KUBUR DALAM PERSPEKTIF WORLDVIEW WAHYU

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
Setiap Hari Ia Menyerumu, Tetapi Berapa Kali Engkau Mendengarnya?

يُقَالُ إِنَّ الْقَبْرَ يُنَادِي ابْنَ آدَمَ كُلَّ يَوْمٍ فَيَقُولُ:

يَا ابْنَ آدَمَ، تَفْرَحُ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِي، وَغَدًا قَدْ تُحْزَنُ فِي بَطْنِي.

“Wahai anak Adam, hari ini engkau bergembira di atas punggungku, dan esok engkau akan bersedih di dalam perutku.”

تَضْحَكُ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِي، وَغَدًا قَدْ تَبْكِي عَلَى ظَهْرِي.

“Hari ini engkau tertawa di atasku, dan esok engkau akan menangis di atasku.”

تَعِيشُ فَوْقِي، وَتَنْسَى أَنَّ النِّهَايَةَ عِنْدِي.

“Engkau hidup di atasku, tetapi engkau lupa bahwa akhir perjalananmu ada padaku.”

تَأْكُلُ وَتَشْرَبُ وَتَجْمَعُ وَتُخَطِّطُ، وَكَأَنَّكَ بَاقٍ لَا تَرْحَلُ.

“Engkau makan, minum, mengumpulkan, dan merencanakan segalanya seolah-olah engkau tidak akan pernah pergi.”

لَكِنْ تَذَكَّرْ: الْمَوْتُ كَأْسٌ وَكُلُّ النَّاسِ شَارِبُهُ، وَالْقَبْرُ بَابٌ وَكُلُّ النَّاسِ دَاخِلُهُ.

“Tetapi ingatlah, kematian adalah cawan dan setiap manusia pasti akan meminumnya. Kubur adalah pintu dan setiap manusia pasti akan memasukinya.”

يَا رَبِّ، لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا الْقَبْرَ أَوَّلَ نَدَمِنَا، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا.

“Ya Rabb kami, jangan jadikan dunia sebagai kegelisahan terbesar kami. Jangan jadikan kubur sebagai awal penyesalan kami. Ya Allah, indahkanlah akhir hidup kami.”

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ.

“Ya Tuhanku, jangan Engkau biarkan aku sendirian, dan Engkaulah sebaik-baik Pewaris.”

Dalam worldview wahyu, kubur bukan sekadar lubang tanah tempat jasad dikembalikan. Ia adalah ayat kehidupan yang paling sunyi, tetapi paling jujur. Setiap hari manusia berjalan di atas bumi sambil merasa dirinya kuat, sibuk membangun mimpi, mengejar dunia, mengumpulkan pujian, dan menyusun masa depan seolah kematian hanyalah cerita untuk orang lain.

Padahal diam-diam tanah sedang menunggu tubuhnya.

Manusia modern mampu membaca angka, data, pasar, bahkan menjelajah langit dengan teknologi. Tetapi sering kali gagal membaca satu kenyataan paling pasti: bahwa dirinya sedang berjalan menuju kubur.

Di sinilah tragedi epistemologis manusia bermula.

Ia mengetahui banyak hal, tetapi lupa mengenali dirinya sendiri. Ia mampu memahami dunia, tetapi gagal memahami untuk apa ia hidup. Dunia dibaca hanya dengan akal dan ambisi, bukan dengan cahaya wahyu. Akibatnya manusia kehilangan makna di tengah limpahan pengetahuan.

Kubur lalu datang sebagai penghancur seluruh ilusi itu.

Di hadapan liang lahat:

gelar kehilangan kemegahan,

jabatan kehilangan kuasa,

harta kehilangan nilai,

dan tubuh yang dulu dipuja perlahan menjadi tanah.

Maka kubur dalam perspektif worldview wahyu bukan sekadar simbol kematian, tetapi kritik ilahiah terhadap kesombongan manusia. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan tentang siapa paling lama bertahan di dunia, tetapi siapa yang paling benar membaca dunia sebagai ayat menuju Allah.

Karena itu orang beriman tidak melihat kubur hanya dengan rasa takut, tetapi juga dengan kesadaran.

Bahwa dunia hanyalah persinggahan.
Bahwa kehidupan adalah ujian.
Bahwa kematian bukan akhir perjalanan, melainkan awal tersingkapnya seluruh kebenaran.

Dan mungkin tragedi terbesar manusia bukan ketika tubuhnya masuk ke liang kubur…

tetapi ketika sepanjang hidupnya ia sibuk membaca dunia, namun tidak pernah benar-benar membaca Tuhan di balik dunia itu.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *