K H Mas Mansur: Pahlawan Nasional dan Mujtahid Muhammadiyah

Oleh: Sudono Syueb, Biro Kominfo DDII Jatim

Dewandakwahjatm.com, Surabaya – K.H. Mas Mansur adalah seorang ulama pembaru (mujtahid), intelektual, dan Pahlawan Nasional Indonesia yang pemikirannya sangat berorientasi pada pemurnian ajaran Islam, rasionalitas, serta persatuan umat (ukhuwah).

Pemikiran dan gagasan utama K.H. Mas Mansur meliputi beberapa aspek berikut:

  1. Pembaharuan dan Rasionalitas Keagamaan

Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah: Mas Mansur mengajak umat Islam untuk meninggalkan taklid buta dan praktik-praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar kuat, dengan membuka pintu ijtihad menggunakan metode ilmiah.

Memadukan Dalil dan Akal: Beliau dikenal sebagai ulama pembaru yang mempertemukan teks keagamaan dengan pendekatan rasional, sehingga Islam dapat menjawab tantangan zaman dan modernitas.

  1. Penggagas Majelis Tarjih Muhammadiyah

Pada Kongres Muhammadiyah tahun 1927 di Pekalongan, beliau mengusulkan pembentukan Majelis Tarjih.
Tujuannya adalah untuk mencegah perpecahan di kalangan umat akibat perbedaan masalah khilafiah (cabang/fiqih) melalui keputusan kolektif yang berlandaskan dalil sahih dan metodologi ilmiah, yang kemudian melahirkan Himpunan Putusan Tarjih (HPT).

  1. Konsep 12 Langkah Muhammadiyah (1938–1940)

Saat memimpin Pengurus Besar Muhammadiyah, beliau mencetuskan kebijakan strategis berupa 12 Langkah Muhammadiyah. Esensi dari konsep ini adalah memperkuat keislaman warga, memperdalam tauhid, memperluas paham agama, memperbuahkan budi pekerti, hingga menguatkan ukhuwah dan organisasi agar umat Islam tidak tertinggal dari bangsa lain.

  1. Visi Persatuan Umat dan Kebangsaan

Ukhuwah Islamiyah & MIAI: Beliau sangat prihatin melihat perpecahan internal umat Islam serta tekanan dari kolonial Belanda. Untuk menyatukan kekuatan, ia bersama tokoh-tokoh lain seperti K.H. Wahab Hasbullah (NU) memprakarsai berdirinya Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) sebagai wadah federasi umat Islam.

Gerakan Politik Kebangsaan: Mas Mansur memandang perjuangan agama tidak bisa dipisahkan dari perjuangan bangsa. Ia aktif di Sarekat Islam, mendirikan Partai Islam Indonesia (PII), terlibat dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI), hingga menjadi bagian dari “Empat Serangkai” bersama Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Ki Hajar Dewantara pada masa pendudukan Jepang, serta aktif di BPUPKI.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *