Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Saat ini sedang banyak dibicarakan karekteristik “generasi strawberry” atau “generasi stroberi”. Sayangnya, gambaran tentang generasi ini sedang tidak baik-baik saja. Generasi ini sering dikaitkan dengan ketahanan mental yang cenderung rendah dan mudah terpengaruh oleh berbagai situasi.
Situs https://hellosehat.com menjelaskan, generasi strawberry merujuk pada generasi muda, terutama anak-anak remaja yang dianggap mudah terpengaruh, sensitif, serta kurang tangguh menghadapi tekanan dan tantangan. Istilah ini berasal dari analogi buah stroberi yang mudah rusak, lembut, dan sensitif terhadap tekanan dari luar. Generasi stroberi juga sering dianggap tidak memiliki ketahanan mental yang kuat dan sulit menghadapi tantangan kehidupan.
Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari generasi stroberi, yaitu:
(1) Rentan terhadap stres: Generasi strawberry cenderung rentan terhadap stres dan tekanan emosional. Mereka mungkin mudah cemas berlebihan, merasa kewalahan, dan sulit menghadapi situasi yang menantang.
(2) Kurangnya ketahanan mental: Ciri-ciri generasi stroberi lainnya adalah ketahanan mental yang rendah. Pasalnya, mereka mungkin sulit menghadapi kegagalan, memiliki tingkat motivasi yang rendah, dan mudah putus asa.
(3) Sensitif terhadap kritik: Mengingat ketahanan mental generasi ini cukup rendah, mereka juga akan lebih sensitif terhadap kritik dan pendapat orang lain. Orang-orang dalam generasi stroberi mungkin lebih mudah tersinggung oleh komentar orang lain.
(4) Ketergantungan pada teknologi: Generasi strawberry juga sering kali sangat tergantung pada teknologi dan media sosial. Mereka mungkin menghabiskan banyak waktu di depan layar, kurang berinteraksi secara langsung, dan rentan terhadap dampak negatif dari penggunaan teknologiyang berlebihan.
Gambaran tentang ciri-ciri generasi stroberi itu belum tentu memenuhi standar penelitian ilmiah. Tapi, tidak dipungkiri akan banyaknya generasi stroberi yang memiliki ciri-ciri seperti disebutkan di atas. Secara umum, mereka digambarkan sebagai generasi yang memiliki ketahanan mental yang rendah, tidak tahan banting, dan labil dalam bersikap.
Bagaimana sikap kita? Kita jawab, bahwa ciri-ciri generasi stroberi seperti itu merupakan produk dari proses pendidikan yang mereka terima. Yakni, pendidikan yang membuat mereka lemah dan manja, karena kurangnya ilmu yang benar dan tempaan latihan mengatasi masalah-masalah kehidupan.
Manusia atau Bani Adam ini secara jiwa raga sama saja sejak dahulu kala. Kualitas mereka ditentukan oleh pendidikannya. Para sahabat Nabi disebut sebagai “manusia-manusia terbaik” (khairun naas), karena pendidikan yang mereka terima merupakan pendidikan terbaik. Gurunya terbaik. Kurikulumnya terbaik pula.
Mereka bukan hanya memiliki akhlak yang sangat mulia, tetapi juga memiliki ilmu yang benar dan tinggi, sehingga mereka paham akan makna dan tujuan kehidupan. Karena itu, mereka tidak mudah stres. Bahkan, menghadapi ujian hidup yang berat pun mereka siap. Lihatlah orang-orang Palestina yang memiliki daya tahan begitu tinggi dalam menghadapi ujian yang berat.
Karena itu, jika ingin melahirkan yang unggul, maka pola pendidikan yang digunakan pun harus benar dan tepat, sesuai dengan kondisi setiap murid. Model pendidikan untuk melahirkan manusia unggul itu sudah diberikan konsep dan contohnya oleh Utusan Allah yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Beliau diutus untuk menyepurnakan akhlak. Beliau bahkan menjadi contoh, sebagai manusia terbaik.
Jadi, umat manusia, dan khususnya umat Islam, sangat merugi jika menggunakan konsep pendidikan lain, selain konsep pendidikan Rasulullah saw. Bisa saja – dengan konsep pendidikan lain – akan meraih sukses dalam bidang tertentu. Tapi, ia tidak akan menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).
Apalagi, jika ia menjadi manusia durhaka pada Tuhan, meskipun kaya dan berkuasa, serta kecantikannya dipuja dimana-mana. Karena lupa Tuhan, pasti ia akan hidup dalam pusaran syahwat yang tidak akan menuntunnya menuju puncak kebahagiaan hidup, yaitu sa’adah.
Sudah amat sangat banyak contoh manusia yang bergelimang harta, tahta, dan popularitas, tapi berujung kepada narkoba dan derita jiwa. Bahkan tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya sendiri karena mengalami alienasi (keterasingan diri). Ia merasa hidupnya tiada guna, sehingga memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Ada juga yang mencari ketenangan jiwa dengan meninggalkan harta, tahta, dan keluarga. Ia memilih menjadi pertapa di belantara. Ia menyangka, itulah hidup bahagia. Tak mau lagi berurusan dengan harta, tahta, dan wanita.
Dua model ekstrim itu bukanlah jalan hidup yang dicontohan oleh Sang Nabi. Beliau adalah raja sebenarnya dan bisa saja hidup bergelimang harta. Tapi, harta dan tahta ada dalam genggaman tangannya. Beliau gunakan harta dan tahta untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan bahagia.
Selama manusia tetap manusia, maka resep pendidikan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw tetap tapat dan akurat. Dari konsep pendidikan Nabi itu tidak akan lahir generasi yang lembek dan melempem, semacam generasi stroberi. Pendidikan Nabi terbukti melahirkan manusia-manusia perkasa dan beradab jiwa raga.
Dengan pendidikan Nabi, insyaAllah, akan lahir “generasi durian”, yang tahan banting mesti dipukul-pukul dan dibanting-banting! Bukan “generasi stroberi” yang sekali pencet, mlenyet! Semoga Allah melindungi generasi muda kita dari pendidikan yang salah dan pongah. Amin. (Depok, 6 November 2024).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: ARS & SS
