Oleh Muhammad Hidayatulloh Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis 4 buku Perjalanan Jiwa
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – –
Wahai jiwa yang merindu Rasulullah ﷺ…
Bila engkau menatap langit, mencari-cari cahaya yang dikatakan Nur Muhammad,
ketahuilah — cahaya itu tidak sedang menari di antara bintang.
Ia hidup di dalam dirimu… bila engkau bersihkan hatimu dari gelapnya hawa dan rakusnya dunia.
Para sufi menyebutnya “nur awal”, cahaya pertama dari segala wujud.
Mereka memujinya dalam syair dan dzikir, dalam tangisan malam panjang dan cinta yang tak bertepi.
Namun ilmu harus bicara jujur: tidak ada hadits sahih yang menyebut bahwa Nur Muhammad adalah makhluk pertama.
Para ulama ahli hadits menimbangnya dengan nur ilmu, bukan kabut rasa.
Imam As-Suyuthi menilai riwayat “awwala ma khalaqallahu nur” lemah dan tak dapat dijadikan sandaran aqidah.
Ibn Taimiyyah berkata tegas, “Tidak ada satu pun hadits sahih yang menyatakan bahwa cahaya Nabi Muhammad adalah ciptaan pertama.”
Ibn al-Jauzi bahkan mencatat sebagian riwayatnya sebagai palsu dalam Al-Maudhu’at.
Al-Albani di masa kini, menegaskan hadits itu maudhu’ (palsu).
Maka yang benar — seperti sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan Muslim —
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena (al-qalam).”
Itulah dasar aqidah yang kokoh.
Kita tidak membangun keimanan di atas kisah yang kabur,
tapi di atas wahyu yang jelas dan hadis yang sahih.
Namun, jangan salah paham, wahai pecinta Nabi… Ketika para sufi berbicara tentang Nur Muhammad, sebagian tidak bermaksud menjadikan cahaya itu sebagai makhluk fisik,
melainkan simbol dari hidayah, cerminan akhlak, pantulan rahmat yang menyinari alam.
Imam Al-Ghazali pernah berkata:
“Cahaya kenabian adalah petunjuk yang menyinari hati, bukan cahaya yang dilihat oleh mata.”
Dan itulah makna yang selamat:
bahwa Nur Muhammad bukan sesuatu yang disembah,
melainkan kesadaran yang menyala di dada setiap mukmin — ketika ia mencintai Rasulnya, mengikuti sunnahnya, dan meneladani akhlaknya.
Maka jika ada yang berkata, “Aku telah melihat Nur Muhammad dengan mata bashirah-ku,”
katakan padanya dengan lembut: “Yang engkau lihat mungkin hanyalah pantulan cinta dan imanmu sendiri. Cahaya itu bukan di langit — tapi di hatimu.”
Karena hati yang ikhlas, hati yang dibasuh oleh dzikir, akan menjadi cermin bagi cahaya kebenaran.
Namun hati yang kotor bisa menipu pemiliknya — mengira kilau nafsu itu cahaya ilahi, padahal hanya pantulan ego yang dibungkus mistik.
Ibnu Qayyim mengingatkan:
“Setan bisa datang dalam rupa cahaya bagi orang yang terpesona dengan dirinya.” (Madarij As-Salikin)
Maka tetaplah rendah hati. Jangan cepat mengaku melihat cahaya, karena cahaya sejati tidak pernah pamer — ia bekerja dalam diam.
Nur Muhammad yang sejati bukan untuk dilihat, tapi untuk dihidupi.
Ia tampak dalam sabar seorang hamba, dalam jujurnya pedagang, dalam lembutnya guru,
dalam tangis seorang ibu yang berdoa di sepertiga malam.
Itulah nur yang diwariskan Rasulullah ﷺ, cahaya akhlak yang menyinari dunia tanpa perlu metafisika yang rumit.
Beliau sendiri telah bersabda:
“Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Dan di situlah cahaya itu hidup — bukan di atas langit, tapi di bumi tempat manusia berjuang.
Wahai pecinta Nabi,
jangan sibuk mengejar cahaya yang tak jelas,
karena cahaya yang sejati sudah ada dalam dirimu saat engkau meneladaninya.
Hidupkan shalawatmu, jaga akhlakmu, kuatkan amanahmu, dan tebarkan kasihmu.
Maka engkau akan menjadi saksi bahwa Nur Muhammad tidak perlu dicari — karena ia sudah bersemayam dalam jiwa yang tunduk, cinta, dan taat.
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)
Cahaya kenabian itu bukan untuk dibicarakan — tapi untuk diteruskan.
Bukan untuk dikagumi — tapi untuk diamalkan.
Dan siapa pun yang menyalakan nur itu dalam hidupnya,
dialah yang sesungguhnya sedang melihat Nur Muhammad — bukan dengan mata, tapi dengan iman.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
