Al ‘Aajizu: Si Lemah yang Hidup dalam Angan-Angan

Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ.

Orang yang cerdas adalah orang yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang jiwanya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Di dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ membedakan dua jenis manusia: alkayyis dan al-‘aajiz.

Al-kayyis adalah pribadi yang memiliki visi hidup. Ia tahu bahwa kehidupan ini hanya perjalanan singkat menuju kampung akhirat, sehingga setiap langkahnya dipenuhi dengan kesadaran dan persiapan. Ia tidak mudah tergoda oleh kenikmatan sesaat, karena hatinya tertambat pada kebahagiaan yang lebih abadi.

Sebaliknya, al-‘aajiz adalah sosok yang rapuh. Ia membiarkan dirinya terseret oleh arus hawa nafsu, tanpa pernah berpikir ke mana akhirnya akan berlabuh. Hidupnya penuh dengan angan-angan kosong, berharap kebaikan tanpa mau berusaha. Ia merasa cukup dengan sekadar memiliki niat baik, namun tak pernah menjadikannya tindakan nyata.

Lemahnya Bukan pada Fisik, tetapi pada Jiwa

Kelemahan yang dimaksud dalam hadits ini bukanlah kelemahan tubuh, melainkan kelemahan jiwa. Seorang hamba yang kehilangan semangat spiritualnya akan kehilangan arah hidup. Ia menjadi seperti perahu tanpa kemudi, hanyut terbawa arus kehidupan tanpa tujuan yang jelas.

Padahal, seorang muslim seharusnya memiliki prinsip dan pendirian. Ia tahu bahwa hidup ini bukan sekadar menikmati dunia, melainkan ladang amal untuk akhirat. Ia tidak membiarkan waktu berlalu sia-sia, melainkan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Al-kayyis selalu berusaha mencari cara untuk memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, meskipun dengan keterbatasan yang ada.

Sebaliknya, al-‘aajiz justru hidup dalam keterlenaan. Ia membiarkan hawa nafsunya mengendalikan dirinya, tanpa ada upaya untuk menahan atau mengarahkannya ke jalan yang benar. Ia mungkin tampak sukses di mata manusia, tetapi jiwanya kosong, penuh kegelisahan dan kerapuhan.

إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُوا۟ بِٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَٱطْمَأَنُّوا۟ بِهَا وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنْ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ ۝ أُو۟لَٰئِكَ مَأْوَىٰهُمُ ٱلنَّارُ بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, yang rela dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengannya, serta orang-orang yang lalai terhadap ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya adalah neraka, karena apa yang telah mereka lakukan.” (QS. Yunus: 7-8)

Bukan Sekadar Berharap, tetapi Berbuat

Seorang mukmin sejati tidak hanya bersandar pada harapan kosong. Ia memahami bahwa iman bukanlah angan-angan belaka, tetapi harus diwujudkan dalam amal nyata. Ia tidak sekadar berharap surga, tetapi berjuang untuk mencapainya. Ia tidak hanya bermimpi menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi berusaha untuk berubah.

Sebaliknya, al-‘aajiz hanya membiarkan hidupnya berlalu tanpa makna. Ia merasa puas dengan ibadah yang ala kadarnya, merasa cukup dengan kebaikan yang seadanya. Ia mengira Allah akan selalu menolongnya tanpa ada usaha dari dirinya sendiri. Padahal, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Menjadi Muslim yang Cerdas dan Visioner

Seorang mukmin yang sejati adalah manajer bagi dirinya sendiri. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, melainkan belajar dari masa lalunya. Ia mampu mengelola hawa nafsunya, menundukkan egonya, dan mengarahkan dirinya menuju kebaikan.

Ia tidak mudah tergoda oleh kesenangan duniawi yang menipu. Ia memahami bahwa kehidupan ini bukan sekadar tentang memiliki, tetapi tentang memberi. Ia tidak akan membiarkan dirinya terbuai dalam kemalasan dan angan-angan kosong, tetapi terus mencari jalan untuk bermanfaat bagi sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)

Maka, pilihlah jalan kehidupan yang benar. Jangan biarkan diri ini menjadi al-‘aajiz—pribadi yang lemah, yang hanya mengikuti hawa nafsu dan hidup dalam angan-angan. Jadilah al-kayyis—pribadi yang cerdas, penuh semangat, dan memiliki visi hidup yang jelas.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang kayyis, yang selalu berusaha dan beramal, bukan hanya berangan-angan. Aamiin.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *