Oleh Sudono Syueb, Bidang Kominfo DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Setiap hari, kita semua adalah seorang petani. Waktu adalah ladangnya, dan tindakan kita adalah benihnya.
Ada sebuah pesan bijak: الزرع زرعان (Menanam itu ada dua jenis).
Pertama, زرع الشجر (Menanam Pohon).
Kita bekerja keras membangun karier, mengumpulkan materi, dan mendirikan kemegahan fisik. Itu baik. Manusia di sekitar kita bisa berteduh dan menikmati buahnya hari ini. Namun, ingatlah bahwa setiap pohon fisik suatu saat akan tumbang, melapuk, dan hilang ditelan waktu.
Kedua, زرع الأثر (Menanam Jejak).
Inilah investasi yang sesungguhnya. Ketika Anda menanam ilmu, mengukir senyum di wajah yang terluka, mendidik dengan kasih sayang, atau meninggalkan keteladanan yang jujur—Anda sedang menanam atsar (jejak).
Pohon fisik dipetik hasilnya oleh manusia atau hewan di dunia. Namun, jejak kebaikan akan Anda petik hasilnya saat raga Anda sudah terbujur kaku di dalam kubur.
Ketika nama kita sudah dihapus dari daftar orang hidup, dan wajah kita mulai dilupakan oleh dunia, hanya ada satu hal yang tetap bergema yaitu jejak kebaikan yang pernah kita tanam di hati orang lain.
Jangan hanya sibuk membangun apa yang bisa dilihat mata. Mulailah sibuk menanam apa yang akan terus mengalirkan doa.
Sebab pada akhirnya, kita tidak mati dengan membawa apa yang kita miliki, melainkan oleh apa yang telah kita beri pada pihak lain.
Maka jadilah penanam jejak kebaikan yang abadi.
Simpulannya:
الزرع زرعان:
١. زرع الشجر
٢. وزرع الأثر
فزرع الشجر يحصده البشر، وزرع الأثر يحصده بعد الموت الأثر.
Menanam itu ada dua:
- Menanam pohon,
- Menanam atsar [kesan/amal kebaikan].
Menanam pohon hasilnya dipetik oleh manusia/hewan, sedangkan menanam atsar hasilnya akan dipetik setelah mati.)
Admin: Kominfo DDII Jatim
