Menolak Kehadiran Atlet Israel, Sikap Tepat!

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – “Pemerintah Indonesia Tolak Terbitkan Visa Atlet Senam Israel”. Itulah, kabar yang dalam beberapa hari terakhir ini ditunggu-tunggu masyarakat luas. Berita tentang ini, banyak media yang mengabarkannya termasuk detikNews pada Kamis 9 Oktober 2025 pukul 18:49 WIB.

Berita yang dinanti-nantikan publik? Bacalah ini: ”Tim Senam Artistik Israel akan Bertanding di Jakarta, MUI Desak Pemerintah Tegas Menolak”. Demikian judul sebuah tulisan di https://mui.or.id/ edisi 7 Oktober 2025.

Memang, masalah atlet Israel akan datang dan berlomba di Jakarta pada 19-25 Oktober 2025, sempat menjadi tema pembicaraan hangat masyarakat. Umat Islam dan terutama tokoh-tokohnya, bersuara tegas menolak rencana itu. Argumentasinya kuat, yaitu tak sesuai kontitusi RI.
Sikap masyarakat sangat bisa kita mengerti karena masalah ini terkait dengan posisi Palestina. Sejauh ini, tak henti rakyat Indonesia menunjukkan pembelaannya kepada Palestina. Ini wajar, karena Palestina telah sangat lama dijajah Israel. Bahkan, terutama sejak 7 Oktober 2023, Israel makin brutal dan melakukan praktik genocida.

Tolak dan Tolak

Sekali lagi, sempat perhatian masyarakat Indonesia tertuju kepada agenda lomba Senam Artistik itu. Sebelumnya terberitakan, bahwa acara yang akan digelar akan diikuti sekitar 500 atlet. Mereka, delegasi dari 78 negara.


Hal yang menyita perhatian masyarakat adalah berita, telah disebut di depan, atlet Israel akan turut menjadi peserta. Maka, atas hal ini, banyak pernyataaan penolakan. Selain MUI, banyak pihak yang bersuara tegas (untuk tak menyebut keras). Mareka, antara lain ada dari ormas keagamaan, unsur pimpinan MPR, anggota DPD, partai politik, dan Gubernur DKI.


Gelombang penolakan dari berbagai elemen masyarakat itu, menunjukkan bahwa masalah ini bukan semata-mata soal olahraga. Ini, menyentuh dimensi konstitusi. Tentu, di dalamnya ada aspek moral dari bangsa ini.

Menolak kehadiran atlet Israel adalah sikap wajar. Ini sebagai bagian dari cara untuk tidak memberikan legitimasi kepada negara penjajah. Sikap menolak kehadiran atlet Israel adalah ekspresi konsistensi kita kepada konstitusi.

Perhatikan, dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, di paragraf pertama, sikap kita jelas: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Pembukaan UUD 1945 adalah jiwa bangsa Indonesia. Kita harus konsisten kepada semangatnya. Kita harus teguh untuk terus menghidup-hidupkannya.

Sebaliknya, segala bentuk hubungan yang dapat dimaknai sebagai dukungan atau pengakuan terhadap negara penjajah adalah bertentangan dengan amanat konstitusi tersebut. Lihatlah, Israel hingga kini masih menjajah Palestina. Padahal, Palestina sebagai bangsa telah diakui hak kemerdekaannya oleh lebih dari 150 negara.
Indonesia selalu menempatkan diri sebagai pembela kemerdekaan bangsa-bangsa yang tertindas. Negeri ini selalu menegaskan dukungan penuh kepada Palestina. Terlebih lagi, terkait, hingga kini Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dengan demikian, sikap menolak kehadiran atlet Israel sungguh tepat. Hal ini bisa menjadi bagian dari tekanan moral yang dapat mempercepat runtuhnya ”kekuatan” Israel sebagi penjajah. Jika pada aspek ekonomi masyarakat sudah melakukan boikot untuk tak membeli produk yang langsung atau tidak langsung membantu Israel, kini di bidang olahraga masyarakat dan pemerintah sudah bersuara tegas untuk menolak kehadiran atlet Israel di Jakarta.

Konsistensi Sikap

Kala bicara Israel, kita teringat ayat yang terjemahnya ini: ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ’Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS Al-Baqarah [2]: 120).

Sungguh, selalu berkonsentrsilah untuk hanya menaati petunjuk Allah. Terkait, membiarkan atlet Israel hadir dan berlomba di Jakarta sama dengan mengikuti kemauan mereka. Maka, tinggalkanlah semua sikap yang dapat bermakna sebagai upaya membuat mereka senang.

Selalu bela-lah Palestina. Tentang ini, spirit ucapan Natsir berikut bisa ditafsiri secara luas tergantung situasi  yang sedang kita hadapi, termasuk saat kita menghadapi rencana kehadiran atlet Israel ke Indonesia. Bahwa, kata Natsir, ”Satu rupiah yang dikirimkan ke sana atas nama umat Islam yang ada di Indonesia ini efek psikologisnya, efek mentalnya, bukan main hebatnya” (https://laznasdewandakwah.or.id/campaign-story/Perjuangan-Pak-Natsir-untuk-Kemerdekaan-Palestina/1477). 

Tafsir atas kalimat Natsir di atas jika dihubungkan dengan rencana atlet Israel hadir dan berlomba di Jakarta, kurang-lebih, sebagai berikut: Bahwa, sikap Indonesia yang menolaknya adalah sangat tepat. Di dalam sikap menolak itu, bagi Israel, pasti ada tekanan moral yang kuat. Dalam bahasa Natsir, tekanan moral itu disebut ”efek psikologis” dan ”efek mental”.

Teruslah bersikap tegas kepada Israel. Teruslah mendayung, kata Natsir, agar biduk kita tak terbawa arus. Teruslah bela Palestina, sekaligus tegaslah kepada Israel. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *