Tercenung pada Kisah ”Mangga dan Rebung”

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 15 judul lainnya

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Mangga, rebung, dan Hamka. Adakah hubungan dari ketiganya itu? Ada, meski berupa hubungan tak langsung. Seperti apa?

Andai Tua

Bermula dari kisah ringan berikut ini. Kisah ini dikirim teman di sebuah grup percakapan. Kita ikuti, seperti berikut ini, dengan editing seperlunya. Judulnya, ”Mangga dan Sayur Rebung”.

Suatu hari Ali bertamu kepada Budi, kawan lamanya yang tinggal di desa. Oleh karena lama tidak berjumpa, bertamunya cukup lama. Mereka larut dalam perbincangan yang hangat, mulai pagi hingga siang.

Budi lalu meminta istrinya untuk menyiapkan makan siang. Menu utamanya, masakan khas desa itu yakni sayur rebung. Plus, buah mangga yang tua dan masak.
”Mangga ini manis sekali,” kata Ali.
”Ya, karena sudah masak dan tua,” respons Budi.
”Ini sayur apa? Lezat rasanya. Sebelumnya, saya tak mengenalnya.,” kata Ali meminta penjelasan.
“Itu, sayur rebung,” jawab Budi.
“Rebung itu apa,” tanya Ali lagi.
“Bambu muda,” jawab Budi.
”Saat muda saja enak, apa lagi yang tua,” simpul Ali.

Berbeda Pola

Boleh jadi, semua yang membaca akan tergelak (minimal tersenyum) saat membaca kalimat Ali di baris terakhir pada kisah di atas. Betapa tidak! Ali rupanya tidak tahu apa itu rebung. Dia pikir, rebung seperti buah mangga yang semakin tua akan semakin matang dan manis.

Apa rebung? Rebung adalah tunas muda tanaman bambu yang tumbuh dari dalam tanah dan biasanya dipanen saat masih lunak. Bahan makanan ini banyak digunakan dalam masakan Asia, seperti sayur lodeh, gulai, tumisan, dan lumpia.

Rebung memiliki tekstur renyah serta rasa khas yang sedikit pahit. Rasa tersebut dapat berkurang setelah rebung dibersihkan dan direbus dengan benar. Rebung juga mengandung serat, sehingga dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang (https://www.halodoc.com/ 11 September 2026).

Sekali lagi, rebung adalah tunas muda tanaman bambu. Artinya, pada saatnya nanti, rebung akan tumbuh menjadi bambu. Jika begitu, siapa yang berani makan bambu? Di sinilah persoalannya: Saat rebung menjadi tua, berbeda keadaannya dengan mangga tua.

Ada Pesan

Apa pelajaran dari kisah di atas? Bahwa, hendaknya kita jangan mengambil kesimpulan sebelum menguasai masalahnya. Kita jangan membuat keputusan sebelum jelas duduk persoalannya.

Terkait, perhatikan ayat ini: ”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya” (QS Israa’ [17]: 36).

Bagaimana tafsir atas ayat di atas? Mari buka telaah Hamka di Tafsir Al-Azhar. Hamka memulai, bahwa ayat ini termasuk sendi akhlak muslim. Kita dilarang Allah ”menurut” saja, dengan tidak menyelidiki sebab dan musabab suatu hal.

Intinya, jangan katakan ”aku lihat” padahal engkau tidak melihatnya. Jangan katakan ”aku dengar” padahal engkau tak pernah mendengarnya. Jangan katakan ”saya tahu” padahal engkau tidak tahu (2003: 4058).

Bagaimana pula telaah Ibnu Katsir terhadap ayat di atas? Intinya, Allah melarang mengatakan sesuatu tanpa pengetahuan. Bahkan, Allah melarang pula mengatakan sesuatu berdasarkan dugaan yang bersumber dari sangkaan dan ilusi.

Pelajaran Kuat

Senada dengan QS Israa’ [17]: 36, ada QS Shad [38]: 21-25 yang di dalamnya ada pesan: Jangan ambil sikap sebelum jelas duduk persoalannya. Misalnya, jangan putuskan suatu masalah dari dua orang yang berselisih, sebelum kesaksian dari keduanya diambil.

Terkait, menarik tulisan Allahuyarham Yunahar Ilyas yang berjudul Kisah Daud dan Dua Orang yang Berperkara. Sumbernya, https://web.suaramuhammadiyah.id/ 23 September 2019. Berikut ini ringkasannya.

Daud As seorang Raja dan Nabi. Dia sediakan waktu khusus untuk kerajaannya. Dia sediakan pula waktu khusus untuk beribadah, di mihrabnya.

Pada suatu hari, seperti yang bisa kita cermati di QS Shad [38]: 21-25, kebijakan Daud dalam memutuskan perkara diuji. Kala itu, Daud menyendiri di tempat ibadahnya. Tidak seorang pun diizinkan masuk.

Tiba-tiba Daud dikagetkan dengan kedatangan dua orang. Keduanya berhasil meyakinkan Daud, bahwa mereka berdua tidak bermaksud jahat. Mereka hanya ingin mengadukan perkara dan minta Raja Daud menyelesaikannya.

Salah seorang lalu bilang: Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan”.

Tanpa meminta penjelasan dari orang yang satunya, Daud langsung memutuskan bahwa yang punya 99 ekor kambing betina itu telah berbuat zalim. Beliau berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya.”

Harusnya, agar dapat membuat keputusan yang adil, seorang hakim mendengarkan kedua belah pihak terlebih dahulu. Barangkali yang punya 99 ekor kambing betina itu punya alasan sendiri kenapa dia meminta kambing saudaranya yang satu ekor itu untuk digabungkan kepada kambingnya yang sudah berjumlah 99 ekor itu.

Tak lama, Daud menyadari kekeliruannya. Daud segera memohon ampun kepada Allah dan Allah mengampuninya. Daud sadar bahwa dia sedang diuji oleh Allah.

Mengapa Daud segera sadar bahwa dia sedang diuji Allah? Kata Yunahar Ilyas, dalam ayat tidak ada penjelasan tetapi ada mufassir yang mengatakan bahwa setelah Daud memutuskan perkaranya, tiba-tiba dua orang yang berperkara itu menghilang. Melihat dua orang itu hilang begitu saja, sadarlah dia. Bahwa, dua orang itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah untuk menguji dan memberikan pelajaran kepadanya agar selalu mendengar dua pihak yang berperkara sebelum membuat keputusan.

Selanjutnya, Yunahar Ilyas mengutip Sayyid Quthub dalam tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an. Bahwa, perkara yang diajukan salah seorang yang berperkara itu sudah terang. Secara naluri, siapa pun akan memutuskan bahwa itu adalah perbuatan zalim. Namun demikian, seorang hakim tidak boleh memutuskan dengan terburu-buru. Dia harus meminta keterangan juga dari pihak sebelah, barangkali dia punya alasan yang bisa dibenarkan. Hal itu tidak dilakukan Daud. Sampai kemudian kedua orang yang berperkara itu menghilang, barulah Daud sadar bahwa dia sedang diuji dan diberi pelajaran oleh Allah.

Asa Kita

Kembali kepada kisah Mangga dan Rebung. Itu kisah ringan, fiksi, tapi punya pesan yang baik: Sekali-kali, jangan ambil kesimpulan sebelum tahu keseluruhan masalahnya.

Dari kisah Daud As, juga ada pelajaran yang kuat. Di kisah nonfiksi itu, senantiasa ingatlah tentang ini: Sekali-kali, jangan ambil keputusan sebelum para pihak dimintai keterangan.

Hamka telah memberikan kajian atas QS Israa’ [17]: 36. Yunahar Ilyas sudah menyampaikan kajian terhadap QS Shad [38]: 21-25. Kedua kajian itu, bisa dikatakan saling melengkapi.

Semoga, lewat uraian di atas, pikiran kita terbimbing. Mudah-mudahan, jiwa kita terbina. Untuk seterusnya, kita berharap, dari semua yang kita baca, lihat, dan dengar bisa mendatangkan pelajaran. []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Uploader: Sudono S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *