Takwa, Pemaaf, dan Balasan Istimewa

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ramadhan itu spesial. Kepada kaum yang beriman, Allah mewajibkan untuk berpuasa di dalamnya. Tujuannya, agar yang berpuasa bisa meraih takwa. Perhatikan ayat ini: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Apa ciri-ciri orang yang bertakwa? Tentang ini, misalnya, ada disebut di QS Al-Baqarah [2]: 2-5. Orang bertakwa adalah: 1).Beriman kepada yang ghaib serta kepada Kitab (Al-Qur’an) dan Kitab-Kitab yang diturunkan sebelumnya. 2).Mendirikan shalat. 3).Menafkahkan sebagian rezki dari Allah. 4).Yakin akan adanya kehidupan akhirat. Lalu, di QS Al-Baqarah [2]: 177 juga ada ciri-ciri orang yang bertakwa.

Sekarang, kita simak tanda-tanda orang bertakwa di QS Ali ’Imran [3]: 133-135. ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”, (ayat 133). ”(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat Kebajikan” (ayat 134). ”Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (ayat 135).

Apa ciri-ciri pribadi takwa di ayat di atas? Ciri-cirinya: 1).Menafkahkan (harta), baik di waktu lapang maupun sempit. 2).Menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang. 3).Jika salah, memohon ampun kepada Allah dan tidak mengulangi.

Ingat Allah

Sungguh baik jika kita selalu mengingat siapa saja yang pemaaf. Tak tanggung-tanggung, yang pertama senantiasa harus diingat adalah Tuhan kita yaitu Allah. Di Asmaul Husna yaitu nama-nama Allah yang menunjukkan keindahan, keagungan, dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya, ada nama-nama yang terkait langsung dengan kajian ini.

Berikut ini nama-nama yang dimaksud: Al-’Afuwwu (Maha Pemaaf), Al-Ghaffaaru (Maha Pengampun), dan Al-Ghafuuru (Maha Pengampun). Kesemua nama itu memastikan bahwa Allah Maha Pemaaf.

Rasulullah Saw, Pemaaf!

Rasulullah Muhammad Saw, pribadi pemaaf. Simak dakwah pertama Nabi Saw ke Thaif, kota yang berjarak puluhan Km dari Mekkah. Suatu hari Nabi Saw berdakwah ke Thaif karena dipandang strategis. Hal ini karena Thaif memiliki penduduk yang banyak.

Apa yang didapat? Nabi Saw disambut negatif, dengan diejek bahkan dilempari batu sampai berdarah. Lalu, Malaikat penjaga gunung menawarkan bahwa jika Sang Nabi mau, dia bisa saja ratakan gunung di sana untuk memberi pelajaran bagi warga Thaif.

”Bahkan, aku berharap, kelak Allah akan memunculkan dari kalangan mereka orang-orang yang menyembah Allah,” sabda Nabi Saw atas tawaran itu. Ungkapan itu adalah nada memaafkan warga Thaif. Bahkan, kalimat itu bermuatan doa kebaikan.

Selanjutnya, ini kisah yang lain. Setiap kali Nabi Saw melintas di depan rumah seorang wanita tua, Beliau Saw selalu diludahi oleh orang itu. Suatu hari, Nabi Saw melewati rumah wanitu tua itu dan tidak bertemu dengannya. Didorong rasa penasaran, Nabi Saw bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Orang yang ditanya malah heran, mengapa Rasulullah Saw menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya. Setelah Rasulullah Saw mendapatkan jawaban bahwa wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang sakit, Beliau Saw memutuskan untuk menjenguknya.
Wanita tua itu tidak menyangka jika Rasulullah Saw mau menjenguknya. Dia takjub dengan akhlak Nabi Saw. Dia heran, walaupun Nabi Saw sering diludahinya, kini justru menjadi orang pertama yang menjenguknya.

Si wanita tua lantas bertanya, mengapa orang yang sering dia ludahi sekarang menjenguknya? Rasulullah Saw menjawab, bahwa sikap seperti itu muncul karena belum tahu tentang kebenaran yang disampaikan dirinya sebagai seorang Nabi. Jika tahu, dia tidak akan melakukannya.

Mendengar jawaban bijak dari Rasulullah Saw, wanita tua itu terharu. Kemudian dengan penuh kesadaran, dia berkata, “Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu”. Lantas, wanita tua itu mengikrarkan dua kalimat syahadat (https://islamdigest.republika.co.id/berita/rtw84p430/kisah-nabi-muhammad-diludahi-orang-hingga-pelakunya-masuk-islam).

Berikut ini, kisah yang lain, tentang ”Lelaki Anshar yang Calon Penghuni Surga karena Pemaaf”. Ringkas kisahnya, begini: Di Madinah, suatu saat Nabi Saw sedang bersama sejumlah Sahabat. Kemudian lewat seorang laki-laki. Nabi Saw bersabda, bahwa lelaki itu kelak akan tinggal di surga. Hal yang sama, disampaikan Nabi Saw dalam beberapa kesempatan.
Abdullah bin Amr bin Ash Ra yang turut mendengar ucapan Nabi Saw itu, penasaran. Dia lantas atur skenario agar bisa mendapat keterangan langsung dari si lelaki itu. Meski tidak mudah, perlu beberapa hari, akhirnya dia mendapat informasi yang diharapkannya. Bahwa, lelaki Anshar itu suka memaafkan kesalahan orang. Menjelang tidur, dia maafkan semua orang yang bersalah kepadanya.

Dua Kisah

Pramoedya Ananta Toer pada sekitar 1962-1963, lewat surat kabar berbau komunis yang dipimpinnya, menyerang Hamka. Melalui tulisan-tulisan yang berbau fitnah, menyebut Hamka sebagai plagiator, selama berbulan-bulan. Tudingan itu tak terbukti.

Jauh di belakang hari, pada suatu ketika Hamka kedatangan dua tamu, satu laki-laki dan satu perempuan. Si perempuan orang pribumi, sedangkan yang laki-laki keturunan Cina.

Si perempuan adalah Astuti, putri Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan yang laki-laki adalah Daniel Setiawan. Astuti menjelaskan, mereka akan menikah. Daniel akan masuk Islam dan akan belajar Islam kepada Hamka. Ini semua atas anjuran ayahnya, yaitu Pramoedya Ananta Toer.

Hamka tanpa ragu sedikit pun menerima permohonan dari sang tamu. Daniel yang calon menantu Pramoedya Ananta Toer, lalu dibimbing belajar agama Islam oleh Hamka. Termasuk, dibimbing saat Daniel membaca dua kalimat syahadat.

Hamka pemaaf. Hamka sama sekali tidak menyinggung sikap Pramoedya Ananta Toer terhadapnya beberapa waktu sebelumnya. Benar-benar seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hamka yakin, dengan meminta sang putri mendatanginya, itu sebentuk permhonan maaf dari Pramoedya.

Berganti, ke kisah lain, tentang Hamka dan Soekarno. Hamka ulama yang dihormati masyarakat, pada 1964 ditahan selama dua tahun empat bulan atas tuduhan makar. Tuduhan itu tak pernah bisa dibuktikan sampai dia dibebaskan. Tuduhan itu sebentuk kezaliman rezim yang berkuasa saat itu.

Pada 21 Juni 1970, Soekarno meninggal. Almarhum sempat titip pesan agar jenazahnya dishalati Hamka. Lalu, dengan hati lapang Hamka mengimami shalat janazah dari orang yang dulu pernah membuatnya mendekam di tahanan. Terasakan, Hamka pemaaf.

Kuatkan, Yaa Al-’Afuwwu!

Demikianlah, di Ramadhan kita berpuasa. Kita jalani dengan sepenuh kesadaran bahwa semua amaliyah di sepanjang Ramadhan itu laksana kita sedang mengikuti sebuah Pendidikan dan Pelatihan. Kita sedang belajar di Sekolah Ramadhan. Harapannya, setelah tuntas kita jalani, Allah ridho untuk memasukkan kita sebagai bagian dari orang-orang yang bertakwa.

Apa balasan bagi orang yang bertakwa? Surga, seperti yang dijelaskan di ayat ini: ”Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” (QS Ali ’Imran [3]: 136).
Mari, terus pertahankan sikap takwa yang di antara tandanya adalah pemaaf. Teladanilah, Nabi Saw yang pemaaf. Tirulah ”Lelaki Anshar yang disebut Nabi Saw sebagai calon penghuni surga karena pemaaf”. Ikutilah sikap Hamka yang pemaaf, bahkan terhadap yang pernah menyakitinya.
Yaa Allah, maafkan kami Yaa Al-’Afuwwu. Maafkan kami, Yaa Al-Ghaffaaru. Maafkan kami, Yaa Al-Ghafuuru. Kuatkan kami agar bisa menjadi pemaaf di sepanjang kehidupan. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *