Perang Senjata, Perang Narasi, dan Fitnah Informasi

Membaca Konflik AS–Israel vs Iran dengan Epistemologi Qurani

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Perang yang sedang terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya berlangsung di udara dengan rudal dan drone. Ia juga berlangsung di ruang lain yang jauh lebih luas: ruang informasi global.

Di media sosial, setiap hari beredar:

video serangan

gambar korban

narasi kemenangan

klaim kehancuran pihak lawan.

Sebagian informasi benar.
Sebagian dipotong dari konteks.
Sebagian lagi bahkan dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence.

Akibatnya, dunia bukan hanya menyaksikan perang militer, tetapi juga perang narasi.

Dalam perspektif Qurani, fenomena seperti ini dapat dipahami melalui satu konsep penting: fitnah.

Fitnah: Kekacauan yang Mengaburkan Kebenaran

Dalam bahasa Al-Qur’an, kata fitnah tidak selalu berarti tuduhan atau gosip. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa fitnah juga berarti kekacauan yang mengaburkan batas antara kebenaran dan kebatilan.

Allah berfirman:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

“Fitnah itu lebih dahsyat daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Mengapa fitnah disebut lebih dahsyat daripada pembunuhan?

Karena pembunuhan merusak tubuh manusia, sedangkan fitnah merusak kesadaran dan cara berpikir manusia.

Ketika manusia tidak lagi mampu membedakan antara fakta dan manipulasi, maka masyarakat masuk ke dalam kabut epistemologis.

Inilah kondisi yang sering muncul dalam perang modern.

Framing: Cara Modern Mengelola Persepsi

Dalam ilmu komunikasi politik, ada istilah framing.

Framing adalah cara menyajikan suatu peristiwa dengan sudut pandang tertentu sehingga publik melihat realitas melalui bingkai yang telah diarahkan.

Peristiwa yang sama bisa digambarkan sebagai:

“serangan defensif”
“agresi militer”
“perlawanan”
atau “teror”.

Semua tergantung siapa yang membangun narasi.

Di era media sosial, framing menjadi sangat kuat karena satu video dapat dilihat oleh jutaan orang dalam hitungan menit.

Namun ketika framing bercampur dengan propaganda dan manipulasi visual, di situlah fitnah informasi muncul.

Hadis Nabi sebagai Filter Epistemologis

Dalam situasi seperti ini, hadis Nabi ﷺ memberikan prinsip yang sangat penting.

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap hal yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Hadis ini sangat dalam maknanya.

Ia tidak hanya melarang kebohongan yang disengaja, tetapi juga memperingatkan bahaya menyebarkan setiap informasi tanpa verifikasi.

Seseorang bisa menjadi bagian dari kebohongan bukan karena ia berdusta, tetapi karena ia menjadi saluran transmisi informasi yang tidak diverifikasi.

Dalam era media sosial, hadis ini seperti kode etik komunikasi digital umat Islam.

Artificial Intelligence dan Ilusi Realitas

Teknologi Artificial Intelligence menambah lapisan baru dalam persoalan ini.

Hari ini dimungkinkan membuat:

video tokoh dunia yang tidak pernah berbicara

gambar peristiwa yang tidak pernah terjadi

suara yang meniru manusia dengan sangat akurat.

Akibatnya, mata manusia dapat melihat sesuatu yang tampak nyata tetapi sebenarnya produk algoritma.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa manusia sering tertipu oleh apa yang tampak oleh mata, karena hakikat sesuatu tidak selalu sebagaimana yang terlihat.

Peringatan ini terasa semakin relevan di era AI.

Tabayyun: Metode Qurani Menghadapi Kekacauan Informasi

Al-Qur’an memberikan solusi yang sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Jika datang kepada kalian suatu berita maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Tabayyun bukan sekadar sikap hati-hati.

Ia adalah metodologi pengetahuan dalam Islam.

Tabayyun berarti:
memeriksa sumber berita
memahami konteks informasi
menilai kredibilitas penyampai

menahan diri dari menyebarkan sesuatu yang belum jelas.

Menjaga Akal di Tengah Perang Informasi

Konflik global sering memicu emosi manusia: simpati, kemarahan, solidaritas, bahkan fanatisme.

Namun Islam menuntut sesuatu yang lebih tinggi: integritas terhadap kebenaran.

Seorang mukmin tidak hanya peduli terhadap keadilan, tetapi juga menjaga agar perjuangan keadilan tidak dibangun di atas kebohongan.

Sebab kebohongan—meskipun digunakan untuk tujuan yang dianggap baik—tetaplah kebohongan.

Penutup: Tabayyun sebagai Benteng Peradaban

Di tengah perang militer dan perang narasi, umat manusia menghadapi tantangan baru: bagaimana menjaga kebenaran di tengah banjir informasi.

Di sinilah prinsip Qurani menjadi sangat relevan.

Seorang mukmin tidak tergesa-gesa membagikan berita. Ia tidak mudah terprovokasi oleh video viral. Ia memeriksa, menimbang, dan memahami.

Karena Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan setiap hal yang ia dengar.”

Di era Artificial Intelligence dan propaganda digital, hadis ini bukan sekadar nasihat moral.

Ia adalah kompas epistemologis agar manusia tidak tersesat dalam kabut fitnah informasi.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *