Oleh: Prof. Dr. Priyono, Alumni ITB, Bandung
Dewandakwahjatim.com, Bandung – Perhitungan yang menunjukkan bahwa panjang total DNA manusia (dengan asumsi ~40 triliun sel) setara dengan sekitar 14 kali jarak rata-rata Pluto-Matahari bukanlah kebetulan yang sederhana.
Angka 14 ini dengan segera membangkitkan simbol suci dalam Islam: 7 kali Tawaf mengelilingi Ka’bah dan 7 kali Sa’i antara Shafa dan Marwah.
Ini adalah sebuah simbolisme yang sangat kuat yang menghubungkan mikrokosmos (tubuh manusia) dengan makrokosmos (tata surya).
- Tawaf 7 Keliling: Orbit Planet dan Siklus DNA
· Tawaf mengelilingi Ka’bah (pusat spiritual umat Islam) adalah simbol dari keteraturan kosmis, seperti planet-planet yang mengorbit Matahari.
· Dalam tubuh kita, DNA juga berada dalam “orbit” dan “siklus” yang sempurna. Ia berputar dan terpilin dalam bentuk heliks ganda, dan proses replikasi serta ekspresi gennya mengikuti siklus yang teratur dan terukur.
· 7 kali Tawaf bisa dimaknai sebagai 7 lapisan pengemasan DNA (dari nukleosom hingga kromosom) atau 7 fase siklus sel yang harus dilalui untuk menciptakan kehidupan baru.
- Sa’i 7 Bolak-Balik: Perjalanan Energi dan Informasi
· Sa’i antara Shafa dan Marwah adalah simbol perjuangan, dinamika, dan perpindahan untuk mencari sumber kehidupan (air zam-zam).
· Dalam sel, molekul-molekul seperti protein dan RNA melakukan “Sa’i” bolak-balik sepanjang untaian DNA untuk membaca, menyalin, dan menerjemahkan kode genetik menjadi kehidupan. Ini adalah perjalanan untuk mendapatkan “sumber kehidupan” yang sesungguhnya.
· 7 kali Sa’i dapat merepresentasikan 7 langkah dalam proses kompleks seperti replikasi DNA atau sintesis protein.
- 14 = 7 + 7: Penyatuan Langit dan Bumi dalam Diri Manusia
· Angka 14 menyatukan dua ritual tersebut. Panjang DNA yang setara dengan 14x jarak kosmik Pluto-Matahari adalah sebuah tanda bahwa manusia adalah miniatur alam semesta.
· Ka’bah di Bumi adalah poros spiritual (axis mundi) yang menjadi pusat orbit (Tawaf). Matahari di tata surya adalah poros fisik yang menjadi pusat orbit planet-planet.
· Dengan memiliki “jarak kosmik” dalam dirinya, manusia secara simbolis telah menyelesaikan “Tawaf dan Sa’i kosmik”-nya. Ini memberinya mandat dan potensi untuk tidak hanya memahami tetapi juga menjadi steward (khalifah) yang bertanggung jawab atas sistem yang jauh lebih besar – tata surya.
Narasi Kesimpulan: Manusia adalah Khalifah yang Memiliki Peta Kosmik
Panjang DNA yang setara dengan 14 kali perjalanan ke Pluto adalah lebih dari sekadar angka. Itu adalah peta kosmik yang tertanam dalam setiap sel kita. Peta ini adalah simbol bahwa:
1. Kita Terhubung dengan Kosmos: Sebagaimana Tawaf dan Sa’i menghubungkan seorang hamba dengan pusat spiritualnya, DNA kita menghubungkan kita secara fisik dengan skala dan jarak kosmik. Kita adalah anak dari bintang-bintang, dan alam semesta ada dalam diri kita.
2. Kita Ditugaskan untuk Menjaganya: Mandat sebagai khalifah tidak berhenti di Bumi. Kemampuan kita untuk suatu hari nanti memanfaatkan energi Matahari (seperti dalam ritual Sa’i mencari energi kehidupan) dan mengelola sumber daya asteroid (seperti dalam Tawaf mengelilingi pusat tata surya) adalah perwujudan dari mandat itu. Kita ditakdirkan untuk “melakukan Tawaf” di sekitar Matahari dan “melakukan Sa’i” antara planet-planet.
3. Spiritualitas dan Sains Bersatu: Penemuan sains modern ini memperkuat keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini diciptakan dengan ukuran dan keharmonisan (Al-Quran Surah Al-Qamar 54:49 – “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”). Keselarasan antara angka 14 dari ritual ibadah dan 14 dari jarak kosmik dalam tubuh kita adalah sebuah isyarat Ilahi tentang kesatuan penciptaan.
Jadi, simbolisme 7+7 ini adalah pengingat yang luar biasa bahwa manusia bukanlah makhluk yang kecil dan terpisah. Kita adalah makhluk kosmik yang dibekali dengan cetak biru ilahi untuk suatu hari nanti berkelana dan memakmurkan seluruh hamparan tata surya, dengan kebijaksanaan dan rasa hormat sebagai seorang khalifah.
PJ, 5 September 2025
Catatan:
Para ahli biologi molekuler tidak mendikte “harus ada 7 lapisan”. Mereka lebih fokus pada mendeskripsikan struktur dan prosesnya (nukleosom, serat 30nm, loop, dll.).
Jumlah “lapisan” yang disebutkan bisa bervariasi tergantung pada seberapa detail seorang penulis atau pengajar ingin membaginya.
Menyatakannya sebagai “7 lapisan” adalah cara yang valid dan berguna untuk memvisualisasikan dan mengingat hierarki kompleks dari DNA double helix hingga menjadi kromosom yang terlihat di mikroskop. Ini adalah model, dan model sering kali menyederhanakan realitas yang lebih berkelanjutan (continuum).
Dalam buku teks standar (seperti Molecular Biology of the Cell oleh Alberts et al.), proses replikasi dibahas dalam fase-fase besar: Initiation, Elongation, dan Termination.
· Elongation sendiri melibatkan banyak proses simultan: pembukaan heliks, sintesis primer, sintesis leading strand, sintesis lagging strand, proofreading, penghapusan primer, dan penyambungan fragmen Okazaki.
Seorang profesor lain mungkin mengelompokkannya menjadi 5 atau 6 “langkah” besar.
Menguraikannya menjadi “7 langkah” adalah alat mengajar (pedagogical tool) yang efektif untuk memastikan semua komponen kunci dari proses tersebut dijelaskan secara berurutan.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
