“Kalau Dakwah di Sini, Ustadz Tenang Saja!”

Secarik Kisah Pak Muna (Miftahulri), Baucau – Timor Leste

Oleh: Royhan Mufid Akbar, SantrivPraktik Dakwah Ramadhan (PDR) PPIC eLKISI, Mojokerto

Dewandakwahjatim.com, Timor Leste – Siang itu, lantai Masjid Al Amal, Baucau, terasa sejuk. Cahaya matahari masuk melalui jendela anyaman kayu. Di sudut ruangan, kami duduk melingkar berbincang dengan salah satu jamaah senior: Pak Muna—atau dikenal juga sebagai Miftahulri.

Beliau membuka percakapan dengan pertanyaan yang sederhana, namun penuh perhatian.

“Bagaimana kondisi ustadz di sini? Nyaman kah? Ndak usah khawatir ustadz, di sini aman. Orang sini hormat sama umat Islam.”

Kalimat itu terdengar menenangkan. Terlebih bagi kami yang datang dari luar negeri, berada di wilayah minoritas Muslim.

Jejak Masa Lalu dan Keteguhan Jamaah

Pak Muna lalu menceritakan sebuah peristiwa lama.

Sekitar tahun 2007–2008, Masjid An-Nur di Dili pernah mengalami gangguan. Saat itu situasinya sempat memanas. Namun menurut beliau, masyarakat Muslim tidak tinggal diam.

Jamaah dari Baucau dan Los Palos bergerak mendukung. Solidaritas komunitas terbangun. Situasi kembali kondusif.

Beliau menjelaskan bahwa di wilayah ini banyak warga yang merupakan veteran perjuangan kemerdekaan. Figur-figur tersebut memiliki pengaruh sosial kuat dan dihormati masyarakat.

“Satu komplek ini pun banyak veterannya. Jadi ustadz tidak perlu khawatir.”

Bukan nada ancaman yang ia sampaikan, melainkan jaminan solidaritas. Pesannya jelas: keberadaan da’i di Baucau dilindungi oleh rasa hormat dan kebersamaan warga.

Rindu Kehadiran Santri

Nada percakapan berubah menjadi lebih hangat ketika membahas kehadiran para santri dari Indonesia.

“Kami senang dengar anak-anak ngaji dari luar.”

Tahun sebelumnya, sempat ada lima santri dari Gontor yang datang ke Baucau. Tiga ditempatkan di Masjid Al Amal, dua lainnya di kampung yang lebih jauh.

Kehadiran mereka meninggalkan kesan mendalam. Bagi masyarakat Muslim di Baucau, kedatangan santri bukan sekadar program. Ia adalah penguat semangat.

Dakwah dan Rasa Aman

Cerita Pak Muna menunjukkan satu hal penting: di Timor Leste, khususnya Baucau, Islam hidup dalam relasi sosial yang unik.

Sebagai minoritas, umat Islam tetap memiliki ruang untuk beribadah. Tantangan ada, tetapi solidaritas komunitas juga kuat.

Jaminan keamanan yang disampaikan Pak Muna bukan sekadar formalitas. Ia lahir dari pengalaman sejarah, dari jaringan sosial, dan dari rasa hormat yang dibangun melalui akhlak.

Ketika Dakwah Diterima dengan Kehormatan

Percakapan siang itu mengajarkan bahwa dakwah di wilayah minoritas tidak hanya soal keberanian, tetapi juga soal relasi sosial.

Ketika umat Islam menjaga akhlak, ketika masyarakat melihat manfaat, ketika hubungan dibangun dengan baik—maka rasa hormat pun tumbuh.

Dan dari Masjid Al Amal, Baucau, kami belajar:

Kadang rasa aman bukan karena kekuatan formal.
Tetapi karena persaudaraan yang terbangun lama.

Keterangan Foto:
Berbincang dengan jamaah Masjid Al Amal, Baucau – Timor Leste.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *