PERLU SERIUS MENDIDIK ANAK-ANAK AGAR CINTA NABI


Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok – Rasulullah saw bersabda: “Tidak seorang pun di antara kalian beriman (dengan iman yang sempurna) sampai aku (Nabi Muhammad) lebih dicintainya daripada anaknya, orangtuanya, dan seluruh umat manusia”. (HR Bukhari).


Kata-kata Rasulullah saw itu sangat tegas dan jelas. Maknanya, para murid, santri, atau mahasiswa harus dididik serius agar mereka memiliki kecintaan yang tinggi kepada Rasulullah saw. Logisnya, orang tua atau lembaga pendidikan harus menyiapkan guru atau buku-buku yang dapat menumbuhkan kecintaan yang kuat kepada Nabi saw.


Dalam berbagai kunjungan ke sekolah, saya mendapati, banyak sekolah yang belum menyiapkan guru-guru khusus yang ahli tentang Sirah Nabawiyah atau juga menyiapkan buku-buku ajar yang berkualitas tinggi. Padahal, pada saat yang sama, para pelajar di sekolah harus mempelajari banyak hal tentang berbagai pengetahuan yang bermasalah.


Nabi Muhammad saw adalah satu-satunya manusia yang namanya tidak berhenti disebut selama 24 jam. Seluruh dunia, di mana saja, umat Islam setiap hari senantiasa melantunkan doa untuk Rasulullah saw. Beliau juga satu-satunya manusia yang ucapan, tindakan, dan diamnya menjadi contoh kehidupan.
Beliau pun memiliki prestasi peradaban yang mengagumkan dan tidak bisa dilampaui oleh manusia mana pun. Rasulullah berhasil mewariskan satu generasi terbaik yang menjaga ajaran-ajaran Nabi serta menyampaikan kepada umat manusia di seluruh dunia. Nabi saw adalah pemimpin perang dan kepala negara yang sangat hebat. Beliau guru terbaik, pedagang terbaik, dan suami terbaik.


Di Pesantren At-Taqwa Depok, misalnya, pelajaran Sirah Nabawiyah diberikan selama 12 semester, untuk para santri tingkat SMP-SMA. Para santri harus memahami dengan cukup mendalam kehidupan, perjuangan, dan akhlak Rasulullah saw. Bahkan, untuk Khulafaur Rasyidin, para santri harus mempelajarinya selama empat semester.


Rugi sekali jika pera pelajar tidak memahami dengan baik kehidupan, perjuangan, dan keteladanan mereka. Sebab, mereka adalah manusia-manusia terbaik (khairun nas) yang dididik langsung oleh guru terbaik, yaitu Rasulullah saw. Ini pelajaran wajib dan harus dimasukkan ke dalam kurikulum inti pendidikan.
Karena itulah, pelajaran Sirah Nabawiyah ini harus diajar oleh guru-guru yang hebat; yang ikhlas, sungguh-sungguh, dan bersemangat dalam mengajarkan ilmunya. Tujuannya untuk menanamkan kekaguman dan kecintaan kepada mereka. Selanjutnya, para santri atau pelajar pun tergerak untuk menjadikan mereka sebagai idola atau teladan setelah Rasulullah saw.
Maka, aneh sekali, jika ada yang menganggap pelajaran Sirah Nabawiyah ini tidak lebih penting dengan pelajaran IPS atau Matematika. Seharusnya tidak seperti itu. Ilmu itu derajatnya. Tidaklah semua ilmu sama derajatnya. Cinta kepada Nabi adalah wajib. Maka, mengajarkan ilmu-ilmu yang membawa kepada kecintaan kepada Nabi, menjadi wajib juga.


Kita berharap, akan semakin banyak lembaga pendidikan Islam, yang menjadikan mata pelajaran Sirah Nabawiyah sebagai pelajaran wajib. Guru-guru dan bahan ajar yang bagus wajib pula disiapkan.


Tujuan pembelajaran Sirah Nabawiyah yang utama adalah menjadikan sosok Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan yang sangat dicintai oleh anak-anak muslim. Jangan sampai mereka memiliki pandangan bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia biasa -saja sebagaimana manusia lainnya. Nabi Muhammad saw harus menjadi idola utama bagi anak-anak muslim.
Ini juga merupakan cara yang baik untuk pendidikan akhlak mulia. Kunci sukses utama dalam pendidikan akhlak adalah adanya teladan yang sempurna atau yang terbaik akhlaknya. Rasulullah saw adalah manusia paling jujur, paling pemberani, paling adil, paling bijak, dan sebagainya.


Disamping guru-guru yang hebat, lembaga pendidikan Islam perlu sangat serius menyiapkan buku-buku ajar yang memiliki muatan dan bahasa yang baik. Di beberapa sekolah, alhamdulillah, sudah ada yang menggunakan buku-buku karya guru sekolah itu sendiri dalam pembelajaran Sirah Nabawiyah.
Tapi, ada sedikit yang perlu ditingkatkan kualitasnya. Masih kita temukan penggunaan bahasa yang kurang pas untuk anak-anak. Beberapa istilah yang digunakan susah dipahami anak-anak. Ada juga kalimat-kalimat yang tidak menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Ini termasuk perkara adab dalam bahasa.
Tapi, bagaimana pun, perkembangan pelajaran Sirah Nabawiyah di lembaga pendidikan Islam cukup memadai. Ini patut disyukuri. Selanjutnya bisa diperbaiki secara terus-menerus. InsyaAllah, akan banyak anak-anak yang terbuka mata hatinya untuk lebih mencintai Rasulullah saw. Amin. (Depok, 29 Januari 2025).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *