Oleh Sudono Syueb, Pengurus DDII Jatim Bidang Kominfo
Dewandakwahjatim.com, Surabaya — Mari kita istiqamah ke masjid pada pagi (ghadaa) dan sore (raaha) untuk menunaikan shalat maktubah 5 waktu berjamaah.
Menurut Rasulullah SAW bahwa rang-orang lslam yang biasa ke masjid pada waktu Ghadaa dan Raaha untuk shalat maktubah berjamaah disediakan tempat tinggal⁶ di surga oleh Allah Ta’ala.
قال رسول الله ﷺ: “مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ، أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang berangkat ke masjid pada pagi atau sore hari, niscaya Allah menyiapkan baginya tempat tinggal di surga setiap kali ia berangkat baik pagi atau sore hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini adalah motivasi besar untuk selalu rajin berjalan kaki menuju masjid guna melaksanakan shalat berjamaah, karena setiap langkahnya mendatangkan balasan istimewa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Poin Penting Hadis
- Keutamaan Masjid: Setiap langkah kaki menuju rumah Allah bernilai pahala yang sangat besar. Setiap kaki kanan melangkah dapat 1 pahala dan kaki kiri menghapus 1 dosa.
- Arti Kata Nuzul: Kata nuzul berarti hidangan pembuka atau tempat tinggal yang nyaman yang disiapkan khusus untuk menyambut tamu kehormatan.
- Balasan Kontinu: Berulang kalinya seseorang memakmurkan masjid berbanding lurus dengan banyaknya jamuan yang Allah siapkan di surga nanti.
Makna Waktu Ghada dan Raaha
Dalam bahasa Arab klasik, kata ghada (غَدَا) dan raha (رَاحَ) secara harfiah merujuk pada pembagian waktu perjalanan dalam satu hari.
Berikut adalah penjelasan makna kedua waktu tersebut berdasarkan penjelasan para ulama hadis:
- Makna Secara Bahasa (Lughawi)
- Ghada (غَدَا – يَغْدُو – غَدْوَةً): Perjalanan yang dilakukan pada awal pagi hari, yaitu rentang waktu antara terbitnya fajar (subuh) hingga matahari terbit ataiu sebelum masuk waktu zuhur.
- Raha (رَاحَ – يَرُوحُ – رَوَاحًا): Perjalanan yang dilakukan pada siang menjelang sore hari, yaitu rentang waktu setelah matahari tergelincir ke barat (masuk waktu zuhur) hingga tenggelamnya matahari (magrib).
- Makna Secara Istilah dalam Hadis
- Meskipun secara bahasa kedua kata ini merujuk pada waktu pagi dan sore, para ulama hadis (seperti Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari) menjelaskan bahwa penyebunan kedua waktu ini dalam hadis tersebut memiliki makna majaz (kiasan) yang luas:
- Mencakup Seluruh Waktu Salat: Penggunaan kata ghada dan raha mewakili seluruh waktu dalam satu hari penuh. Ghada mewakili salat-salat di waktu pagi (seperti Subuh), sedangkan raha mewakili salat-salat di waktu siang, sore, hingga malam (seperti Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya).
- Tidak Terbatas pada Waktu Tertentu: Hadis ini menggunakan gaya bahasa Arab untuk menunjukkan keberangkatan kapan saja. Artinya, setiap kali Anda melangkah ke masjid—baik di waktu pagi, siang, sore, maupun malam hari—Anda tetap mendapatkan keutamaan jamuan hidangan di surga tersebut.
- Menunjukkan Kegigihan: Pemilihan dua kata ini juga mengisyaratkan seseorang yang selalu bolak-balik memakmurkan masjid di sela-sela kesibukan harinya, baik saat memulai aktivitas di pagi hari maupun saat melepas penat di sore hari.
Intinya, hadis ini tidak membatasi pahala hanya untuk orang yang ke masjid pada pagi dan sore saja, melainkan jaminan jamuan surga bagi siapa saja yang merutinkan diri pergi ke masjid di waktu salat kapan pun.
Admin: Kominfo DDII Jatim
