Dari Melawan Gereja Menuju Mendewakan Akal

Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
/

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Epistemologi modern lahir sebagai gerakan emansipatoris. Ia muncul dari pergulatan panjang manusia Barat melawan dominasi gereja abad pertengahan yang memonopoli kebenaran. Dalam konteks itu, akal dibebaskan dari kungkungan otoritas. Manusia mulai diajarkan untuk bertanya, meragukan, meneliti, dan berpikir secara mandiri.

Dari sinilah lahir revolusi sains, filsafat modern, dan peradaban teknologi.

Namun problem besar muncul ketika pembebasan itu bergerak terlalu jauh. Akal yang awalnya hanya dijadikan alat untuk mencari kebenaran perlahan berubah menjadi sumber kebenaran tertinggi. Modernitas akhirnya bergerak:

dari melawan dogma,

menuju membangun dogma baru bernama rasionalisme,

bahkan mendewakan manusia itu sendiri.

Akibatnya, manusia modern berhasil menaklukkan alam, tetapi kehilangan orientasi makna. Ia mampu menjelaskan bagaimana dunia bekerja, tetapi semakin bingung untuk apa hidup dijalani.

Di sinilah relevansi besar gagasan Iqra’ sebagai epistemologi esensial manusia.

Wahyu pertama dalam Islam bukan:

“percaya”,

“taat”,

atau “diam”.

Tetapi:

اقْرَأْ
“Bacalah.”

Ini sangat revolusioner secara epistemologis.

Iqra’ bukan sekadar perintah membaca teks, tetapi fondasi kesadaran manusia sebagai makhluk epistemik—makhluk pencari makna dan pengetahuan. Manusia diciptakan bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk membaca:

membaca alam,

membaca sejarah,

membaca diri,

membaca realitas sosial,

bahkan membaca kegelisahan batinnya sendiri.

Dalam perspektif ini, manusia memang makhluk berpikir. Dan berpikir selalu melahirkan pertanyaan. Sedangkan pertanyaan adalah gerbang pencarian kebenaran.

Namun berbeda dengan epistemologi modern yang sering berhenti pada akal empiris semata, epistemologi Iqra’ memandang bahwa pencarian manusia tidak boleh terputus dari dimensi transenden.

Karena itu ayat pertama tidak berhenti pada kata “bacalah”, tetapi dilanjutkan:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Di sinilah letak perbedaan fundamentalnya.

Modernitas membaca dunia dengan akal semata.
Sedangkan Iqra’ mengajarkan manusia membaca realitas dengan akal yang terhubung kepada Tuhan.

Maka dalam epistemologi Qurani:

akal tidak dimatikan,

pertanyaan tidak dilarang,

kritik tidak diharamkan,

penelitian tidak dimusuhi.

Justru semuanya dihidupkan.

Tetapi seluruh aktivitas intelektual itu diarahkan agar manusia tidak tersesat dalam kesombongan epistemik.

Karena manusia bukan sekadar homo sapiens (makhluk berpikir), tetapi juga makhluk spiritual yang selalu mencari makna terdalam keberadaan.

Inilah mengapa Al-Qur’an bukan hanya memberikan jawaban, tetapi juga mengajukan pertanyaan:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ

Wahyu sedang mendidik manusia untuk berpikir sekaligus membimbing arah pikirannya.

Maka Iqra’ sebagai epistemologi esensial manusia pada hakikatnya adalah upaya mengembalikan keseimbangan:

antara akal dan wahyu,

antara rasionalitas dan spiritualitas,

antara kebebasan berpikir dan tanggung jawab moral,

antara pencarian ilmu dan pencarian makna.

Sebab krisis manusia modern bukan kekurangan informasi, tetapi kehilangan orientasi.

Dan mungkin di tengah kebisingan modernitas hari ini, manusia perlu kembali mendengar seruan pertama langit:

اقْرَأْ
“Bacalah.”

Bacalah dunia,
bacalah dirimu,
dan bacalah semuanya dengan cahaya Tuhan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *