“Generasi Yahya” Kuat Hadapi Maksiat Bertahunbaruan

Oleh M. Anwar Djaelani,
Ketua Bidang Pemikiran Islam DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Tak sedikit orangtua yang gundah di sekitar pergantian tahun baru Masehi. Hal ini, karena di balik kebiasaan hura-hura acara bertahunbaruan ada ancaman di tiga aspek sekaligus: Aqidah, syariat, dan akhlak.

Awas, Tercemar!

Pertama, di sisi aqidah. Bahwa, perayaan Tahun Baru Masehi tergolong sebagai rangkaian kegiatan Hari Raya orang-orang kafir yang tidak boleh diikuti umat Islam.

Perhatikanlah! “Selain pengagungan terhadap Dewa Janus (Tuhan agama Romawi Kuno) dan Yesus, dalam perayaan tahun baru umat Islam mengamalkan ritual tiga agama kafir sekaligus. Nasrani menggunakan lonceng untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah. Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah. Majusi menggunakan api untuk memanggil jama’ahnya ketika beribadah” (https://suaraislam.id 31/12/2020).

Adakah bunyi lonceng di Tahun Baru? Kemudian, adakah terompet di Tahun Baru? Lalu, adakah api di Tahun Baru? Tentang itu semua, perhatikanlah gema lonceng, pekik terompet, dan kilau kembang api di banyak tempat selama ini.

Tahun Baru Masehi adalah Hari Besar. Di dalam kitab Iqtidha’u ash-Shiraati al-Mustaqim Mukhaalifatu Ashhaabi al-Jahiim, Ibnu Taimiyah mengutip Umar bin Khaththab Ra–Sahabat Nabi Muhammad Saw-yang berkata: ”Janganlah kalian memasuki tempat-tempat ibadah kaum musyrik saat peringatan hari besar mereka. Sesungguhnya kemurkaan Allah sedang turun atas mereka”. Bahkan, lebih tegas lagi, Umar bin Khaththab Ra mengingatkan: ”Jauhilah musuh-musuh Allah di saat (peringatan) hari besar agama mereka” (Husaini, 2005: 11).

Bisa Menyerupai!

Kedua, dari sisi syariat. Bahwa, ikut merayakan Tahun Baru Masehi bisa menjadi salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, sebuah perilaku yang dilarang Rasulullah Saw. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian mereka” (HR Ahmad dan Abu Daud). “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR Tirmidzi).

Mengapa dilarang tasyabbuh? Sebab, menurut Ibnu Taimiyah di Majmu’ Al-Fatawa-nya, “Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (www.rumaysho.com akses 26/12/2019.

Tergelincir Boros

Ketiga, dari sudut akhlak. Bahwa, ikut merayakan Tahun Baru Masehi tergolong sebagai melakukan perbuatan yang sia-sia karena tidak mendatangkan kemanfaatan.

Kecuali sia-sia, aktivitas itu kerap membutuhkan biaya yang tak sedikit. Tinggalkan sikap boros! Perhatikanlah, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS Al-Israa’ [17]: 27).

Anak, Kuatkan!

Sungguh sayang jika masih ada umat Islam, terutama remaja, yang terlibat dalam aktivitas yang jauh dari ridha Allah. Lalu, apa langkah yang tepat? Kuatkan mereka! Caranya?

Orangtua berkewajiban mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Anak-anak harus diantarkan menjadi generasi yang terpuji. Untuk itu, baca dan pelajarilah QS Maryam [19]: 12-15. Dari ayat-ayat itu didapat kriteria anak yang baik dan itu melekat di diri Yahya, putra Nabi Zakaria As.

Mari cermati QS Maryam [19]: 12-15. Di ayat 12, kita dapatkan: “Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak”. Pada ayat ini, Yahya As diminta mempelajari Kitab Taurat, mengamalkan isinya dan menyampaikan kepada umatnya. Pada ayat tersebut, disebutkan pula bahwa Yahya As telah diberi hikmah sejak kanak-kanak, yaitu berupa pemahaman Taurat dan pendalaman agama. Lewat ayat tersebut, sifat baik pertama yang perlu dipunyai seorang anak adalah hikmah.

Di ayat ke-13, kita dapati: “Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertaqwa”. Dari ayat ini, terdapat sifat baik yang kedua yang harus dimiliki anak yaitu lembut perangainya alias mempunyai rasa belas-kasihan kepada orang lain. Sekaligus, lewat ayat ke-13 in, diterangkan sifat yang ketiga, yaitu kuat menjaga kesucian. Sementara, sifat keempat, yaitu bertaqwa.

Pada ayat ke-14, kita peroleh: “Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”. Dari ayat ini, sifat kelima yang harus dimiliki anak adalah berbakti kepada kedua orangtua. Pun, lewat ayat ke-14 ini, disebutkan sifat yang keenam yaitu tidak sombong dan durhaka.

Sekarang, mari lebih perdalam pemahaman kita lewat telaah Prof. Dr. Hamka atas QS Maryam [19]: 12-15. Berikut ini intisarinya, seperti yang bisa kita baca di Tafsir Al-Azhar. Bahwa kepada Yahya As, diminta untuk berpegang teguh kepada ajaran dari Kitab Taurat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa As. Jangan diubah isinya, tapi laksanakanlah isinya. Ikuti dengan setia apa-apa yang menjadi perintah Allah di dalamnya dan tinggalkan apa-apa yang dilarang-Nya.

Di ayat ke-12, terbaca bahwa sejak kanak-kanak Yahya sudah punya hikmah. Hikmah adalah perkataan tegas sedemikian rupa terbedakan antara yang haq dengan yang bathil. Hamka-di Tafsir Al-Azhar-mengutip sebuah riwayat bahwa pada suatu hari, kawan sesama kanak-kanak mengajak Yahya bermain. Maka, inilah jawaban Yahya: “Bukan untuk bermain-main saya dijadikan Tuhan”.

Dari ayat 13, Yahya tumbuh-kembang di bawah asuhan sang ayah–Nabi Zakaria As-dan sang ibu. Mereka, keluarga yang sakinah, yang penuh dengan nikmat ruhani. Yahya tumbuh sehat–jasmani dan ruhani-, suka berbuat baik, serta memberi berkah bagi masyarakat di sekitarnya. Tak ada catatan tercela atas tabiat yang dimilikinya.

Atas landasan ketaqwaannya, Yahya tak pernah berbuat sesuatu yang dibenci Allah. Dia tidak keras kepala. Sebaliknya, dia tekun beribadah meski masih berusia sangat muda. Pendek kata, di diri Yahya ada ciri paling menonjol dari seorang yang bertaqwa yaitu ahli ibadah dan berbakti kepada orangtua.

Orangtua manapun akan bahagia jika mendapati si anak bersikap hormat, sayang, dan patuh kepada mereka. Keadaan seperti ini penting digarisbawahi, karena di banyak keluarga, sering bukan yang seperti itu yang terjadi. Lihatlah, misalnya, kisah Nabi Khidir As saat berjalan bersama Musa As dan lalu mereka bertemu dengan seorang anak kecil.
Apa yang dilakukan Nabi Khidir As? Oleh Nabi Khidir As anak kecil itu dibunuh, sebuah sikap yang membuat Nabi Musa As tercengang penuh rasa heran.

“Mengapa engkau lakukan,” tanya Musa As.

“Adapun anak kecil itu, kedua ibu-bapanya adalah orang yang beriman. Tetapi kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua ibu-bapanya itu kepada kesesatan dan kekafiran,” terang Nabi Khidir As.

Catatan selanjutnya, Yahya As tidak sombong dan tidak menonjolkan diri. Sebagai Nabi dia diutus menjadi pemimpin umat manusia. Pemimpin sejati itu haruslah tidak sombong. Sebaliknya, dia harus rendah hati, lemah-lembut, memperhatikan kesusahan orang lain dan menunjukkan mana jalan yang benar. Intinya, pemimpin itu tidak bermaksiat dan mendurhakai Allah.

Saat syarat-syarat sebagai anak yang baik telah semua terpenuhi seperti yang dipaparkan di atas, maka inilah apresiasi tertinggi dari Allah yang diterima Yahya As: “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” (QS Maryam [19]: 15).

Pada ayat ke-15 tersebut, dikatakan bahwa kesejahteraan melingkupi atas diri Yahya As pada hari dia dilahirkan dan pada hari dia meninggal serta pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.
Perhatikanlah! Yahya lahir di sebuah keluarga yang mulia dan oleh karena itu dia mendapatkan kesejahteraan. Kelak, Yahya As menemui kematian karena teguh memegang agama Allah meski untuk itu nyawa dia menjadi taruhannya.

Benar, Yahya As meninggal dalam posisi tetap teguh menegakkan syariat Allah. Beliau wafat karena dibunuh penguasa zalim–ketika itu-yang mengingini Yahya As mengubah syariat agama yang dirasakan menghalangi kelakuan bathilnya.

Sungguh, mulia-lah Yahya As dan sejahtera-lah Yahya As dalam keseluruhan perjalanan hidupnya. Dalam tafsirnya, Hamka menutup begini: Yahya akan bangkit kelak dari kehidupan Alam Kubur ke dalam Alam Akhirat dengan selamat sejahtera, karena hidupnya yang mulia, suci, bersih, taqwa, hormat kepada kedua ibu-bapanya dan mati dalam keadaan syahid karena berpegang kepada ajaran Allah.

Jalan Selamat

Semoga, pertama, Allah membimbing dan menguatkan para orangtua sehingga mereka bisa mendidik anak-anaknya sedemikian rupa berkualifikasi seperti Yahya As. Kedua, Allah memberi anak-anak kita kekuatan agar mereka mampu meneladani Yahya As yang disayang dan disejahterakan Allah serta mendatangkan kesejukan jiwa bagi orangtuanya.

Terakhir, lewat terpenuhinya dua harapan itu semoga Allah lapangkan jalan kita menyelamatkan anak-anak kita. Mereka selamat, termasuk dari godaan maksiat bertahunbaruan karena telah menjadi “Generasi Yahya” yang kuat. (SS/Humas DDII Jatim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *