Membingkai Hati dengan Husnudzon: Catatan dari Kuliah Subuh Masjid Darul Arqom

​Oleh: Suharson, Pengurus DDII Kota Pasuruan

Dewandakwahjatim.com, ​PASURUAN – Dari Masjid Darul Arqom yang terletak di Jalan KH Wachid Hasyim 202, Pasuruan, pada Sabtu pagi (27/6). jemaah tampak khusyuk mengikuti Kuliah Subuh yang menghadirkan Ustadz Muhammad Said Mahfudz. Dalam ceramahnya kali ini, beliau mengupas tuntas tentang manajemen hati yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, yakni tentang prasangka.

​Ustadz Muhammad Said Mahfudz mengawali kajiannya dengan memetakan prasangka menjadi dua bagian besar: prasangka baik (husnudzon) dan prasangka buruk (suudzon). Beliau memberikan penekanan mendalam pada bahaya berprasangka buruk, terutama prasangka buruk kepada Allah SWT.
​”Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi menegaskan bahwa Allah berfirman: ‘Ana ‘inda dzonni ‘abdi bi’, yang artinya Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku,” ujar Ustadz Muhammad Said, mengingatkan jemaah betapa pentingnya menjaga pikiran positif kepada Sang Pencipta dalam segala situasi.

​Kisah Sahabat: Air Mata Penyesalan dan Akhir yang Indah
​Untuk memperjelas betapa luasnya ampunan Allah bagi mereka yang menjaga husnudzon, Ustadz Muhammad Said mengisahkan sebuah riwayat di zaman Rasulullah SAW.

Dikisahkan, seorang sahabat diutus oleh Baginda Nabi untuk sebuah urusan. Di tengah perjalanan, ia tak sengaja melihat bayangan sekilas menyerupai sosok perempuan tanpa busana di dalam sebuah rumah. Padahal, ia tidak melihatnya secara nyata atau sengaja.
​Namun, rasa takut dan malu yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya membuat sahabat tersebut tidak berani kembali. Ia memilih mengasingkan diri ke atas bukit, menangis siang dan malam memohon ampunan.

Karena beberapa hari tak kunjung kembali, Rasulullah SAW mengutus Umar bin Khattab untuk mencarinya.

​Di perjalanan, Umar bertemu seorang pengembala. Saat ditanya mengenai ciri-ciri sahabat tersebut, sang pengembala menjawab, “Ya, orang itu sering datang meminta minum susu dan makanan, lalu kembali lagi ke bukit. Tunggu saja di sini.” Tak lama, sahabat yang dicari muncul dan terkejut mendapati keberadaan Umar.

​Ia pun dibawa menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan seluruh beban di hatinya. Akibat tekanan batin dan kondisi fisik yang merosot tajam, sahabat tersebut akhirnya jatuh sakit hingga menghadapi sakaratul maut. Di saat-saat terakhirnya, Rasulullah SAW bertanya mengenai apa yang ia harapkan. Sahabat itu menjawab bahwa ia sangat takut akan siksa Allah, namun di saat yang sama, ia sangat mengharapkan ampunan-Nya dan rindu dimasukkan ke surga.

Berkat prasangka baiknya yang tinggi akan rahmat Allah di akhir hayatnya, ia wafat dalam keadaan husnul khatimah—sebuah makam (kedudukan) tertinggi di sisi Allah SWT.

​Khalifah Umar dan Tabir Rahasia Sang Gubernur
​Tak hanya tentang hubungan vertikal kepada Allah, Ustadz Muhammad Said juga menarik keteladanan dari kisah hubungan horizontal antarmanusia di masa Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika, Umar ditegur keras oleh seorang sahabat, “Wahai Umar, bertakwalah engkau kepada Allah!”

Meski menjabat sebagai pemimpin tertinggi (Khalifah), Umar tidak marah. Beliau justru melihat ketulusan hati orang tersebut dan di kemudian hari mengangkatnya menjadi Gubernur di wilayah Hims (Hiz).

​Setelah sekian tahun berlalu, Khalifah Umar melakukan kunjungan kerja ke Hims untuk mendengar langsung aspirasi rakyat. Mengejutkan, rakyat menyampaikan empat keluhan utama terkait sang gubernur:

​Tidak mau menemui rakyatnya di waktu pagi hari.

​Tidak mau menerima tamu di waktu malam hari.

​Tidak keluar rumah sama sekali selama satu hari dalam sebulan.

​Seringkali pingsan tiba-tiba di tengah-tengah pertemuan.

​Umar kemudian meminta sang gubernur menjelaskan alasan di balik kebijakan aneh tersebut agar tidak menimbulkan suudzon (prasangka buruk) di tengah masyarakat.

Penjelasan sang gubernur justru menyayat hati:
​Ia tidak keluar di pagi hari karena harus membantu istrinya yang sakit menyelesaikan urusan rumah tangga terlebih dahulu.

​Ia tidak menerima tamu di malam hari karena waktu malam sepenuhnya ia gunakan untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah.

​Ia tidak keluar satu hari dalam sebulan karena ia hanya memiliki selembar pakaian, sehingga hari itu khusus digunakan untuk mencuci dan menunggu pakaiannya kering.

​Ia sering pingsan dalam pertemuan karena mendadak teringat akan beratnya pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak atas rakyat yang dipimpinnya.

​Mendengar hal itu, Khalifah Umar dan rakyatnya menangis.

Kisah ini menjadi tamparan keras sekaligus pelajaran berharga bagi jemaah Masjid Darul Arqom pagi itu, bahwa di balik sesuatu yang terlihat ganjil di mata manusia, seringkali ada alasan mulia yang tidak kita ketahui. Oleh karena itu, menjaga prasangka baik adalah kunci keselamatan hati.

​Kuliah Subuh yang berlangsung hangat dan penuh ilmu ini diakhiri dengan untaian doa bersama untuk keselamatan umat, bangsa, dan keteguhan iman.

Jemaah kemudian membubarkan diri dengan tertib setelah bersama-sama melafalkan doa kafaratul majlis dan saling mengucapkan salam.
​Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.
​Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *