Haji; Ekspresi Cinta Hamba Allah

Oleh M. Anwar Djaelani, pengurus Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Labbaika Allahumma labbaik/ Labbaika laa syarika laka labbaik/ Innal hamda wan ni’mata laka/ wal mulka laka laa syarika lak (Yaa Allah, inilah saya datang, saya datang memenuhi panggilan-Mu/ Saya datang, tiada sekutu bagi-Mu, saya datang/ Sesungguhnya segala puji dan ni’mat hanyalah untuk-Mu/ dan segala kekuasaan hanyalah ada pada-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

Manifestasi Cinta

Paragraf pembuka di atas berisi serangkaian kalimat yang keluar dari lisan seorang hamba yang menyambut antusias panggilan dari Allah untuk berhaji ke Baitullah. Pengungkapan serangkaian kalimat itu terasa sangat bertenaga sebab didorong oleh energi iman dan taqwa seorang hamba Allah.

Sekarang, perhatikanlah, suasana di sekitar hari-hari ketika umat Islam (akan) berangkat menunaikan ibadah haji. Sebagian dari mereka, tampak lebih sering menangis lantaran terharu. Doa tulus di hari-hari sebelumnya –dan bahkan bisa bertahun-tahun sebelumnya- agar dapat menunaikan haji sudah dikabulkan Allah. Lalu, terbayang-bayang, tibalah saat-saat yang paling indah dalam kehidupan yaitu “berjumpa” dengan Allah di Baitullah sebagai tamu-Nya.

Mari cermati relasi antara proses penciptaan manusia dengan pelaksanaan ibadah haji. Pertama, di satu sisi ada ayat-ayat ini: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak” (QS Ar-Ruum [30]: 20). “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali yang bersyukur” (QS As-Sajadah [32]: 9).

Kedua, lihatlah mereka yang berangkat berhaji! Bagi mereka, berhaji itu manifestasi cinta. Para jamaah haji datang dengan suka-rela, bahkan dengan segenap rasa suka. Labbaika Allhumma labbaik: Yaa Allah, kami datang, kami datang, menemui-Mu dengan cinta.

Selanjutnya, mari rasakan relasi kedua hal di atas. Mengapa para jamaah haji datang dengan suka-rela “menemui” Allah? Sebab –seperti yang bisa dirasakan pada QS As-Sajadah [32]: 9 di atas-, maka sudah menjadi fitrah manusia untuk selalu mendekat dan menghampiri Allah, Sang Pencipta. Artinya, segala aktifitas manusia dalam usaha menghampiri Allah adalah bagian paling penting dari upaya mereka dalam menemukan kesempurnaan dirinya. Manusia akan terus mendekati kesempurnaan, jika mereka secara terus-menerus berusaha mendekati Allah.

Alhasil, mengingat Islam adalah agama fitrah maka mudah dimengerti jika kita menemui kenyataan, bahwa dengan cara apapun manusia akan berusaha melaksanakan suruhan Allah. Meskipun berat dalam pelaksanaannya –baik yang menyangkut biaya dan tenaga- mereka akan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk beribadah haji.

Bagi manusia, cinta kepada Allah membuat yang jauh terasa dekat. Cinta mengubah yang sulit menjadi mudah. Cinta menggeser yang tak enak menjadi nikmat. Cinta “menyulap” yang lemah menjadi kuat. Intinya, cinta telah menjadi sumber energi yang membuat manusia –sebagai seorang hamba Allah- berlari kencang menghampiri Sang Pencipta: Labbaika Allhumma labbaik!

Islam sempurna dan indah, termasuk dalam hal adanya kaitan haji dengan usaha memupuk rasa persatuan. Sebelumnya, Allah mendidik persatuan umat Islam lewat suruhan agar ketika shalat wajib lima waktu tiap hari sunnah berjamaah di masjid (terutama bagi laki-laki). Di titik ini, skalanya terbatas seperti –misalnya- di tingkat sebuah perumahan atau perkantoran. Kemudian, di tiap pekan umat Islam menegakkan shalat Jum’at. Di ketika ini, skala yang hadir lebih luas sedikit. Lalu, di tiap tahun umat Islam menunaikan shalat Id (Fitri dan Adha) yang skala kehadiran umat Islam kian meluas. Kemudian, inilah puncaknya, umat Islam sedunia berhimpun secara bersamaan tiap tahun untuk berhaji. Di saat itulah, skalanya bersifat internasional. Berkumpul semua “utusan” dari berbagai belahan dunia.

Di ritual haji, ada tahapan yang paling menggetarkan yaitu ketika semua jamaah haji wukuf di Arafah. Di ketika itu, jutaan umat Muhammad Saw berkumpul bersama dengan baju tak berjahit. Dalam pertemuan yang besar itu, mereka berkenalan satu sama lain dan bertambah teguhlah rasa persatuan. Kesemua itu, bermuara kepada keadaan supaya bisa mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka, baik dalam hal urusan dunia maupun akhirat.

Mari, resapilah lagi ayat ini: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS Ali ‘Imraan [3]: 97). Ayat ini adalah salah satu dasar perintah berhaji. Diwajibkan haji atas orang yang mampu, satu kali dalam seumur hidupnya.

Siapapun ingin ibadahnya diterima Allah, yang dalam hal haji disebut mabrur. Jika mabrur, kepada mereka diampuni segala dosanya dan Surga siap menanti kedatangannya. “Barang siapa mengerjakan ibadah haji tanpa mengeluarkan ucapan-ucapan kotor dan tidak berbuat kejahatan, maka dia akan kembali kepada (kesucian asli) laksana mula-mula lahir dari perut ibunya” (HR Bukhari dan Muslim).

Tentu saja, siapapun yang berhaji, ingin berpredikat mabrur. Untuk itu, ada baiknya merenungkan secara sungguh-sungguh berbagai hikmah yang bisa diambil dalam berbagai rangkaian ritual haji. Misal, saat ber-ihram, raih pelajaran dan lalu mantapkan tekad bahwa kita akan istiqomah bersikap selalu mengharamkan semua yang diharamkan Allah. Kita akan konsisten untuk hanya selalu berjalan menuju Allah. Lalu, ketika mengerjakan sa’i, dapatkan inspirasi hebat ini: Bahwa, kapanpun kita harus selalu merasa sedang lari menuju Allah di antara cemas dan harap. Kemudian, ketika melempar jumrah, ambillah semangat bahwa untuk seterusnya kita akan senantiasa memerangi setan.

Menuju Allah

Sungguh, berusahalah wahai Jamaah Haji, agar mabrur. Larilah menuju Allah dengan penuh rasa cinta dan sukarela. Berbuat baiklah kepada sesama manusia. Labbaika Allahumma labbaik. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Redaktur: Ainur Rafiq Siphiaan

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *