Oleh Sudono Syueb, Bidang Kominfo DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Syekh Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala) dikenal sebagai penulis Kitab Tafsir bertajuk Tarjuman al-Mustafid. Kitab ini merupakan kitab tafsir Al-Qur’an pertama di Nusantara yang ditulis secara lengkap 30 juz menggunakan bahasa Melayu beraksara Jawi (Arab gundul). Ditulis pada abad ke-17 (sekitar tahun 1670-an) saat beliau menjabat sebagai Qadhi Malik al-Adil (Mufti Agung) di Kerajaan Aceh Darussalam. (1)
Berikut adalah analisa mengenai metodologi, karakteristik, polemik sumber, serta signifikansi kitab legendaris ini:
- Metodologi Penafsiran
Abdurrauf as-Singkili menerapkan pendekatan yang sangat sistematis agar mudah dipahami oleh masyarakat Melayu awam pada masanya: (2)
- Metode Tahlili (Analitis) & Ijmali (Global)
Secara struktur, tafsir ini bersifat tahlili karena menguraikan ayat demi ayat secara berurutan sesuai susunan mushaf Al-Qur’an (dimulai dari Surah Al-Fatihah hingga An-Nas). Namun, penjelasannya dikemas secara ijmali—singkat, padat, dan langsung pada inti makna teks tanpa penjabaran teologis yang rumit. (3)
- Bentuk Tafsir (Al-Tafsir bil Ma’tsur)
Dominasi penafsiran bersandar pada riwayat (hadis, perkataan sahabat, dan mufasir otoritatif terdahulu). (4)
- Karakteristik dan Corak Penafsiran
Sebagai seorang ulama multidisiplin yang menguasai syariat dan hakikat, as-Singkili meramu tafsir ini dengan beberapa corak (5)
- Corak Teologi (Aqidah)
Kitab ini kental dengan nafas teologi Asy’ariyah. Melalui tafsir ini, as-Singkili berusaha meredam ketegangan konflik paham Wujudiyah (pantheisme ekstrem) yang sempat mengguncang Aceh pada periode sebelumnya. (6)
- Corak Fikih
Responsif terhadap kebutuhan praktis masyarakat hukum adat Melayu. Misalnya, saat menjelaskan ayat tentang transaksi atau hukum waris, as-Singkili memasukkan pandangan mazhab Syafi’i yang menjadi pegangan kesultanan. (7)
- Corak Tasawuf (Isyari-Amali)
Mengingat as-Singkili adalah mursyid utama Tarikat Syattariyah di Nusantara, nuansa tasawuf hadir dalam bentuk akhlak dan penyucian jiwa (tasawuf akhlaki/amali) secara proporsional tanpa mengabaikan aspek lahiriah ayat. (8)
- Kelengkapan Fitur
Uniknya, as-Singkili secara konsisten mencantumkan keterangan mengenai ikhtilaf qira’at (perbedaan ragam bacaan imam qurra’), asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), serta hukum nasikh-mansukh di sela-sela penafsirannya. (9)
- Polemik Sumber Teks (Oto-Kritik Akademis)
Di kalangan orientalis dan peneliti barat (seperti Snouck Hurgronje, Rinkes, dan Voorhoeve), sempat muncul klaim bahwa Tarjuman al-Mustafid bukanlah karya tafsir mandiri, melainkan sekadar terjemahan harfiah dari kitab bahasa Arab. Ada dua teori utama yang melingkupinya: (10)
- Teori Tafsir Al-Baidhawi
Lembar penutup (kolofon) kitab cetakan lama menyebutkan kitab ini mengambil rujukan dari Tafsir Anwar at-Tanzil karya Al-Baidhawi. (11)
- Teori Tafsir Al-Jalalain (Peter G. Riddell & Salman Harun)
Melalui riset tekstual yang mendalam, para pakar membuktikan bahwa struktur kalimat, keringkasan, dan penjelasan kosakata dalam Tarjuman al-Mustafid justru hampir 80% identik dengan Tafsir Jalalain karya Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli. (12)
- Kesimpulan Analisis Sumber
Kitab ini bukan sekadar terjemahan jiplakan. As-Singkili melakukan proses adaptasi dan kontekstualisasi. Beliau menggunakan struktur Tafsir Jalalain sebagai kerangka utama, kemudian memperkayanya secara kreatif dengan catatan kaki dari Tafsir Al-Baidhawi dan Tafsir Al-Khazin untuk memperjelas aspek qira’at maupun kisah penunjang. (13)
- Signifikansi dan Kontribusi Bagi Nusantara
- Jembatan Transmisi Keilmuan
Berhasil membumikan khazanah intelektual Islam Timur Tengah ke dalam bahasa lokal yang dipahami oleh rumpun Melayu-Nusantara.
- Standarisasi Aksara Jawi
Menjadi cetak biru bagi perkembangan literatur keislaman berbahasa Melayu-Jawi di kawasan Asia Tenggara pada abad-abad berikutnya.
Legitimasi Politik damai: Ditulis di bawah naungan penguasa perempuan, Sultanah Tajul ‘Alam Safiyyatuddin Syah. Tafsir ini menjadi instrumen hukum dan panduan moral kenegaraan yang stabil tanpa terjebak dalam kepentingan politik praktis. (14)
- Kelebihan dan Kekurangan Kitab
Aspek aksesibilitas, bahasanya sangat ringkas, langsung menerjemahkan maksud kata demi kata (makna gandul versi Melayu).
Tantangannya, gaya bahasa Melayu klasik abad ke-17 terasa asing bagi generasi milenial/Gen-Z saat ini jika tidak ditransliterasi.
Metodenya sangat kaya akan materi penunjang seperti ilmu Qira’at dan Asbabun Nuzul dalam satu tempat.
Tetapi analisis kontekstual atau interaksi sosial kontemporer kurang mendalam karena sifatnya yang global (ijmali)
Sumber:
1.journal.staidk.ac.id
2.ikadi.or.id
3.journal.dtaidk.ac.id
4.repositioy.UIN.SUKA
5.Rumah Jurnal STIKIP Subang
6.journal.staidk.ac.id
7.Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
8.Repository UIN Suska
Corak Tasawuf (Isyari
9.journal.staidk.ac.id
10.ikadi.or.id
11.journal.staidk.ac.id
12.ikadi.or.id
13.ikadi.or.id
14.journal.staidk.ac.id
Admin: Kominfo DDII Jatim
