Oleh Sudono Syueb, Pengurus Dewan Dakwah Jatim dan Anggota KBPII Yogya-Jatim
Dewandajwahjatim.com, Surabaya – Hari ini, 4 Mei 2026, kita kembali berdiri di titik sejarah. 79 tahun lalu, di tengah dentuman meriam dan derita penjajahan, lahir sebuah nyala dari rahim perjuangan: Pelajar Islam Indonesia. Bukan sekadar organisasi, tapi sumpah anak muda untuk menjaga negeri ini dengan iman, ilmu, dan amal.
Mengingat Akar Sejarah
4 Mei 1947, di Yogyakarta, para pelajar menyatukan tekad. Di saat sekolah-sekolah dirusak visi-misinya dan masa depan bangsa dipertaruhkan, PII hadir sebagai jawaban. “Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang berdasarkan Islam bagi segenap rakyat Indonesia” menjadi tujuan yang mereka ikrarkan.
Mereka bukan pelajar biasa. Mereka ikut bergerilya, ikut mengajar di pengungsian, ikut merumuskan Indonesia. Dari Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, hingga ribuan kader tanpa nama, PII membuktikan: pelajar adalah tulang punggung kebangkitan.
Refleksi 79 Tahun: Harba adalah Janji
Hari Bangkit bukan seremoni. Harba adalah alarm. Alarm yang mengingatkan kita bahwa PII dilahirkan untuk bangkit dan membangkitkan.
Selama 79 tahun, PII telah melewati fasisme Orde Lama, represi Orde Baru, hingga godaan apatisme di era digital. Dilarang, dibubarkan, difitnah, tapi tidak pernah padam. Karena PII bukan gedung, bukan struktur. PII adalah ide yang hidup di dada setiap kadernya.
Hari ini tantangannya berbeda. Musuh kita bukan lagi kolonial bersenjata, tapi:
- Kebodohan baru: malas berpikir kritis, terjebak hoaks, dan literasi yang rendah.
- Krisis identitas: pelajar yang tercerabut dari akar Islam dan ke-Indonesiaan.
- Individualisme digital: sibuk dengan diri sendiri, lupa berjamaah membangun umat.
Menjawab5 Zaman: PII Abad 21
Maka di Harba ke-79 ini, kita tegaskan kembali khittah perjuangan:
1. Merawat Ide
PII harus tetap jadi kawah candradimuka intelektual. Kembali ke Basic Training, ke diskusi, ke buku, ke masjid. Lahirkan pelajar yang taat, cerdas, dan kritis. Yang paham Qur’an tapi juga paham AI. Yang bisa jadi imam shalat, sekaligus pemimpin peradaban.
2. Mengokohkan Aksi
Ide tanpa aksi adalah angan. PII harus turun ke sekolah-sekolah, ke kampung-kampung, ke ruang-ruang digital. Advokasi pendidikan yang timpang, dampingi pelajar yang tertindas, ciptakan solusi untuk negeri. Pelajar Hari Ini, Pemimpin Esok Hari bukan slogan kosong.
3. Menjawab Zaman
Jangan alergi perubahan. Kuasai teknologi, kuasai narasi, kuasai ruang publik. Jadilah pelajar digital yang berakhlak. Lawan kemungkaran dengan karya, bukan makian. Bangun peradaban dengan adab.
Penutup
Seruan untuk Bangkit*
Wahai kader PII di seluruh penjuru Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Surabaya hingga pelosok desa.
Ingat pesan para pendahulu: “Hidup mulia atau mati syahid”. Hari ini syahid kita adalah konsistensi. Konsisten belajar saat yang lain rebahan. Konsisten berdakwah saat yang lain menghujat. Konsisten membina saat yang lain membenci.
79 tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi bagi sebuah ide, 79 tahun baru permulaan.
Mari bangkit. Bangkit dari tidur panjang. Bangkit dari nyaman yang melenakan. Bangkit karena umat menunggu, karena Indonesia memanggil.
Dirgahayu Hari Bangkit PII ke-79.
PII Jaya! Pelajar Muslim, Bangkit! Indonesia, Jaya!
Allahu Akbar!
Admin: Kominfo DDII Jatim
