Melawan Taklid, Membongkar Mitos, dan Menyelamatkan Ilmu dari Kehilangan Etika
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kita perlu mengatakan ini secara terbuka: kebodohan hari ini tidak selalu tampak bodoh. Ia sering tampil dalam bentuk yang canggih—bergelar, berdata, bahkan “ilmiah”. Tapi di balik itu, ada satu cacat mendasar yang jarang disadari: manusia berhenti berpikir secara benar. Inilah krisis epistemologi yang sesungguhnya.
Padahal, sejak awal Islam telah meletakkan satu prinsip yang sangat tegas: berpikir itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Wahyu pertama kepada Nabi Muhammad tidak memerintahkan “percaya”, tapi “Iqra’!”—bacalah, pahami, telusuri, dan sadari. Dalam buku Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, ini bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan mandat eksistensial: manusia diwajibkan mengoptimalkan daya pikirnya untuk mencapai kecerdasan yang bertanggung jawab—bukan kecerdasan liar.
Di sinilah letak perbedaannya. Epistemologi Islam tidak hanya menuntut manusia berpikir, tetapi mengikat cara berpikir itu dalam bingkai wahyu. Akal harus aktif, tapi tidak absolut. Ia bekerja, tapi tidak bebas tanpa arah. Karena akal yang dilepas tanpa wahyu tidak melahirkan kebenaran—ia justru berpotensi melahirkan kesombongan, relativisme, bahkan kesesatan yang tampak logis.
Maka Iqra’ hadir untuk menghancurkan dua penyakit besar manusia: taklid buta dan mitos tanpa dasar. Taklid buta membuat manusia berhenti berpikir—menerima tanpa menguji. Sementara mitos membuat manusia percaya tanpa verifikasi. Keduanya sama-sama menumpulkan akal. Keduanya sama-sama menjauhkan manusia dari kebenaran. Epistemologi Islam datang untuk membalik itu: setiap keyakinan harus diuji, setiap klaim harus dibaca, dan setiap pemahaman harus diverifikasi—bukan hanya oleh akal dan realitas, tetapi juga oleh wahyu.
Inilah yang tidak dimiliki epistemologi modern. Rasionalisme ala René Descartes memang mengajarkan manusia berpikir, tapi tanpa batas wahyu. Empirisme John Locke dan David Hume mengajarkan verifikasi, tapi hanya pada yang terindra. Positivisme Auguste Comte bahkan mengunci kebenaran hanya pada yang terukur. Semua tampak cerdas, tapi kehilangan satu hal paling mendasar: arah.
Akibatnya, lahirlah ilmu yang “loss of adab”—ilmu tanpa etika. Ilmu yang tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, tapi hanya “apa yang bisa dilakukan?”. Di titik ini, kecerdasan berubah menjadi ancaman. Teknologi berkembang tanpa kendali moral. Pengetahuan bertambah tanpa kedewasaan spiritual. Dan manusia menjadi pintar dalam menghancurkan dirinya sendiri.
Iqra’ datang untuk menyelamatkan itu semua. Ia menegaskan bahwa kecerdasan sejati bukan sekadar kemampuan berpikir, tetapi kemampuan menempatkan pikiran dalam kebenaran wahyu. Ia bukan anti-akal, tapi anti kesombongan akal. Ia bukan anti-sains, tapi anti ilmu yang kehilangan etika. Ia bukan anti-kemajuan, tapi anti kemajuan yang kehilangan arah.
Karena pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kita berpikir atau tidak. Tapi:
apakah cara kita berpikir masih terhubung dengan wahyu, atau sudah terlepas darinya?
Jika terlepas, maka sehebat apa pun ilmu itu—ia tidak akan membimbing, tapi justru menyesatkan.
Dan mungkin ini yang paling perlu kita renungkan hari ini: kita sudah belajar banyak hal, tapi… apakah kita sudah benar-benar belajar dengan “Iqra’”?
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
