Artikel Terbaru ke-2.016
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id) Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok - Pada 10 Oktober 2024, situs republika.co.id menulis berita berjudul: “UMJ Dirikan Program Magister Islamic Jerusalem Studies.” Disebutkan, bahwa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) membuka konsentrasi baru pada Program Studi (Prodi) Magister Ilmu Politik, yakni Jurusan Studi Baitul Makdis atau Islamic Jerusalem Studies.
Program tersebut merupakan hasil kerja sama antara kampus yang berlokasi di Jalan KH Ahmad Dahlan, Cireundeu, Kota Tangerang Selatan, itu dan Al-Isra Institute yang berpusat di Edinburgh, Britania Raya.
Menurut Rektor UMJ Prof Ma’mun Murod Al Barbasy, adanya Islamic Jerusalem Studies turut memperkuat jurusan-jurusan lainnya yang sudah ada di Magister Ilmu Politik (MIPOL), Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP). Pihaknya juga berterima kasih kepada Prof Abd al-Fattah al-Awaisi sebagai guru besar ilmu hubungan internasional dan juga anggota Royal Historical Society (RHS) Britania Raya.
Sosok kelahiran Palestina itu telah membidani lahirnya program magister dan doktoral Islamic Jerusalem Studies di beberapa kampus di Inggris dan Turki. Adapun jurusan yang terdapat di UMJ ini menjadi program magister Islamic Jerusalem Studies yang pertama di Asia tenggara.
“Saya sangat mengapresiasi saudara jauh, Prof Dr Abd al-Fattah al-Awaisi yang datang untuk bekerja sama dengan UMJ dan menambah konsentrasi di Prodi MIPOL. Indonesia dan Muhammadiyah punya perhatian yang sama terhadap situasi dan kondisi Baitul Makdis,” ujar Prof Ma’mun Murod dalam siaran pers yang diterima Republika, Kamis (10/10/2024).
Ia menambahkan, bangsa Indonesia menaruh kepedulian yang besar terhadap situasi rakyat Palestina, termasuk yang bertempat di Baitul Makdis. Terlebih lagi, RI adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sementara, hingga saat ini Masjid al-Aqsha masih berada dalam gangguan kaum zionis Israel.
Menurut Ma’mun, kepedulian terhadap kondisi Palestina semestinya tidak berhenti pada ungkapan keprihatinan, tetapi perlu juga bergerak menjalin kerja sama dan aktivitas-aktivitas yang lainnya. Sebagai contoh, Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) baru-baru ini menggelar aksi solidaritas untuk Palestina di seluruh Indonesia.
“Tentu ini bentuk salah satu saja, masih banyak yang dilakukan oleh Muhammadiyah, termasuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Palestina. Ini sudah dilakukan beberapa kali oleh LazisMu dan juga yang lainnya,” sebutnya.
Prof Abd al-Fattah al-Awaisi mengapresiasi berdirinya Program Studi Islamic Jerusalem Studies di UMJ. Menurutnya, salah satu keunikan prodi ini adalah pengetahuan tentang Baitul Makdis tidak hanya untuk ranah akademisi, tetapi juga upaya mendorong perubahan dan pembebasan tanah suci ketiga umat Islam itu.
Ketua Prodi MIPOL Lusi Andriyani mengatakan, kerja sama ini berkenaan dengan perkembangan akademik, seperti penelitian di Yerusalem atau Baitul Makdis. Begitu pula dengan pertukaran mahasiswa atau staf akademik. Menurut dia, tidak banyak organisasi seperti al-Isra Institute yang mengkaji dan melakukan riset tentang tanah suci tersebut.
“Oleh karena itu, Magister Ilmu Politik FISIP UMJ bekerja sama dengan ISRA melalui peminatan Politik Internasional. Peminatan tersebut memiliki fokus terhadap isu di Timur Tengah dan Yerusalem,” katanya.
Pekan sebelumnya, Prof Abd al-Fattah al-Awaisi membersamai Saladin Camp, yang diselenggarakan Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) di Yogyakarta pada 23-29 September 2024. Itu merupakan pertemuan dan dialog interaktif yang dibingkai dalam suasana perkemahan. Lebih dari 100 pengusaha, aktivis, dan akademisi Muhammadiyah turut hadir. Dalam kesempatan ini, mereka pun belajar tentang Baitul Makdis. (https://khazanah.republika.co.id/berita/sl4dyh458/umj-dirikan-magister-islamic-jerusalem-studies-pertama-di-asia-tenggara).
Kita patut menyambut gembira lahirnya Program Magister Islamic Jerusalem Studies di UMJ. Program ini memiliki makna strategis bagi perjuangan umat Islam sedunia dalam upaya membebaskan Baitul Bakdis dari cengkeraman penjajahan kaum Zionis Yahudi. Ini juga sejalan dengan konstitusi Indonesia yang anti penjajahan.
Tak hanya itu, Indonesia juga telah memelopori perjuangan pembebasan Baitul Makdis dan kemerdekaan Palestina, dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Hingga kini, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang sangat aktif dalam membantu perjuangan rakyat Palestina.
Hanya saja, umat Islam perlu terus-menerus melakukan evaluasi tentang kebelumberhasilan perjuangan pembebasan Palestina. Apakah ada yang salah dengan jalan perjuangan yang selama ini dilakukan, atau adakah sesuatu yang kurang tepat dalam perjuangannya. Berjuang melawan penjajahan Zionis Israel memerlukan tekad, semangat, ilmu dan hikmah.
Inilah pentingnya keberadaan Program Studi tingkat S2 yang mengkaji secara mendalam persoalan Palestina. Berjuang wajib dilandasi dengan niat ikhlas, ilmu yang benar, dan langkah-langkah yang sistematis dan sungguh-sungguh.
Kita ucapkan terimakasih kepada UMJ yang berani mengambil langkah yang mungkin dianggap kurang produktif oleh sebagian akademisi. Semoga Program Studi ini melahirkan para pejuang-pejuang intelektual dan amaliah yang memiliki semangat tinggi dalam pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis Yahudi. Amin. (Depok, 10-10-2024).
Admin: Kominfo DDII Jatim
SS
