Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Isa Anshary dan Natsir, keduanya adalah ”orang besar” di bidang dakwah. Oleh karena itu, patut menjadi teladan. Pendapat-pendapatnya perlu disimak, langkah-langkah dakwahnya bisa menjadi sumber inspirasi. Kedua ulama itu, sama-sama berasal dari Sumatera Barat.
Isa Anshary lahir di Maninjau Agam Sumatera Barat pada 1 Juli 1916. Natsir lahir di Alahan Panjang Solok Sumatera Barat pada 17 Juli 1908. Sekadar menyebut perjuangan dakwahnya, Isa Anshary pernah menjadi Ketua Umum Persis (Persatuan Islam). Lalu, Natsir adalah salah satu pendiri Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) sekaligus Ketua Umum-nya yang pertama.
Jejak Dakwah
Pada Isa Anshary, olah lisan dan tulisannya sama-sama memukau. Jika dia berceramah atau berpidato, para pendengarnya akan sanggup mengikuti sepenuh antusias. Ceramahnya, bahkan didengar dan diperhatikan juga oleh mereka yang ”tidak sepemikiran”.
Hal lain, Isa Anshary adalah pendakwah yang juga cekatan menulis. Setidaknya, ada dua puluh judul karya bukunya. Salah satunya berjudul Mujahid Da’wah, yang kali pertama terbit pada 1966. Buku ini, sampai tulisan ini dibuat, masih beredar dan bisa dibeli. Isinya, benar-benar menggugah dan sesuai dengan judul di sampul buku.
Buku Mujahid Da’wah adalah salah satu karya Isa Anshary saat ditahan rezim Orde Lama. Saat itu, sebagian besar tokoh yang berseberangan dengan pemerintah dipenjarakan secara semena-mena tanpa proses hukum yang jelas. Di antara yang mengalami hal itu adalah tokoh-tokoh umat Islam dari Partai Masyumi. Sekadar menyebut, yang ditahan kala itu adalah Isa Anshary, Natsir, Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, Hamka, Yunan Nasution, Kasman Singodimedjo, dan lain-lain.
Seiring Serempak
Sungguh berbahagia jika seorang Muslim aktif berdakwah. Hal ini, karena semua umat Islam memang diminta melakukan dakwah sesuai kapasitas masing-masing. Tentu bisa, karena dakwah tak harus dalam bentuk ceramah.
Kita, misalnya, dapat berdakwah dengan memberikan keteladanan sikap keseharian yang berakhlak baik. Bisa dengan menjaga performa kita saat mendidik anak. Bisa dengan cara bertutur kata, yaitu dengan sopan dalam penyampaiannya. Bisa dengan menunjukkan sikap yang baik ketika berdiskusi, dan lain-lain contoh.
Adapun secara lebih khusus, media penyampaian dakwah bisa dibagi kepada dua kategori. Pertama, dakwah dengan lisan (di sini kita mengenal istilah media dakwah bernama ceramah, khutbah, dan yang semisal dengan itu). Kedua, dakwah dengan media tulisan (di sini kita mengenal media dakwah bernama artikel, makalah, buku, dan yang semisal itu).
Materi buku berjudul Mujahid Da’wah karya Isa Anshary. Di dalamnya berisi 17 bab. Semuanya menarik dan berharga. Termasuk, pada Bab IX yang berjudul Latihan dan Kegiatan (di dalamnya ada Latihan Lidah, Latihan Dakwah, Kegiatan, dan Cara Berpidato).
Sekarang, kita berkonsentrasi pada Bab IV, yang berjudul Pena dan Tinta. Dalam berdakwah sebaiknya “Lisan dan tulisan berjalan seiring,” tulis Isa Anshary. Pidato dan pena harus bergerak serempak, tegas dia (tt, 27).
Seperti itukah sosok Isa Anshary sendiri, lisan dan tulisannya kuat? Iya, insya Allah seperti itu. Maka, menjadi cukup meyakinkan jika kemudian dia memberikan catatan kepada sejumlah tokoh ulama dan pergerakan dalam hal kemampuan lisan dan tulisan mereka. Tentu, catatan itu dibuat dengan maksud untuk menjadi pelajaran bagi masyarakat luas.
Pelajaran Menarik
Dalam pandangan Isa Anshary, Tjokroaminoto itu lebih mahir berpidato daripada mengarang. Meskipun demikian, sebagai pengarang, Tjokroaminoto juga tergolong baik (tt, 29).
Hamka lebih indah karangannya daripada pidatonya. Pandangan Isa Anshary ini menarik. Hal ini, karena dia pun mengakui bahwa Hamka adalah seorang khatib / pembicara yang kenamaan alias terkenal (tt, 30).
Mas Mansur dan AR Sutan Mansur lebih kuat dan mendalam pidatonya daripada buah penanya, kata Isa Anshary. Kedua nama besar ini biasanya mengarang dengan jalan mendiktekan kepada sekretaris pribadinya atau kepada muridnya (tt, 30).
Adapun yang seimbang antara lisan dan tulisan ialah Agus Salim, Natsir dan A.Gaffar Ismail (tt, 30). Bagaimana performa mereka? Agus Salim, silat penanya sama dengan silat lidahnya, sama-sama mahir, indah fasafah dan balaghah-nya.
Natsir, filosof Islam, jangkauan dan analisanya (baik dalam pidato maupun dalam tulisannya) sama dan serupa yaitu tajam dan mendalam penuh isi. Meski begitu, tambah Isa Anshary, Natsir lebih tepat memberikan ceramah dan kuliah dalam rapat khusus daripada berpidato dalam rapat umum (tt, 30).
Lalu, bagaimana pula dengan A.Gaffar Ismail? Ulama kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat dan lalu mukim serta wafat di Pekalongan ini, di zaman kolonial dulu pernah mendapat julukan ”Agus Salim muda”. Hal ini karena fasih lidahnya, kaya bahasanya, dan luas ilmunya (tt, 30).
Bahkan, ada yang perlu menjadi perhatian khusus kita. Isa Anshary berkesaksian bahwa dirinya belum pernah mendengar muballigh Islam yang dapat memikat para pendengar seperti A. Gaffar Ismail. Bagi Isa Anshary, ada sisi lebih dari A.Gaffar Ismail jika dibandingkan Agus Salim (tt, 30). Seperti apa perbedaan keduanya?
Agus Salim pidatonya hinggap ke otak, meminta pendengar untuk berpikir, memperkaya pengetahuan, dan memberi pengertian. Sementara, A.Gaffar Ismail pidatonya menuju ke jiwa, memberikan kesadaran batin, memperkuat ruh semangat, membawa hadirin berangkat mendekati Ilahi, taqarrub ilal Lah (tt, 30).
Pinta Kita
Berbahagialah, bagi siapa pun olah lisan dan tulisannya sama-sama baik dalam penggunaannya di dunia dakwah. Lewat dua kecakapan itu, dapat digunakan untuk berbakti pada agama. Caranya, dengan menggunakannya bagi aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar.
Jadi, kekuatan lisan dan tulisan sebisa mungkin sama-sama kita pakai untuk menyebarkan da’wah. Jadilah Isa Anshary, Natsir, A.Gaffar Ismail, atau siapa pun yang bisa kita teladani dalam hal kemampuan menggunakan lisan dan tulisan secara baik untuk dakwah.
Demikian, semoga Allah kuatkan kita. Mudah-mudahan Allah mudahkan semua kerja dakwah kita. Hanya taufik dan hidayah-Nya yang kita harapkan, aamiin. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
