PENA SEBAGAI AMANAH PERADABAN, BUKAN PANGGUNG INTELEKTUAL

Menulis untuk Menyambung Ilmu… atau Mewariskan Kesesatan

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim..com, Surabaya – Frasa “الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ” tidak sekadar menjelaskan bahwa Allah mengajarkan manusia dengan pena. Ia adalah pernyataan besar bahwa ilmu tidak berhenti pada individu—ia harus ditulis, dijaga, dan diwariskan. Pena adalah simbol bahwa pengetahuan tidak dibiarkan hilang, tetapi dialirkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan pena, manusia tidak memulai dari nol—ia melanjutkan.

Di sinilah epistemologi Qur’ani menunjukkan kedalamannya. Dalam perspektif Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, membaca adalah fondasi, tetapi menulis adalah kesinambungan. Apa yang dibaca dan dipahami tidak boleh berhenti pada diri, tetapi harus diikat agar tetap hidup melampaui waktu. Maka setiap manusia sejatinya bukan pencipta ilmu, melainkan penyambung estafet peradaban.

Namun di titik ini pula letak ujian yang paling halus.

Menulis bukan untuk menunjukkan intelektualitas diri. Ia bukan panggung ego, bukan alat untuk menegaskan siapa yang paling tahu. Menulis adalah tanggung jawab peradaban. Karena setiap tulisan akan hidup lebih lama dari penulisnya, mempengaruhi cara berpikir, bahkan membentuk keyakinan generasi yang tidak pernah bertemu dengannya.

Maka pena tidak netral. Ia bisa menjadi cahaya—atau menjadi sumber kegelapan yang diwariskan.

Jika penulisan lahir dari semangat Iqra’—membaca wahyu, alam, dan diri secara utuh—maka ia akan menjaga kebenaran tetap lurus. Ia jujur, terverifikasi, dan sadar batas. Namun jika penulisan terlepas dari Iqra’, maka ia hanya akan melahirkan ilusi kecerdasan: tampak ilmiah, tapi tidak berakar; tampak meyakinkan, tapi tidak benar.

Dan di situlah bahaya terbesar muncul:
kesesatan yang ditulis akan lebih panjang umurnya daripada kebenaran yang tidak dijaga.

Karena tulisan tidak hanya menyampaikan ilmu—ia mewariskan cara berpikir. Jika fondasinya salah, maka kesalahan itu akan terus berulang, bahkan menguat dari generasi ke generasi. Inilah bentuk jahiliyah modern yang paling halus: bukan tidak adanya ilmu, tetapi ilmu yang diwariskan tanpa kebenaran.

Maka dalam “الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ”, ada dua amanah sekaligus:
menjaga kesinambungan ilmu, dan menjaga kemurniannya.

“Iqra’” mengajarkan manusia untuk membaca dengan benar.
“Bil qalam” menuntut manusia untuk menulis dengan tanggung jawab.

Dan keduanya menegaskan satu hal:
bahwa manusia tidak sedang membangun ilmu untuk dirinya sendiri,
tetapi sedang menyiapkan arah bagi generasi setelahnya.

Karena pada akhirnya, setiap tulisan akan menjadi jejak:
apakah ia akan menjadi cahaya yang membimbing…
atau bayangan yang menyesatkan,
yang terus hidup bahkan setelah penulisnya tiada.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *