TEMAN DEKATMU : MENGAJAK KE SURGA ATAU KE NERAKA

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam berteman hendaknya senantiasa selektif, berteman karena Allah akan mengajakmu ke Surga sebaliknya salah dalam memilih teman akan terbawamu ke Neraka.

Kholifah Al Ma’mun rohimahullah, adik dari Kholifah Harun Arrasid rohimahullah membagi teman menjadi tiga. Lihat goresan beliau dalam kitabnya Al ‘uyuunul Akhyar jilit 1/280.

قال المأمون رحمه الله : (الإخوان ثلاث طبقات : طبقة كالغذاء لا يستغنى عنه، وطبقة كالدواء لا يحتاج إليه إلا أحيانا، وطبقة كالداء لا يحتاج إليه أبدا) (عيون الأخيار، ١/٢٨٠)

Al-Ma’mun rohimahulloh pernah berkata :
Al Ikhwan (teman) itu ada tiga tingkatan : (1) Tingkatan yang seperti makanan, yang tidak mungkin seseorang merasa cukup tanpa keberadaannya. (2) Tingkatan yang seperti obat, yang hanya dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu.(3) Tingkatan yang seperti penyakit, yang sama sekali tidak dibutuhkan.”( Al ‘uyuunul Akhyar 1/280)

  1. Teman yang seperti makanan.
    Yaitu teman yang keberadaannya sangat penting bagi agama dan kehidupan seseorang. Dia membantu dalam ketaatan, mengingatkan ketika lalai, menasihati ketika salah, dan mendukung dalam kebaikan.

Sebagaimana manusia membutuhkan makanan setiap hari untuk menjaga kehidupan jasadnya, demikian pula seorang mukmin membutuhkan sahabat yang sholih untuk menjaga kehidupan hatinya.

Alloh ta’ala berfirman :

وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al-Kahfi : 28)

Sabda Nabi SAW.

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Pentingnya memilih teman yang sholih.

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

a. Karena teman itu memiliki pengaruh besar terhadap agama dan akhlak seseorang.

Teman yang didasari karena Allah adalah apabila temannya berbuat maksiat, maka ia menegur dan melarangnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas:

خَيْرُ جُلَسائِكُمْ مَنْ ذَكَّرَكُمُ الله رُؤيَتُهُ وَزَادَ فِي عَمَلِكُمْ مَنْطِقهُ وَذَكَّرَكُمْ الآخِرَةَ عَمَلُهُ
Artinya: Sebaik-baiknya teman adalah teman yang saat kamu memperhatikanmu, ingat kepada Allah dan ucapannya memotivasi ibadahmu dan amal perbuatannya mengingatkanmu akhirat (Jami’ Saghir, 1//6652)

Maksudnya adalah memilih teman sebaiknya diluruskan niatnya, sebab pertemanan atas dasar karena Allah akan membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Teman yang paling baik adalah teman yang dengan melihatnya, mengingatkan kalian kepada Allah, ucapannya menambahkan ilmu bagi kalian, dan perbuatannya mengingatkan kalian akan akhirat.

b.Tidak semua teman memiliki kedudukan yang sama.

Ada teman yang harus dijaga dan didekati, ada yang cukup pada batas tertentu, dan ada yang harus dijauhi. Ini termasuk hikmah dalam bergaul dengan orang lain.

c. Kebutuhan seorang mukmin terhadap sahabat/teman yang sholih itu sangat besar.

Ya, karena hati manusia itu mudah lemah dan lalai. Karenanya kita membutuhkan orang yang bisa mengingatkannya kepada Alloh.

Sebagian ulama Salaf ada yang berkata :

ما شيء أقر لعين المؤمن من أخ صالح

Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin daripada saudara yang sholih

2.Teman yang seperti obat.
Yaitu teman yang pada dasarnya baik, tetapi kebutuhan terhadapnya tidak terus-menerus. Kadang kita memerlukan bantuan, nasihat, pengalaman, atau ilmunya pada keadaan tertentu saja.

Seperti dokter yang hanya didatangi ketika sakit, atau obat yang hanya digunakan ketika diperlukan.

Teman jenis ini tetap memiliki manfaat, namun tidak sampai pada tingkat kebutuhan yang terus-menerus.

Wajib menjauhi teman yang bisa merusak agama kita.

Karena keselamatan agama lebih berharga daripada mempertahankan pergaulan/pertemanan yang buruk.

  1. Teman yang seperti penyakit.
    Yaitu teman yang membawa madhorot (bahaya) bagi agama atau dunia seseorang. Dia mengajak kepada maksiat, ghibah, syubhat, bid’ah, permusuhan, atau menyia-nyiakan waktu.

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan : larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam Agama dan dunia.”( Fathul Bari 4/324)

Keberadaannya justru merusak, sebagaimana penyakit bisa merusak tubuh.

Alloh ta’ala berfirman :

وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.

يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrab(ku).(QS Al-Furqon : 27-28)

Dan firman Allah :

الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين

Teman-teman akrab pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS. Az-Zukhruf: 67)

Islam sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh telah mengatur bagaimana adab-adab serta batasan-batasan dalam pergaulan. Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dampak buruk akan menimpa seseorang akibat bergaul dengan teman-teman yang jelek, sebaliknya manfaat yang besar akan didapatkan dengan bergaul dengan orang-orang yang baik.

Pengaruh Teman Bagi Seseorang

Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Perintah Untuk Mencari Teman yang Baik dan Menjauhi Teman yang Jelek.

Imam Muslim rahimahullah mencantumkan hadits di atas dalam Bab : “Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan Menjauhi Teman yang Buruk”.

Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227)

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan : “Hadits di ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”( Fathul Bari 4/324)

Manfaat Berteman dengan Orang yang Baik.

Hadits di atas mengandung faedah bahwa bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita.

Bergaul bersama dengan teman yang shalih akan mendatangkan banyak kebaikan, seperti penjual minyak wangi yang akan memeberikan manfaat dengan bau harum minyak wangi. Bisa jadi dengan diberi hadiah olehnya, atau membeli darinya, atau minimal dengan duduk bersanding dengannya , engkau akan mendapat ketenangan dari bau harum minyak wangi tersebut.

Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama daripada harumnya aroma minyak wangi. Dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan Agamamu. Dia juga akan memeberimu nasihat. Dia juga akan mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka. Dia juga senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Dia juga mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap.

Sahabat Nabi yang mulia, Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu pernah berkata :

اعتبروا الناس بأخدانهم

Kenalilah seseorang itu dari teman-teman dekatnya.

Ukuran utama dalam menilai teman adalah bermanfaat bagi Agama.

Bukan semata-mata karena lama bergaul, berteman, banyak bercanda, atau adanya kepentingan duniawi, tetapi sejauh mana dia membantu kita untuk bisa mendekat kepada Alloh ta’ala.

Sebaliknya, bergaul dengan teman yang buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita.

Syaikh As Sa’di rahimahulah juga menjelaskan bahwa berteman dengan teman yang buruk memberikan dampak yang sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya.

Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak.

Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. (Bahjatu Qulubil Abrar, 185)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *