Oleh : Royhan Mufid Akbar, Santri Praktik Da’wah Ramadhan (PDR) PPIC eLKISI Mojokerto
Dewandakwahjatim.com, Timor Leste- “Permisi ustadz, saya bertato seperti ini apa solat saya diterima?
Saya masuk Islam diajak teman saya di kampung Alor sana. Tapi setelah itu dia tidak bimbing saya. Akhirnya saya masih malu ikut sholat. Saya sering antar teman saya jawa solat. Tapi saya masih malu ikut solat.
Karena orangtua saya kenal Pak Haji (Ortunya masih Katolik, veteran dan kerja di dewan peewakilan). Saya disuruh ke sini untuk belajar agama. Tapi masih malu, sempat dulu mau tanya tanya sama Pak Samsul. Tapi takut karena dia kelihatannya pemarah.
Saya sebenarnya butuh bimbingan ustadz. Saya tentang islam masih 0 (Padahal tahun ke tiga muallaf) Mau tanya ke orang lain malu karena banyak tato di badan saya. Jadi bisa ya pak ustadz kalau saya mau tanya tanya.
Saya ikut di Kera Sakti. Di perguran itu mulai tertarik Islam. Hafal Alfatihah dan bacaan solawat pun saat masih katolik. Karena di perguruan ada ujiannya tulis. Ada tulisan doa itu, terus kita disuru meneruskan.
Sebenarnya di KS banyak juga anak islamnya. Binaan ada sekitar 400. 40%nya muslim. Sebenarnya bisa belajar agama ke mereka. Tapi dari sehari hari saja mereka jarang sholat ya ndak mau lah.
Di Timor ini banyak orang indo yang kerja jadi mekanik. Temen saya ada orang jawa Islam. Tapi seringkali ajak untuk mabok. Waktu saya ejek kamu islam kan? Jawabnya iya saya islam tapi bukan muslim.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
