagal karena ilmu dipisahkan dari wahyu.
Teknologi dipisahkan dari amanah.
Ekonomi dipisahkan dari keadilan.
Politik dipisahkan dari akhlak.
Pendidikan dipisahkan dari pembentukan manusia.
Akibatnya, pembangunan berjalan tanpa arah. Produktivitas meningkat, tetapi keberkahan menghilang. Pertumbuhan ekonomi naik, tetapi kesenjangan melebar. Teknologi berkembang, tetapi karakter melemah. Pengetahuan bertambah, tetapi kebijaksanaan justru berkurang.
Padahal Al-Qur’an telah memberikan hukum perubahan yang sangat jelas:
«”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).»
Perubahan yang dimaksud bukan sekadar perubahan kebijakan ekonomi, melainkan perubahan paradigma. Perubahan cara berpikir. Perubahan cara membaca realitas.
Dalam perspektif Epistemologi Qurani, Indonesia tidak membutuhkan sekadar lebih banyak investasi. Indonesia membutuhkan cara pandang yang benar terhadap investasi.
Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak teknologi. Indonesia membutuhkan teknologi yang diarahkan untuk memuliakan manusia.
Indonesia tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Indonesia membutuhkan ekonomi yang menghadirkan keadilan, keberkahan, dan kemaslahatan.
Dengan demikian, middle-income trap bukan hanya tantangan ekonomi, tetapi juga tantangan epistemologi. Ia mengajukan satu pertanyaan besar kepada bangsa ini:
Apakah kita sedang membangun peradaban dengan kompas wahyu, atau sekadar mengikuti arah kompas pasar?
Jika ilmu dibaca dengan “bismi rabbik”, maka sains melahirkan hikmah.
Jika ekonomi dibangun dengan “bismi rabbik”, maka pertumbuhan melahirkan keberkahan.
Jika kekuasaan dijalankan dengan “bismi rabbik”, maka kepemimpinan menjadi amanah.
Jika pendidikan dimulai dengan “bismi rabbik”, maka sekolah tidak hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga manusia yang beradab.
Di sinilah Seri Epistemologi Qurani menawarkan sebuah tesis sederhana tetapi mendasar: krisis terbesar bangsa ini bukan semata-mata krisis ekonomi, melainkan krisis cara membaca kehidupan.
Kita telah belajar membaca gunung, tetapi lupa membaca amanah.
Kita telah belajar membaca pasar, tetapi lupa membaca keadilan.
Kita telah belajar membaca teknologi, tetapi lupa membaca hikmah.
Kita telah belajar membaca pertumbuhan, tetapi lupa membaca keberkahan.
Karena itu, jalan menuju baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafūr tidak dimulai dari mengejar angka-angka ekonomi, melainkan dari memperbaiki epistemologi bangsa. Sebab ketika cara membaca telah benar, ilmu akan menemukan arah, teknologi akan menemukan tujuan, ekonomi akan menemukan keadilan, dan pembangunan akan menemukan keberkahannya.
Mungkin itulah makna terdalam dari perintah pertama Al-Qur’an.
Bukan sekadar “Iqra'”.
Tetapi “Iqra’ bismi rabbik.”
Sebab dari sanalah sebuah bangsa tidak hanya belajar menjadi negara maju, tetapi belajar menjadi peradaban yang diberkahi Allah.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
