MEMBEDAH KONTEK IDUL FITRI MENJADI KEMBALI SUCI

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – ldul Fitri berasal dari kata “ied” yang secara asli bermakna “kembali”. Ia juga menjadi bermakna “hari raya” karena merujuk pada hari yang “kembali” setiap tahun; dan kata “fithri” yang memiliki arti “pemecahan”. Jadi Iedul Fitri artinya adalah hari raya pemecahan, yakni pemecahan puasa. Yang memecahkan puasa adalah makanan atau minuman pertama pada hari itu. Orang Arab menyebutnya fithr atau futhur, kita menyebutnya “sarapan”. Orang Inggris menyebutnya dengan padanan harfiah dari fitri, breakfast.

Tasrif kata dasar idul fitri

Kata dasar atau akar kata dari Idul Fitri berasal dari bahasa Arab, yang terdiri dari dua kata utama: ‘Id dan Al-Fitr. Berikut adalah tasrif (perubahan kata) dan akar katanya:

  1. Kata “Id” (عِيد) bentuk isim Masdar atau kata benda.
    Akar Kata: عاد – يعود – عودة / عيادة (Aada – Yaa’udu – ‘Audatan/’Iyaadatan)
    Makna: Kembali.
    Konsep: Disebut ‘Id karena hari raya ini kembali dan berulang setiap tahun.
  2. Kata “Fitri” (الْفِطْر) bentuk isim Masdar atau kata benda
    Kata “Fitri” (Al-Fitr) sering disalah artikan sebagai “fitrah” (suci). Berdasarkan penelusuran bahasa, akar katanya adalah:
    Akar Kata: فطر – يفطر – فطراً (Fathara – Yafthuru – Fithran)
    Makna Dasar: Membelah, memecah, atau memulai.

Jadi Fitr / Iftar (الفطر): Berbuka puasa (membuka mulut untuk makan setelah berpuasa).
Fathir (فاطر): Pencipta (memecah ketidakadaan menjadi ada).

  1. Fitrah (فطرة): Keadaan suci sejak lahir (asal penciptaan).

Kamus al-Munjid menyebut Idul Fitri sebagai id al-muslimin ba’da shaumi ramadhan atau hari raya umat Islam sesudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Makna ‘Id: Berasal dari kata ‘âda – ya’ûdu yang artinya kembali.

Secara ringkas, dalam pandangan leksikal kamus Munjid, Idul Fitri berarti “Hari Raya Berbuka Puasa” atau “Hari Raya Kembali Makan” setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan.

Perbedaan dengan ‘Fitrah’
Dalam konteks yang lebih luas, sering terjadi kerancuan antara Fitri (berbuka) dengan Fitrah (suci). Kamus Munjid membedakan keduanya; Fitrah (الفطرة) didefinisikan sebagai sifat yang dimiliki setiap makhluk sejak awal. Namun, secara harfiah, Idul Fitri yang dimaksud dalam kamus adalah berkaitan dengan berbuka puasa, bukan kembali suci.

Bila dilihat dari konsonan bahasa yang dimaksud dengan Idul Fitri kembali makan di siang hari bukan kembali suci seperti anak yang baru lahir.

Kita sering mendengarkan pembicara diatas mimbar, dengan puasa Ramadhan satu bulan dosa dosa kita pada Allah telah diampuni
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
lantas di tambah silaturrahim sesama anak Adam dengan meminta ampunan atau minta MA’AF, ini menunjuk bahwa dosa dosa kita sesama anak Adam sudah bersih. Apakah ini mengelabui atau kasarnya ‘membodohi’. Itulah yang membuat rancu masyarakat saat ini menjelang Idul Fithri. Seringkali dipahami bahwa maksud Idul Fithri adalah kembali suci, seakan-akan jika telah menjalani puasa berarti kita telah keluar dari bulan Ramadhan seperti bayi yang baru lahir.

Kembali suci
Banyak yang mengaitkan Idul Fitri dengan proses pemurnian jiwa, seolah Ramadan adalah perjalanan spiritual untuk menghapus dosa, dan Idul Fitri menjadi titik kulminasi kembalinya manusia kepada fitrahnya yang suci.

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa secara etimologis “fitri” satu akar istilah dengan “fitrah”. Akan tetapi, makna ini lebih merupakan interpretasi filosofis ketimbang definisi harfiah. Idul Fitri, dalam konteks syariat, lebih menekankan pada kebahagiaan setelah menunaikan kewajiban, bukan jaminan bahwa seseorang telah terbebas dari dosa atau menjadi suci seperti bayi yang baru lahir.

Selain itu, kesalahpahaman ini juga menyeret kepada keyakinan bahwa orang yang menjalankan puasa Ramadhan semua dosanya akan diampuni dan kembali suci. Tentu ini keyakinan yang sangat keliru.

Betul, bahwa amalan-amalan ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan bisa menghapuskan dosa-dosa, tetapi itu hanya pada dosa kecil, dan bukan dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

“Antara shalat 5 waktu, jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan hingga ramadhan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Ahmad no. 9197 dan Muslim no. 233)

Dengan Idul Fitri kita meraih Kemenangan spiritual. Inilah kemenangan jiwa yang bebas dari syirik, hasud, dengki, dan keangkuhan. Kesucian spiritual harus dipertahankan setelah Ramadan berakhir, yang membatasi aktivitas biologis. Karena itu, disebutkan dalam Surat Al-Syams ayat 9 ayat 10, “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” Karena itu, orang yang bersih jiwanya akan menghindari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, menghindari kesalahan, dan menghindari melanggar aturan-aturan Allah.

كل عام وانتم بخير

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *