PANDEMI COVID-19 BERAKHIR,APAKAH KITA PAHAM DAN MAU BERSYUKUR

ARtikel ke-1.522
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Ketua Umim Dewan Da’wah

Dewandakwahjatim.com, Depok - Media kompas.com (5/5/2023) melaporkan, bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memutuskan situasi penularan Covid-19 bukan lagi sebagai kedaruratan kesehatan global (PHEIC). Meski demikian, kewaspadaan masih diperlukan. 

Pencabutan status tersebut juga diharapkan tidak mengurangi perhatian Pemerintah Indonesia dalam mengendalikan Covid-19. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Geneva, Swiss, Jumat (5/5/2023) waktu setempat, mengatakan, pandemi Covid-19 menunjukkan tren penurunan, baik pada kasus baru maupun kasus kematian.
Tekanan pada sistem kesehatan pun berkurang. Selain itu, kekebalan komunitas atas penularan Covid-19 juga meningkat di tingkat global. Hal itu membuat sebagian besar negara dapat hidup seperti sebelum pandemi Covid-19 terjadi.


”Oleh karena itu, dengan harapan besar, saya menyatakan Covid-19 berakhir sebagai darurat kesehatan global. Namun, itu tidak berarti Covid-19 berakhir sebagai ancaman kesehatan global,” tuturnya.


Tentu saja, pengumuman resmi WHO itu patut kita syukuri. Cara mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menggunakan segala macam nikmat itu, sesuai dengan tujuan diberikannya nikmat itu. Semua nikmat akan kita pertanggungjawabkan di akhirat. Allah sudah mengingatkan: “Tsumma latus-alunna yaumaidzin ‘anin na’iim”. (Sungguh, pada hari kiamat nanti, kamu akan ditanya tentang segala nikmat (yang telah diberikan Allah).


Kita bisa mensyukuri nikmat berakhirnya pandemi covid-19, jika kita memahami bahwa pandemi itu datang dari Allah. Virus tidak datang kepada kita dengan kehendaknya sendiri. Virus itu tak punya kehendak. Tapi, Allah yang mengirimkan virus itu kepada manusia.
Tentu ada tujuannya, Allah mengirimkan virus kepada kita. Bagi orang mukmin, pandemi itu bisa merupakan satu ujian, satu teguran, atau satu hukuman. Yang pasti, tujuan diturunkannya semua musibah atau ujian, adalah agar manusia semakin menyadari tujuan penciptaannya; agar manusia semakin taat beribadah; semakin semangat dalam mendekatkan diri kepada Allah.


Inilah worldview Islam dalam memandang satu realitas bernama virus dan pandemi yang disebabkannya. Karena itu, kita jangan sampai lupa diri, memanfaatkan nikmat kesehatan dan kebebasan ini untuk hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT.
Kita masih ingat, tatkala PPKM diberlakukan, dan pemerintah mengumumkan akan menutup atau membatasi ibadah berjamaah di masjid, maka muncul respon keras dari berbagai kalangan umat Islam. Ada yang menuduh covid-19 ini adalah rekayasa untuk melemahkan umat Islam. Sampai-sampai ada yang menolak untuk membuat jarak shaf, karena dianggap itu cara shalat mazhab WHO.
Dalam sebuah dialog dengan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, saya mengusulkan agar sektor ibadah dimasukkan sebagai salah satu sektor esensial, bersama sejumlah sektor lainnya. Ibadah dan berdoa di masjid jangan dianggap sebagai pusat penyebaran virus, tetapi shalat dan doa adalah salah satu upaya penting dalam menanggulangi pandemi Covid-19. Justru, masyarakat harus tetap digalakkan untuk beribadah di masjid, dengan protokol kesehatan tertentu.


Di masa pandemi, banyak ulama dan tokoh Islam yang terserang penyakit covid-19 dan kemudian wafat. Semoga mereka semua diberikan tempat yang mulia di sisi-Nya. Kita yang ditinggalkan masih diberi kesempatan untuk melakukan perbaikan diri. Inilah bentuk syukur kepada Allah SWT. Yakni, dengan mengoptimalkan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk beribadah.


Jika saat pandemi kita marah-marah kepada pihak yang mau menutup atau membatasi ibadah di masjid, maka sepatutnya, setelah pandemi berakhir, masjid-masjid kita menjadi semakin makmur. Jangan sampai, setelah pandemi berkahir, masjid kita juga sepi, sama seperti kondisi di masa pendemi.
Allah sudah berikan kesempatan kita untuk belajar dari musibah yang begitu panjang dan massal. Selama tiga tahun kita hidup dalam suasana pandemi. Seumur hidup saya, belum pernah mengalami ujian wabah penyakit semasal dan sepanjang pandemi Covid-19.


Jika memang ada yang meraup keuntungan materi selama pandemi, kita doakan semoga rejekinya berkah. Jika ada yang memanfaatkan penderitaan masyarakat, demi keuntungan pribadinya, maka balasannya, kita serahkan kepada Allah. Kita yakin, rejeki tidak tertukar. Apa yang dijatah oleh Allah untuk kita, tidak akan tertukar!


Sebagai perwujudkan syukur atas bebasnya pandemi, sepatutnya kita mengoptimalkan peran masjid sebagai tempat pendidikan yang hakiki, yakni tempat untuk mendidik anak-anak secara lebih optimal. Jadikan masjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan. Jangan pisahkan masjid dan pendidikan. Patut diupayakan, jam pelajaran pertama sekolah Islam adalah shalat berjamaah subuh di masjid, beserta doa dan dzikirnya.


Jangan sampai anak-anak menganggap bahwa shalat dan ibadah lain di masjid bukanlah bagian dari proses pendidikan. Bahwa pendidikan itu hanya terkait dengan sekolah atau kuliah formal di lembaga pendidikan formal. Tidak seperti itu sebaiknya.
Rasulullah saw menjadikan semua tempat dan semua waktu sebagai bagian dari proses pendidikan. Apalagi, masjid adalah tempat terbaik untuk ibadah, pendidikan, dan juga dakwah Islam. Apalagi, di era disrupsi, berbagai infomasi dan ilmu pengetahuan sangat melimpah di internet.


Yang perlu disiapkan oleh masjid-masjid yang akan dijadikan sebagai pusat pendidikan, adalah guru-guru yang hebat, yang memang bertempat di lingkungan masjid tersebut. Karena itu, takmir masjid perlu mengalokasikan sebagian dananya untuk program kaderisasi ulama, seperti yang selama belasan tahun sudah dilaksanakan oleh Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dan banyak ormas atau pesantren lainnya.
Inilah diantara bentuk perwujudan rasa syukur atas berakhirnya pandemi covid-19. Kita memohon kasih sayang Allah, semoga setelah pendemi covid-19, tidak datang lagi pandemi lainnya. Karena itu, kita patut berjuang dan berdoa, semoga pemikiran dan kelakuan kita tidak mengundang azab Allah SWT. (***). (Bogor, 5 Mei 2023).

Admin: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *