Oleh: Nofa Miftahudin, Alumni Pesantren Ar-Roudhatul llmiyah, Kertosono
Dewandakwahjatim.com, Malang – Belakangan ini, dunia diramaikan dengan isu penyadapan. Percakapan telepon, pesan pribadi, aktivitas digital, hingga komunikasi pejabat negara menjadi perhatian. Teknologi penyadapan semakin canggih. Seseorang bisa merasa sedang berbicara secara pribadi, padahal percakapannya mungkin diketahui pihak lain.
Pernahkah kita menyangka, ada satu hal yang jauh lebih menggetarkan daripada seluruh teknologi penyadapan buatan manusia. Sesuatu yang tidak membutuhkan mikrofon, kamera tersembunyi, jaringan internet, ataupun perangkat elektronik. Ia selalu melekat pada diri kita, mengikuti ke mana pun kita pergi, dan bekerja tanpa perlu kita aktifkan.
Itulah anggota tubuh manusia. Al-Qur’an telah mengabarkan bahwa pada hari kiamat, anggota tubuh manusia akan memberikan kesaksian atas segala perbuatan yang pernah dilakukan pemiliknya. Bahkan, ketika manusia berusaha mengingkari dosa-dosanya, anggota tubuhnya sendiri justru berbicara mengungkapkan kebenaran.
Ada enam anggota tubuh yang patut kita renungkan sebagai enam alat sadap yang tidak pernah kita duga yaitu lidah, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan kulit.
- LIDAH MEREKAM SETIAP PERKATAAN
Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 24:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya:
“Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Lidah yang selama hidup digunakan untuk berbicara kelak menjadi saksi atas pemiliknya. Perhatikan betapa banyak dosa yang bermula dari lisan. Kebohongan, fitnah, ghibah, adu domba, tuduhan tanpa bukti, penghinaan, hingga kesaksian palsu. Ada orang yang pandai menyusun kata-kata untuk menutupi kesalahan. Di hadapan manusia ia bisa berdalih, bahkan memutarbalikkan fakta. Akan tetapi, di hadapan Allah, lidah yang dahulu digunakan untuk berdusta tidak akan selamanya menjadi alat pembelaan.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir ketika menjelaskan QS. An-Nur: 24, disebutkan bahwa lidah, tangan, dan kaki akan menjadi saksi atas perbuatan manusia. Ayat ini juga memberikan peringatan khusus kepada orang-orang yang melakukan tuduhan keji terhadap perempuan-perempuan mukmin yang menjaga kehormatannya.
Mari saudaraku, sebelum berbicara, pikirkanlah. apakah perkataan ini kelak menjadi saksi yang membela kita atau justru memberatkan kita?
- TANGAN MEREKAM SETIAP TINDAKAN
Masih dalam QS. An-Nur ayat 24, Allah menyebutkan:
وَأَيْدِيهِمْ
“Dan tangan-tangan mereka.”
Allah juga berfirman dalam QS. Yasin ayat 65:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami.”
Bayangkan sebuah persidangan di hadapan Allah. Mulut manusia ditutup. Tidak ada lagi kesempatan untuk berbohong, berdalih, ataupun memanipulasi fakta maupun data. Tiba-tiba tangan yang selama ini digunakan untuk melakukan berbagai perbuatan justru berbicara. Tangan yang pernah digunakan untuk mengambil hak orang lain, menerima suap, menulis fitnah, menyebarkan berita bohong, melakukan kezaliman, atau menyakiti orang lain akan memberikan kesaksian.
Sebaliknya, tangan yang digunakan untuk bersedekah, menolong sesama, menulis ilmu, dan melakukan kebaikan juga berada dalam catatan amal manusia.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir pada QS. Yasin: 65, dijelaskan bahwa Allah menutup mulut orang-orang yang mengingkari perbuatannya, kemudian tangan mereka berbicara dan kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang telah mereka kerjakan.
Sungguh, tangan yang selama ini kita anggap sebagai milik kita ternyata kelak dapat menjadi saksi atas diri kita sendiri.
- KAKI MEREKAM SETIAP LANGKAH
Allah berfirman dalam QS. Yasin ayat 65:
وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Kaki bukan sekadar alat untuk berpindah tempat. Dalam kehidupan, kaki membawa manusia menuju berbagai tujuan. Ada kaki yang melangkah menuju masjid, majelis ilmu, rumah orang miskin, dan tempat-tempat kebaikan. Namun, ada pula kaki yang melangkah menuju tempat maksiat, tempat kemungkaran, dan lokasi untuk melakukan kezaliman.
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa kaki memberikan kesaksian atas apa yang dahulu diusahakan dan dikerjakan manusia.
Oleh karena itu jangan hanya memperhatikan ke mana kendaraan kita membawa perjalanan. Perhatikan pula ke mana kaki kita melangkah. Sebab, setiap langkah memiliki konsekuensi. Jangan sampai langkah yang hari ini terasa ringan justru menjadi penyesalan yang sangat berat di akhirat.
- PENDENGARAN MEREKAM SEGALA YANG DIDENGAR
Allah berfirman dalam QS. Fussilat ayat 20:
حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya:
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.”
Perhatikan kata سَمْعُهُمْ (pendengaran mereka). Telinga yang selama ini kita gunakan untuk mendengarkan berbagai suara ternyata akan memberikan kesaksian. Apa saja yang pernah kita dengarkan? Nasihat kebaikan atau perkataan keburukan? Bacaan Al-Qur’an atau perkataan yang mengundang kemaksiatan? Ilmu yang bermanfaat atau pembicaraan yang merusak hati?
Tentu, mendengar suatu keburukan tidak selalu berarti seseorang berdosa. Ada keadaan ketika seseorang tidak sengaja mendengarnya atau tidak mampu menghindarinya. Namun, kesengajaan mencari, menikmati, dan mengikuti keburukan merupakan perkara yang harus diwaspadai.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir atas QS. Fussilat: 20, dijelaskan bahwa pendengaran, penglihatan, dan kulit akan bersaksi atas berbagai amal yang pernah dilakukan manusia. Tidak ada satu pun yang dapat disembunyikan dari kesaksian tersebut.
Hendaknya berhati-hatilah dengan apa yang kita masukkan melalui telinga. Jangan sampai sesuatu yang dahulu kita nikmati justru menjadi kesaksian yang memberatkan kita.
- PENGLIHATAN MEREKAM SEGALA YANG DILIHAT
Masih dalam QS. Fussilat ayat 20, Allah menyebutkan:
وَأَبْصَارُهُمْ
“Dan penglihatan mereka.”
Mata adalah nikmat Allah yang sangat besar. Dengannya kita dapat membaca Al-Qur’an, melihat keindahan ciptaan Allah, mencari ilmu, dan memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya. Namun, mata juga dapat menjadi pintu masuk berbagai kemaksiatan. Memandang sesuatu yang diharamkan, menikmati aurat yang bukan haknya, mengintai kehormatan orang lain, dan mencari-cari kesalahan sesama.
Berapa banyak manusia yang merasa aman ketika melihat sesuatu secara sembunyi-sembunyi? Ia mengira tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang sedang dilihatnya. Padahal, penglihatan itu sendiri kelak menjadi saksi.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-Isra’ ayat 36:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Ini adalah peringatan yang sangat jelas. Bukan hanya apa yang kita lakukan dengan tangan dan kaki, tetapi apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, dan apa yang kita pikirkan juga harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan Allah.
- KULIT MEREKAM RAHASIA YANG TERSEMBUNYI
Inilah bagian yang paling menggetarkan.
Allah berfirman dalam QS. Fussilat ayat 20:
وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Kemudian Allah melanjutkan dalam ayat 21:
وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab, ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara telah menjadikan kami dapat berbicara.'”
Bayangkan dialog yang sangat mengerikan itu. Manusia bertanya kepada kulitnya sendiri, mengapa engkau memberikan kesaksian yang memberatkan diriku?. Kulit itu menjawab bahwa Allah-lah yang telah menjadikannya mampu berbicara.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Allah Mahakuasa menjadikan anggota tubuh berbicara sebagaimana Dia menjadikan segala sesuatu dapat berbicara. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini juga menjelaskan bahwa anggota tubuh tersebut benar-benar memberikan kesaksian dengan izin Allah.
Di sinilah kita memahami bahwa tidak ada tempat persembunyian dari pengetahuan dan kekuasaan Allah. Bahkan, ketika seseorang melakukan kemaksiatan di tempat tertutup, tanpa diketahui keluarga, sahabat, maupun masyarakat, kulitnya tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Mungkin manusia bisa menghapus rekaman kamera. Mungkin percakapan bisa dihapus dari telepon genggam. Namun, tidak ada satu pun teknologi manusia yang mampu menghapus kesaksian yang Allah kehendaki pada hari kiamat.
Enam anggota tubuh ini memberikan pelajaran yang sangat besar bagi kehidupan seorang mukmin. Lidah yang kita gunakan untuk berbicara, tangan yang kita gunakan untuk bekerja, kaki yang membawa kita bepergian, telinga yang mendengar, mata yang melihat, dan kulit yang menyelimuti tubuh kita, semuanya berada dalam kekuasaan Allah.
Selama hidup, anggota tubuh itu kita gunakan seolah-olah sepenuhnya berada dalam kendali kita. Padahal, kelak Allah berkuasa menjadikannya saksi atas segala perbuatan kita.
Karena itu, ketakwaan bukan sekadar penampilan lahiriah. Bukan pula sekadar kesalehan yang diperlihatkan di hadapan manusia. Ketakwaan sejati juga terlihat ketika seseorang tetap menjaga dirinya meskipun tidak ada manusia yang mengawasi.
Inilah yang disebut muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mengawasi segala sesuatu.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 4:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Semoga Allah menjaga lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota tubuh kita agar kelak menjadi saksi yang membela, bukan memberatkan kita di hadapan-Nya.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Admin: Kominfo DDII Jatim
Uploader: SudonoS
