Artikel ke-1.776
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok,, – Dalam bukunya, Risalah untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001: 202-203), Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menggambarkan perkembangan falsafah Barat yang telah membuang Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Akibatnya, mereka menempatkan manusia sebagai Tuhan yang merasa berhak mengatur alam dan dirinya sendiri, tanpa campur tangan siapa pun.
Diuraikan dalam Risalah untuk Kaum Muslimin: “Perkembangan falsafah Barat berarak lancar mengikut perkembangan sainsnya yang mensekularkan semua. Insan semakin dipandang dari segi keutamaan kemanusiaannya dan kepribadiannya dan kebebasan serta kemerdekaannya sebagai diri haiwani. Jikalau dahulu dia telah menghapuskan pupus para dewata di alam purba dengan serangan akal hayawani sehingga alam itu jadi benda biasa bagi tindakannya leluasa, maka kini dengan bantuan falsafah dan sains sekular dia harus pula mendesakkan diri merebut kebebasan serta kemerdekaannya sekalipun dari Tuhan Sarwa Alam, agar dapat dia benar-benar bebas bertindak terhadap alam yang menghadapinya.”
Al-Quran menggambarkan manusia-manusia yang berinteraksi dengan alam (ayat-ayat Allah), tetapi tidak sampai mengenal Tuhan yang sesungguhnya, maka mereka itu laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat dari pada binatang ternak itu sendiri. (QS al-A’raf:179). Juga disebutkan: “Orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan sebagaimana makannya binatang-binatang, dan neraka adalah tempat mereka.” (QS Muhammad:12).
Orang mukmin juga makan-makan dan bersenang-senang menikmati makanan serta kesenangan hidup lainnya. Tetapi, orang mukmin tidak menjadikan makan dan segala kenikmatan duniawi sebagai tujuan hidup dan kenikmatan tertinggi, sebab mereka memiliki tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yaitu mengenal dan beribadah kepada Allah. Itulah kebahagiaan yang sejati. Zikir kepada Allah adalah menentramkan jiwa.
Betapa banyak manusia tertipu dengan kenikmatan duniawi. Ia menyangka akan bahagia saat mereguk segala syahwat dunia. Ternyata kesenangan dunia itu menipunya. (QS Ali Imran: 185). Lihatlah, betapa banyak manusia tersohor dan bergelimang harta serta kebebasan, akhirnya hidup dalam keresahan dan berujung kepada obat-obatan terlarang bahkan berakhir dengan bunuh diri. Karena itulah, kita diingatkan, agar jangan terkecoh dan terpedaya oleh kebebasan yang dinikmati oleh orang-orang kafir di dunia ini.
“Janganlah kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir di negeri(nya). Itu kesenangan yang sedikit, kemudian tempat mereka adalah Jahannam. Alangkah buruknya tempat itu!” (QS Ali Imran:196-197).
Banyak manusia terkecoh oleh kenikmatan duniawi sehingga melupakan kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Pada hakikatnya, itulah kesuksesan setan dalam menghiasi hal-hal maksiat dan kejahatan, sehingga tampak indah dan menawan di mata manusia. “Iblis berkata: Ya Tuhanku, karena Engkau telah sesatkan aku, maka pasti akan aku jadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS al-Hijr:39).
Tantangan godaan setan kini terasa semakin menguat. Berbagai tawaran setan untuk memuja syahwat dan mengikut paham-paham sesat pun akan menjadi menu kehidupan setiap saat. Hanya saja, Allah pun memberikan senjata kepada kita untuk membentengi diri dari tipu daya setan. “Sesungguhnya setan itu tidak berkuasa atas orang-orang mukmin dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai wali (pemimpin, pelindung), dan orang-orang musyrik.” (QS An-Nahl:99-100).
Dalam institusi pendidikan, untuk membentengi para murid dari paham-paham yang merusak iman dan akhlak, perlu diberikan kurikulum yang integral dalam pendidikan Tauhid. Para murid bukan hanya diajar tentang Rukun Iman dan Keutamaan Ibadah serta akhlak mulia, tetapi juga perlu diajar “ilmu tentang setan” dan “paham-paham yang merusak iman dan akhlak”.
Misalnya, pelajaran tentang konsep keilmuan Barat yang sekular. Dampak ilmu sekular ini sangat serius, karena membuang dimensi ukhrawi. Kemajuan dan kesuksesan dipandang hanya sebatas aspek materi dan hanya sukses di dunia ini saja.
Akibatnya, banyak yang memiliki pemahaman menjadi “guru ngaji” atau “dai” sebagai aktivitas rendahan, karena penghasilannya kecil. Mereka tidak dimasukkan ke dalam golongan “VIP”. Padahal, manusia yang paling mulia adalah yang paling takwa. Yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya.
Semoga kita semua SELAMAT dari paham-paham yang mengajak untuk melupakan Tuhan dan menjerumuskan manusia ke derajat kehinaan. Amin. (Depok, 17 Januari 2024).
Admin: Kominfo DDII Jatim/ss
