Membaca Diagram Prof. Didin S. Damanhuri tentang Masa Depan Program Makan Bergizi Gratis
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Di tengah perdebatan yang mengiringi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagian orang melihatnya sebagai beban anggaran negara, sementara sebagian yang lain melihatnya sebagai investasi terbesar bagi masa depan bangsa. Namun diagram yang disusun Prof. Didin S. Damanhuri mengajak kita melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sekadar apakah program ini baik atau buruk, melainkan bagaimana sebuah program yang baik dapat gagal jika masuk ke dalam lingkaran setan, dan bagaimana program yang sama dapat menjadi penggerak kemajuan bangsa jika berhasil masuk ke dalam lingkaran kebajikan.
Inilah keunikan diagram tersebut. Prof. Didin tidak memulai analisisnya dari ideologi, sentimen politik, atau perdebatan partisan. Ia memulai dari cara berpikir sistemik. Sebuah program publik tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berinteraksi dengan kekuasaan, birokrasi, anggaran, pelaku ekonomi, masyarakat, dan budaya tata kelola. Karena itu keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh ekosistem yang mengelilinginya.
Pada sisi kiri diagram, Prof. Didin menunjukkan kemungkinan lahirnya Political Rent Seeking Loop atau lingkaran rente politik. Program yang seharusnya menjadi instrumen pelayanan publik berpotensi berubah menjadi arena perebutan proyek. Kedekatan politik melahirkan penguasaan pengadaan. Penguasaan pengadaan membuka peluang kebocoran anggaran. Kebocoran anggaran menurunkan efektivitas program. Efektivitas yang rendah memunculkan ketidakpuasan publik. Ketidakpuasan publik kemudian dimanfaatkan kembali dalam mobilisasi politik jangka pendek. Lingkaran itu terus berputar dan memperkuat dirinya sendiri.
Yang menarik, kerusakan dalam diagram ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh secara bertahap. Seperti tetesan air yang perlahan menggerus batu, penyimpangan kecil yang dibiarkan akhirnya berkembang menjadi pola yang sistemik. Inilah sebabnya Prof. Didin menyebutnya sebagai reinforcing loop, yaitu lingkaran yang memperkuat masalah.
Lingkaran setan kedua muncul melalui sentralisasi pengadaan. Ketika pengadaan terlalu terpusat, korporasi besar cenderung lebih mudah mendominasi rantai pasok. Akibatnya UMKM, petani, peternak, nelayan, dan pelaku ekonomi lokal semakin tersisih. Produksi lokal melemah, pendapatan desa menurun, dan ketergantungan pada pasokan eksternal meningkat. Program yang seharusnya menggerakkan ekonomi rakyat justru berpotensi memperkuat konsentrasi ekonomi pada kelompok tertentu.
Lingkaran ketiga berkaitan dengan kualitas dan keamanan pangan. Pengawasan yang lemah, standar yang tidak terpenuhi, dan keterlambatan evaluasi dapat memunculkan berbagai persoalan, mulai dari penurunan kualitas hingga kasus keracunan. Ketika kepercayaan publik menurun, efektivitas program pun ikut turun. Sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas generasi muda justru dapat kehilangan legitimasi sosialnya.
Namun kekuatan terbesar diagram Prof. Didin bukan terletak pada kemampuannya memetakan risiko. Kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuannya menunjukkan jalan keluar.
Pada sisi kanan diagram muncul apa yang disebut sebagai Virtuous Circle atau Lingkaran Kebajikan. Jika lingkaran setan memperkuat kerusakan, maka lingkaran kebajikan memperkuat manfaat.
Lingkaran kebajikan pertama dibangun melalui desentralisasi dan ekonomi rakyat. Dapur MBG tidak dipusatkan pada korporasi besar, tetapi berbasis UMKM, koperasi, sekolah, pesantren, dan komunitas lokal. Bahan pangan dibeli dari petani, peternak, dan nelayan setempat. Pendapatan masyarakat meningkat. Produksi pangan lokal bertambah. Multiplier ekonomi daerah menguat. Kemiskinan berkurang. Pada titik ini MBG tidak lagi sekadar program makan siang. Ia berubah menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat.
Lingkaran kebajikan kedua berkaitan dengan investasi sumber daya manusia. Gizi yang lebih baik menghasilkan kualitas kesehatan yang lebih baik. Kesehatan yang lebih baik meningkatkan kualitas sumber daya manusia. SDM yang berkualitas mendorong produktivitas nasional. Produktivitas meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memperbesar kapasitas fiskal negara untuk kembali berinvestasi pada manusia. Sebuah siklus positif yang terus memperkuat dirinya sendiri.
Di sinilah MBG harus dilihat bukan sebagai pengeluaran semata, tetapi sebagai investasi jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa maju bukan hanya membangun jalan, pelabuhan, dan pabrik. Mereka membangun manusia. Sebab manusia yang sehat, cerdas, dan produktif adalah modal terbesar sebuah negara.
Lingkaran kebajikan ketiga adalah tata kelola yang baik. Transparansi, audit digital, dan keterbukaan data mengurangi peluang kebocoran anggaran. Ketika kebocoran menurun, kualitas program meningkat. Ketika kualitas meningkat, kepercayaan publik tumbuh. Ketika kepercayaan publik tumbuh, dukungan masyarakat semakin kuat. Dukungan yang kuat membuat program lebih berkelanjutan. Sekali lagi, kebaikan melahirkan kebaikan berikutnya.
Diagram Prof. Didin pada akhirnya mengajarkan satu pelajaran yang sangat penting. Program yang sama dapat menghasilkan dua masa depan yang berbeda. Ia dapat menjadi lingkaran setan yang menguras anggaran tanpa dampak berarti. Namun ia juga dapat menjadi lingkaran kebajikan yang memperkuat ekonomi rakyat, meningkatkan kualitas SDM, dan memperkokoh kepercayaan publik.
Perbedaannya bukan pada nama programnya.
Perbedaannya bukan pada besar kecilnya anggaran.
Perbedaannya terletak pada tata kelola, keberpihakan, dan arah kebijakan yang dipilih.
Karena itu pertanyaan terpenting bukanlah apakah MBG layak didukung atau ditolak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: ke lingkaran mana program ini akan diarahkan?
Apakah ia akan masuk ke dalam lingkaran rente, sentralisasi, dan kebocoran?
Ataukah ia akan masuk ke dalam lingkaran ekonomi rakyat, investasi SDM, dan tata kelola yang baik?
Di situlah sesungguhnya masa depan Program Makan Bergizi Gratis akan ditentukan. Sebab sebagaimana ditunjukkan Prof. Didin S. Damanhuri, nasib sebuah program publik tidak ditentukan oleh niat baik semata, melainkan oleh sistem yang mengelolanya. Dan sistem yang baik adalah sistem yang mampu mengubah anggaran menjadi manfaat, manfaat menjadi kesejahteraan, dan kesejahteraan menjadi kemajuan bangsa.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
