Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Suatu hari, seorang lelaki tua duduk sendirian di sudut masjid setelah shalat Isya. Wajahnya lelah, bukan karena usia, tetapi karena hidup yang terasa hampa. Ia telah mengejar banyak hal: harta, jabatan, pujian manusia. Namun ketika malam sunyi datang, hatinya justru kosong. Ia bertanya dalam diam, “Untuk apa sebenarnya aku hidup?”
Pertanyaan itu bukan hanya miliknya. Itu adalah pertanyaan semua manusia.
Al-Qur’an datang bukan sekadar sebagai bacaan ibadah, tetapi sebagai peta tujuan hidup. Jika seseorang benar-benar memahaminya, hidupnya tak akan lagi sama. Berikut lima tujuan hidup menurut Al-Qur’an yang jika direnungi, akan mengubah cara pandang kita terhadap dunia, musibah, dan kematian.
- Hidup untuk Beribadah kepada Allah
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (0QS. Adz-Dzariyat: 56)
Banyak orang mengira ibadah hanya sebatas shalat, puasa, dan dzikir. Padahal dalam Islam, seluruh hidup bisa menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah.
Bekerja bukan sekadar mencari uang, tetapi menafkahi keluarga demi ketaatan. Menuntut ilmu bukan untuk gelar, tetapi agar semakin mengenal Allah. Bahkan senyum dan sabar menghadapi ujian pun tercatat sebagai ibadah.
Saat seseorang menyadari bahwa hidupnya adalah ladang ibadah, ia tak lagi mudah putus asa. Sebab ia tahu: tidak ada satu detik pun yang sia-sia jika dihadirkan untuk Allah.
- Hidup sebagai Khalifah di Bumi
Allah berfirman:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Manusia bukan sekadar penumpang di dunia. Kita adalah pemegang amanah. Dunia bukan milik kita, tetapi titipan.
Menjadi khalifah berarti:
. Menjaga keadilan
. Tidak merusak bumi
. Menolong yang lemah
. Menggunakan kekuasaan dan harta dengan tanggung jawab
Ketika seseorang memahami ini, ia tidak akan hidup serampangan. Ia sadar, setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban, sekecil apa pun.
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya” (HR Bukhori)
- Hidup untuk Diuji, Bukan Dimanjakan
Allah berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Musibah bukan tanda Allah membenci. Kesulitan bukan berarti doa tidak didengar. Hidup ini bukan tempat istirahat, tetapi ruang ujian.
Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada pula yang diuji dengan pujian.
لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
Kamu sungguh-sungguh
Orang yang memahami tujuan ini tidak akan bertanya, “Mengapa aku?”
Ia akan bertanya, “Bagaimana aku harus bersikap?”
Karena ia tahu, nilai hidup bukan pada seberapa nyaman, tetapi seberapa sabar dan taat saat diuji.
- Hidup untuk Mengenal Allah dan Kebenaran
Allah berfirman:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri.”
(QS. Fussilat: 53)
Hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi memahami. Alam semesta, tubuh manusia, pergantian siang dan malam, semuanya adalah ayat ayat Allah.
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, Ali Imron 190
Orang yang hidup hanya mengejar dunia akan melihat matahari sebagai panas semata. Tapi orang beriman melihatnya sebagai tanda kebesaran Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu permainan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak… Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” Al Hadid 20
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin kecil dunia di matanya, dan semakin besar akhirat di hatinya.
- Mempersiapkan Bekal Akhirat
Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, dan tujuan akhirnya adalah kembali kepada Allah dengan membawa bekal amal yang baik (taqwa) untuk mendapatkan kebahagiaan di surga.
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Al Qoshosh 77
Makna inilah yang diisyaratkan `Abdullâh bin Umar Radhiyallahu anhu :”Jika kamu berada di waktu sore maka janganlah datang menunggu waktu pagi; dan jika kamu berada di waktu pagi maka jangan menunggu datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum menjemput kematianmu”
Dunia hanyalah persinggahan sementara. Akhirat adalah tujuan utama, tempat kita akan kekal selamanya. Allah berfirman:
“Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Harta, jabatan, dan keturunan tidak akan menemani kita, kecuali amal saleh yang kita bawa. Shalat, sedekah, kebaikan, dan ketaatan kepada Allah adalah bekal sejati.
Marilah kita gunakan sisa umur untuk memperbanyak amal kebaikan, karena dunia hanyalah ladang, sedangkan hasilnya akan kita tuai di akhirat. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang siap dengan bekal terbaik menuju surga-Nya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
