Artikel Terbaru ke-2.202
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok - Di dalam sejarah misi Katolik di Indonesia ada satu peristiwa besar, dimana seorang anak muslim berhasil dibujuk untuk masuk sekolah Guru Katolik dan akhirnya pindah agama menjadi Katolik. Tak hanya itu, anak muslim itu pun kemudian menjadi Uskup Pribumi pertama di Indonesia.
Sebuah situs penakatolik.com menceritakan, bahwa pada suatu ketika tahun 1909, Franciscus Georgius Josephus Van Lith SJ mendatangi beberapa sekolah di Yogyakarta. Ia mencari murid-murid untuk sekolah guru yang didirikannya di Muntilan. Salah satu sekolah yang ia datangi adalah Hollands Inlandse School di Lempuyangan.
Di sini, Van Lith berjumpa dengan Soegijapranata yang saat itu menjadi siswa di sekolah Belanda itu. “Apa kamu berminat masuk di sekolah guru di Muntilan,” demikian tanya van Lith kepada Soegija saat itu.
Pertemuan dengan Romo van Lith nyatanya berdampak besar bagi Soegija. Dalam perjumpaan itu, kesadaran Soegija “dibuka” oleh Romo van Lith. Saat itu, rakyat pribumi Hindia Belanda ditandai oleh tiga ciri: (1) petani yang miskin; (2) kesehatan rakyat yang sangat menyedihkan dan (3) buta huruf yang mengakibatkan ketidakmampuan masyarakat untuk memperluas horizon penglihatannya tentang permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.
Situasi ini dipengaruhi oleh sistem feodalisme dan penjajahan di Indonesia ketika itu. Romo van Lith berusaha mengajak Soegija untuk memiliki kepedulian pada pendidikan rakyat pribumi dan mengajaknya untuk menyiapkan diri menjadi pendidik.
“Apa kamu tidak peduli pada situasi orang-orang Jawa itu, mereka menantikanmu untuk membawa mereka masa depan yang lebih terdidik,” ujar Romo van Lith kepada Soegija.
Ajakan itu rasanya membekas di hari Soegija. Tidak butuh waktu lama, ia pun bersedia mengikuti Romo van Lith untuk bergabung di Sekolah Guru Xaverius di daerah Muntilan, 30 kilometer barat laut Yogyakarta. Soegija berangkat ke Muntilan meski awalnya kedua orang tuanya khawatir bahwa Soegija akan menjadi seperti anak Eropa, mereka merestui.
Sekolah guru yang didirikan van Lith pada tahun 1904 itu adalah sekolah tingkat guru bantu yang dapat mengajar di sekolah negeri tingkat dua dan sekolah rakyat latihan. Pada tahun 1906 sekolah ini ditambah dengan sekolah guru yang lulusannya berhak menjadi kepala sekolah negeri tingkat I. Tahun berikutnya, 1907, dibukanya pula Hollands Inlandse Kweekschool (HIK).
Disebutkan, bahwa Soegija tidak butuh waktu lama untuk menjadi Katolik. Soegija dibaptis pada 24 Desember 1910. Ia mengambil nama baptis Albertus, terinspirasi nama St. Albertus Magnus. (Lebih lanjut, silakan disimak: https://penakatolik.com/2024/07/23/awalnya-ingin-menjadi-dokter-soegijapranata-berubah-haluan-saat-berjumpa-dengan-romo-van-lith/).
Itulah kisah seorang anak muslim Soegija yang berhasil dibujuk untuk masuk sekolah guru Katolik, dan kemudian murtad dari agama Islam. Dalam pandangan Islam, tentu saja kehilangan iman merupakan musibah dan kecelakaan terbesar. Sebab, orang yang murtad dari agama Islam, amalnya tidak akan diterima oleh Allah. Amalnya laksana fatamorgana. (QS An-Nur: 39, al-Baqarah: 217).
Hanya saja, kisah Soegija itu patut pula kita pandang dalam perspektif pendidikan. Di zaman itu, sekolah guru begitu bergengsi, sehingga seorang anak muslim yang cerdas seperti Soegija tertarik untuk belajar di situ.
Bisa dipahami, di zaman itu, pendidikan guru merupakan pendidikan yang bergengsi. Anak-anak pilihan saja yang bisa memasuki pendidikan guru. Guru memiliki status sosial yang sangat dihormati. Karena itulah, banyak pesantren dan sekolah Islam mendirikan Kulliyatul Mu’allimin (Sekolah Guru), yang disebut sebagai Kweekschool.
Misalnya, tahun 1918, KH Ahmad Dahlan mendirikan Sekolah Guru Muhammadiyah. Tahun 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa dengan jenjang pendidikan tertingginya adalah Taman Pamong (Taman Guru). Guru adalah orang yang bisa “ngemong” (murabbi). Banyak lagi sekolah guru yang didirikan oleh ulama-ulama dan tokoh-tokoh Islam.
Dalam perspektif pendidikan guru, kita patut prihatin, bahwa saat ini pendidikan guru termasuk yang kurang diminati oleh para pelajar yang pintar-pintar. Banyak pesantren dan sekolah Islam yang tidak memberikan ucapan selamat secara besar-besaran jika para lulusannya melanjutkan kuliah untuk menjadi guru agama atau guru-guru lainnya. Tidak sedikit Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang kesulitan mencari mahasiswa.
Kondisi semacam ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Jika yang menjadi guru bukan anak-anak yang terbaik, maka berat untuk berharap masa depan bangsa kita akan semakin cerah! Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 27 April 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Redaktur: Ainur Rafiq Sophiaan
Editor: Sudono Syueb
