Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam salah satu khutbah terakhirnya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Jangan menyakiti orang lain sebagaimana kamu tidak mau disakiti. Ingatlah, kita semua akan bertemu Allah dan setiap amalan akan dipertanggungjawabkan.”
Kehidupan ini penuh hiruk pikuk. Ada yang sibuk mencari harta, mengejar jabatan, memburu popularitas. Namun, ujung perjalanan semua sama: kita akan berdiri di hadapan Allah.
Saat itu, tidak ada yang bisa berbohong. Lisan terkunci, tangan dan kaki bersaksi, bahkan kulit akan berbicara. Catatan amal terbentang, memperlihatkan sekecil-kecilnya perbuatan yang pernah kita lakukan.
Bayangkanlah hari itu: setiap kata yang pernah kita ucapkan, setiap sikap yang pernah kita tunjukkan, akan dimintai pertanggungjawaban. Betapa menggetarkan hati, jika ternyata yang kita kumpulkan bukan hanya amal baik, tapi juga luka yang kita torehkan pada hati orang lain.
Pernahkah kita berpikir, bahwa perbuatan itu bukan hanya terjadi di dunia? Di hari akhir, jauh lebih mengerikan, yakni di akhirat. Lalu apa pula yang sudah kita persiapkan agar tidak terjebak di dalam masalah tersebut?
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,
“لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ”
“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia manfaatkan, tentang ilmunya apa yang sudah diamalkan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia nafkahkan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia pergunakan”.
(HR. Tirmidzy dari Abu Barzah al-Aslamy radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan sahih oleh Tirmidzy).
Empat jenis pertanggungjawaban di atas inilah yang akan merintangi jalan seorang hamba di akhirat. Umur, ilmu, harta dan tubuh.
1.Umur yang Allah berikan kepada kita di dunia ini, lebih sering kita isi dengan sesuatu yang diridhai-Nya, atau justru sebaliknya?
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. [HR. Ahmad; Tirmidzi; dan al-Hâkim. Dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, 3/313, no. 3363, Maktabul Ma’arif, cet. 1, th 1421 H / 2000 M]
Kenapa orang yang panjang umurnya dan baik amalnya merupakan orang terbaik ? Karena orang yang banyak kebaikannya, setiap kali umurnya bertambah maka pahalanya juga bertambah dan derajatnya semakin tinggi. Kesempatan hidupnya merupakan tambahan pahala dengan sebab nilai amalannya yang terus tambah, walaupun hanya sekedar istiqâmah di atas iman. Karena apakah yang lebih besar dari iman di dalam kehidupan ini?
Sebaliknya, seburuk-buruk orang adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya, karena waktu dan jam seperti modal bagi pedagang. Seyogyanya, dia menggunakan modalnya dalam perdagangan yang menjanjikan keuntungan. Semakin banyak modal yang diinvestasikan, maka keuntungan yang akan diraihnya juga semakin banyak. Barangsiapa melewatkan hidup untuk kebaikannya maka dia telah beruntung dan sukses. Namun barangsiapa menyia-nyiakan modalnya, dia tidak akan beruntung dan bahkan merugi dengan kerugian yang nyata”
2.Ilmu yang kita ketahui, seberapa persen yang sudah kita amalkan?
Ilmu bermanfaat sebagai panduan hidup, meningkatkan derajat, menenangkan jiwa, serta menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Ilmu membantu membedakan yang hak dan batil, mempermudah jalan menuju surga, meningkatkan kualitas ibadah, serta memberikan pemahaman untuk memecahkan masalah dan memajukan masyarakat.
Rasulullah saw. bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Ilmu adalah salah satu bentuk warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan. Seseorang mungkin tidak punya banyak harta, tapi dengan satu ilmu yang diajarkan walau sekadar satu ayat, satu nasihat, atau satu konsep yang menuntun orang lain kepada kebaikan pahala akan terus mengalir bahkan setelah jasad beristirahat di bumi.
3.Harta yang kita punyai, didapatkan dengan cara seperti apa? Lalu digunakan untuk apa? Pertanyaan doble inilah yang akan diajukan pada kita kelak, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas harta yang Allah rizkikan pada kita.
Allah yang telah menciptakan manusia agar mereka menyembah kepadaNya dan memberikan peringatan kepada orang-orang yang beriman agar mereka tidak disibukkan oleh harta dari beribadah kepada Allah. Allah Ta’ala telah berfirman:
قال الله تعالى : يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ [المُنَافِقُونَ: 9]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al-Munafiqun/63: 9]
Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?. [At-Taubah/9: 75-78]
4.Tubuh yang kita miliki, lebih banyak kita pergunakan untuk apa? Untuk menjalankan ketaatan kepada Allah kah? Atau untuk berbuat maksiat kepada-Nya?
Tubuh yang kita miliki pada dasarnya adalah aset berharga yang dianugerahkan untuk menjalani kehidupan, di mana kegunaan utamanya lebih banyak difokuskan
Beribadah dan Bersyukur: Tubuh merupakan titipan yang digunakan untuk menjalankan ketaatan, beramal, dan beribadah kepada Allah. Menjalankan Peran dan Tanggung Jawab. Bekerja, mencintai, menjaga, dan bertahan dalam berbagai situasi kehidupan.
Ketika seluruh karunia di atas bisa kita pertanggungjawabkan dengan baik, saat itulah perjalanan kita berikutnya di alam akhirat akan lancar. Namun, bila justru yang terjadi adalah sebaliknya, maka bersiaplah untuk terjebak macet di akhirat! Kedua kaki ini akan terpancang kaku! Na’udzubillah min dzalik…
Berhasil atau tidaknya kita melewati rintangan ini, tergantung taufik dari Allah ta’ala. Juga sejauh mana persiapan kita di dunia ini untuk menghadapi hari yang maha dahsyat. Selamat bersiap-siap menghadapi hari itu!
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
