Menempatkan Gelar sebagai Amanah, Bukan Otoritas Mutlak
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam kerangka Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, membaca bukan hanya melahirkan pengetahuan, tetapi juga menuntut tanggung jawab terhadap apa yang diketahui. Di sinilah gelar—baik akademik seperti sarjana, magister, doktor, profesor, maupun nonformal seperti kiai, gus, ustadz, dan sejenisnya—harus didudukkan secara proporsional. Ia bukan sumber kebenaran, melainkan penanda amanah.
Gelar hanyalah simbol dari proses belajar, bukan jaminan kedalaman pemahaman. Ia bisa menunjukkan kapasitas, tetapi tidak otomatis menunjukkan kejujuran. Maka dalam epistemologi Qur’ani, gelar tidak boleh menjadi otoritas mutlak yang menutup ruang kritik, apalagi dijadikan alat untuk membungkam kebenaran. Karena kebenaran tidak bergantung pada siapa yang berbicara, tetapi pada kesesuaiannya dengan wahyu dan realitas.
“Iqra’” justru menuntut kebalikan dari itu: setiap manusia harus tetap membaca, berpikir, dan memverifikasi—tidak larut dalam taklid, bahkan kepada mereka yang bergelar. Di sinilah peran gelar menjadi jelas: ia bukan untuk diikuti tanpa pikir, tetapi untuk diuji dalam kejujuran dan dibuktikan dalam kontribusi.
Dalam cahaya “وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ”, setiap gelar adalah pemberian sekaligus ujian. Semakin tinggi gelar, semakin besar amanahnya. Ia bukan mahkota kehormatan, tetapi beban moral. Maka orang yang benar-benar memahami hakikat ilmu tidak akan berlindung di balik gelarnya, tetapi justru berusaha melampaui gelar itu dengan integritas dan manfaat nyata.
Karena itu, ukuran ilmu bukan pada gelarnya, tetapi pada dua hal:
kejujuran dalam menyampaikan, dan pembuktian dalam kehidupan.
Gelar tanpa kejujuran melahirkan kesombongan.
Gelar tanpa kontribusi melahirkan kehampaan.
Dan gelar tanpa kesadaran “Iqra’” hanya akan menghidupkan kembali jahiliyah—
bukan karena tidak berilmu, tetapi karena mengultuskan simbol tanpa memahami esensi.
Maka dalam epistemologi esensial manusia, gelar harus kembali ke tempatnya:
bukan untuk ditinggikan,
tetapi untuk dipertanggungjawabkan.
Karena pada akhirnya, manusia tidak akan ditanya apa gelarnya—
tetapi apa yang ia lakukan dengan ilmu yang telah diberikan kepadanya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
